Ekonomi Yang Tak Lagi Ekonomis
June 05, 2015![]() |
| source |
Salah
satu hal yang paling patut disesali adalah naiknya tarif kereta api ekonomi.
Sebagai anak kos yang juga ekonomis, pulang dengan menggunakan kereta api
ekonomi adalah pilihan yang membahagiakan. Bayangkan, dengan lima puluh ribu
rupiah saya sudah bisa sampai ke Surabaya! Kalau di Surabaya sendiri lima puluh
ribu adalah harga yang harus dibayar untuk duduk selama tiga jam di bioskop
XXI.
Tapi itu
dulu, sebelum tarif kereta api ekonomi naik menjadi seratus ribu.
Kereta
kelas ekonomi sebenarnya menawarkan pengalaman yang cukup menarik (menarik?). Saya
menyadari jika penumpang di kelas ekonomi sebagian besar adalah
keluarga-keluarga baru atau anak-anak muda yang berpergian bersama. Oleh sebab
itulah, keadaan di dalam kereta ekonomi selalu gaduh. Suara tangisan bayi
berpadu dengan teriakan para balita. Tak jarang segerombolan anak muda bercanda
dan tertawa-tawa, memekakkan telinga penumpang satu gerbong. Dengan demikian
maka kereta api ekonomi bukanlah tempat yang tepat bagi mereka yang mencari
ketenangan di sepanjang perjalanan.
Naik
kereta api ekonomi harus sabar. Di setiap persimpangan rel, kereta diharuskan
berhenti untuk menunggu kereta api dengan kelas yang lebih superior lewat
terlebih dahulu. Ini, menurut saya memuakkan. Tapi walau bagaimana pun kamu
tidak bisa banyak menuntut karena toh memang kamu cuma bayar segitu. Kamu harus ikhlas dipisahkan ke dalam kelas-kelas kasta,
setidaknya sampai jalur selatan kereta api dibangun double
track.
Tapi
memang harus diakui sih, pelayanan kereta api sekarang sudah jauh lebih bagus. Stasiun
dan gerbong kereta bersih dari pedagang-pedagang asongan. Selepas kenaikan tarif,
kereta api selalu diusahakan untuk tiba tepat waktu. Calo dimusnahkan. Keamanan
diperketat. Seluruh kereta api kelas ekonomi bahkan sudah dibuat ber-AC. Meskipun
tak jarang bau gerbong tidak karuan akibat bau keringat penumpang dan
makanan-makanan yang dibawanya bercampur menjadi satu..

0 komentar