Katamu mencinta haruslah sesuai dengan standar
Layaknya takaran air dalam sereal outmeal yang kusantap tiap pagi
Atau seperti banyaknya gula dalam seduhan teh chamomile favoritku
Tapi masalahnya, siapa pula yang tentukan standar itu?
Jangan sok tahu, sergahku
Kalau ada orang yang paling sok tahu, jelas itu kamu
Jikalau standar cinta layaknya takaran air dalam sereal, jelas ia sudah kuobok-obok tiap pagi
Apa pula standar cinta layaknya gula dalam teh chamomile, jelas-jelas teh infusion lebih enak dinikmati tanpa gula
Layaknya takaran air dalam sereal outmeal yang kusantap tiap pagi
Atau seperti banyaknya gula dalam seduhan teh chamomile favoritku
Tapi masalahnya, siapa pula yang tentukan standar itu?
Jangan sok tahu, sergahku
Kalau ada orang yang paling sok tahu, jelas itu kamu
Jikalau standar cinta layaknya takaran air dalam sereal, jelas ia sudah kuobok-obok tiap pagi
Apa pula standar cinta layaknya gula dalam teh chamomile, jelas-jelas teh infusion lebih enak dinikmati tanpa gula
In my humble opinion, the word "beauty" can be very
much intimidating. Which is why some people feel scared to enter a "beauty
shop", or a "beauty salon". Some even feel shy to pick up a
product from the "beauty care" rack. That's because
"beautiful" has been so much manipulated into a general view of
having: long hair, fair skin, either skinny or body like a coke bottle, pointy
nose, unchubby cheeks, no double chin, unhairy legs, stretchmarks-free, big
round eyes, long eyelashes, thick eyebrows, long legs, and so on and so on. So
if we don't own these features, we feel like we don't belong in the beauty
industry, or even a beauty shop.
These features are nice to see and nice to have, but if we
are lacking one or two or many, it doesn't make a woman less beautiful. For me,
"beautiful" is when you have good thoughts inside your mind, a good
heart, good intentions, speak elegantly, passionate about life, dream big,
smile a lot, take care of yourself by eating good food and exercising, take
care of your family and friends, remain humble, help others, full of love and
compassion. Because our physical features change over time, but our inner self
will remain forever. Invest our time and energy in building your inside, and
you will become the real definition of "beautiful". If people still
call you ugly, then they just don't get it.
Reblogged from Diana Rikasari
Setelah
dua kali melewatkan kesempatan untuk menyaksikan The Look Of Silence, akhirnya
pagi ini keinginan saya keturutan. Di hari terakhir Festival Film Dokumenter
(FFD) 2014, The Look Of Silence kembali diputar di IFI LIP Yogyakarta.
Sebelumnya, film dokumenter karya Joshua Oppenheimer ini telah diputar pada
pembukaan FFD 2014 (10/12) di Taman Budaya Yogyakarta dan di Fakultas Ilmu
Budaya UGM (12/12). Kedua pemutaran tersebut mendapatkan sambutan yang sangat
meriah. Salah seorang teman yang menyaksikan The Look Of Silence di FIB mengaku
bahwa malam itu ruang auditorium bahkan tidak mampu menampung penonton. Sementara
itu, pemutaran yang dilangsungkan di TBY turut dihadiri langsung oleh Adi
Rukun, tokoh sentral dalam film itu. Oleh sebab itu, pagi ini saya sengaja
datang lebih awal agar mendapatkan posisi tempat duduk yang strategis. Pukul
09.15 saya telah sampai di IFI, barulah pukul 10.00 tepat, penonton
dipersilahkan memenuhi ruang pemutaran film.
Semalam aku bermimpi melihat kepalaku tersulut api
Tanganku panik mengipas rambut yang berasap
Bau helai-helai rambut yang terbakar membuat mataku pedih
Rambutku! Rambutku! aku melonjak kesana kemari, kebingungan
Kepalaku dilalap api pekikku
Sementara orang-orang lain hanya mampu menertawakan ketidakberuntunganku
Betapa gemarnya orang-orang menganggap kesialan orang lain sebagai bahan tertawaan
Kau pikir lucu, dasar bodoh!
Lalu dalam mimpi itu aku berlari menuju danau
Kubenamkan kepalaku dalam airnya yang bening
Tiga empat detik
Kuangkat kembali kepalaku, sambil terengah aku melihat pantulan wajah dan kepalaku yang berasap
"It's okay, ini cuma mimpi" kata aku yang ada dalam permukaan air danau.
Facing tears, empty self, sleepless night, pain and miserable mood
Never been this way vivid
Never been this way vivid
but I know I will survive.
My
very first reaction when I knew Diana Rikasari will write a book is … sure, I
was genuinely happy!
Well,
Diana adalah seorang fashion blogger pertama yang berhasil membuat saya kagum.
Pada awalnya, dengan sinis, saya berpendapat bahwa fashion blogger itu tak
lebih dari seseorang yang hobi memamerkan pakaian dan fashion item yang ia
miliki. Namun setelah saya membaca-baca blogpost Diana secara lebih dalam, I
fell in love with her, especially with her thoughts about the imperfection of life
and how she manage to be a truly happy person. Post yang paling saya sukai dari
Diana terangkum dalam label “thought”, saking sukanya, beberapa quote favorit saya
tulis tangan ke dalam happiness journal saya.
Mungkin
terdengar lebay, tapi blogpost Diana yang rajin saya baca tersebut berhasil
memberikan pengaruh positif selama saya SMA. (Waktu itu) saya menjadi orang
yang tidak mudah mengeluh dan selalu positive thinking pada hal-hal yang saya
hadapi. I even wrote a happiness journal where I listed such happy things that
I experienced each day *re-read and it’s extremely ludicrous :))*
So,
ketika tanggal rilis #88LoveLive akhirnya tiba, saya langsung menyatroni toko
buku hari itu juga (10/11). Mulai dari Toga Mas hingga Gramedia, hasilnya nol.
Saya baru bisa mendapatkan buku tersebut kemarin (16/11) di Gramedia Malioboro
Mall dengan stok yang hanya tinggal lima buku.
Here is it, let’s talk about #88LoveLive:
First of all, if you think
Diana’s book will consist such of fashion thingy, you go wrong! Melalui
#88LoveLive kita dapat mengetahui bagaimana cara Diana memandang kehidupan.
Tulisan dalam buku ini diformat layaknya kumpulan quote dan motivasi. All
written in English, but I think you wouldn’t find any difficulties to
understand them, it’s written mesmerizely beautiful! Ketika membuka halaman
demi halaman, saya sempat kecewa karena ternyata isi buku #88LoveLive diambil
dari blogpost Hot Chocolate And Mint, especially post dari label thought.
Yaelah itu mah saya juga sudah hafal, pikir saya waktu itu.
Anw, bagi yang belum membaca
blog Diana sih, saya pikir anda tak akan kecewa sebab bukunya memang menginspirasi
dan.. lucu! Tiap halaman didesain dengan sangat menarik oleh Dinda Puspitasari.
Warna-warna cerah yang sangat “Diana”, typografi yang menarik, serta
ilustrasi-ilustrasi unik disandingkan sedemikian rupa. Membaca pun jadi terasa
lebih bersemangat. Di akhir buku, pembaca juga diberi kejutan berupa dua
halaman stiker dari ilustrasi yang ada dalam #88LoveLive. Sayangnya, menurut
saya pribadi, penggunaan kertas pada buku ini harusnya memakai tipe lain yang
dapat lebih memancarkan warna-warna #88LoveLive.
Untuk
masalah harga, #88LoveLive mematok harga layaknya buku-buku impor, Rp 88.000.
Terbilang cukup mahal, namun Diana dan Dinda seakan telah mempertimbangkan
bahwa harga jual buku ini sepadan dengan kualitas dan kemasan yang mereka
hadirkan. Bisa dinilai juga sih, dengan isinya yang full
berbahasa Inggris dan harganya yang cukup mahal itu, #88LoveLive seakan memiliki sasaran market
tersendiri. Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan #88LoveLive harus bersabar
sedikit. Pasalnya buku ini masih sangat sulit ditemukan di Gramedia atau toko-toko buku
lain karena biasanya langsung sold out dan restocknya lamaa. Jika tak ada waktu
untuk menyambangi Gramedia demi Gramedia, pesan online saja.
Buku ini sangat cocok dibaca pada suasana
akhir tahun seperti ini. #88LoveLive dapat menjadi refleksi bagaimana seharusnya
kita bereaksi pada hal-hal baik maupun buruk yang terjadi dalam hidup kita. #88LoveLive
juga memberikan inspirasi untuk mensyukuri segala hal yang kita miliki dan
membantu menyongsong our journey di tahun depan dengan pikiran yang lebih positif!
Positive mind lead us to be happy and content. Secara keseluruhan, saya sangat
senang kumpulan blogpost Diana dapat dibukukan dengan sedemikian lucunya, saya
tetap senang memilikinya!
Pernahkah kita duduk di tengah keramaian, memandangi orang-orang yang berlalu lalang dan membayangkan bagaimanakah hidup mereka, apa ambisi mereka, atau apa yang mereka rasakan? Di belahan dunia yang lain, tepatnya nun jauh di New York sana, seseorang (bernama Brandon) berinisiatif untuk melakukan sebuah proyek. Lebih dari sekedar melamun dan mengamati orang-orang di sekitarnya, setiap hari ia menjelajah sudut-sudut kota New York, menyapa dan berbincang dengan penduduk kota tersebut untuk menanyakan beberapa kisah hidup lawan bicaranya.
Menurut saya, Human of New York merupakan sebuah proyek yang menarik, mereka mampu menyampaikan sisi humanis manusia dengan manis. Di balik langkah manula menyisir trotoar, di balik tawa sepasang sahabat yang sedang piknik di taman, ataupun di balik lamunan wanita yang sedang mengantri segelas Starbucks, di balik semua wajah manusia-manusia modern tersebut, mereka mengalami berbagai macam peristiwa, yang membuat mereka tetap menyandang predikat sebagai ‘manusia biasa’.
Tiap kisah manusia tersebut dapat dipotret dengan baik oleh Brandon, tak jarang kita dibuat tersenyum, terenyuh hingga ikut merasakan pengalaman-pemgalaman ironi sosok manusia yang ada dalam foto tersebut. (Lebih dari itu saya berandai-andai pendekatan seperti apa yang dipakai si Brandon ini pada orang-orang yang ditemuianya. Bukankah orang-orang barat terkenal tak mudah mengungkap privacy-nya?)
"... technological advancements occur so rapidly, that humans themselves will not be able to keep pace and will be out-evolved by machines that are more intelligent than humans."
-Vincent Miller on Understanding Digital Culture
Reblog from Rizal Rizzy Facebook page
Pada suatu saat, seorang atau
satu keluarga membutuhkan taman.
Ada yang ingin menenangkan diri
di bawah pepohonan, di antara bunga-bunga dan atau di tepi kolam.
Ada pula yang ingin mengajak
anak-anaknya berjalan, dan bermain dalam keteduhan pagi dan sore.
Dan tidak jarang, beberapa
pasang jiwa butuh berbincang ditemani kicauan burung dan kerikan serangga.
Tetapi Jogja tidak menyediakan
itu semua.
Untuk mengheningkan diri dan
membaca di luar rumah, orang harus memilih perpustakaan dan kedai kopi.
Untuk mengajak anak bermain,
keluarga pergi ke Taman Pelangi, Taman Pintar, Tamansari atau Taman Budaya.
Sayang, tidak satu pun di antara
mereka yang sungguh-sungguh menyajikan taman.
Taman Pelangi adalah sebentuk
area monumen yang dikelilingi amusemen berbayar.
Taman Pintar adalah sepetak
lahan yang disesaki gedung-gedung penyedia jasa pembelajaran --meski selama
bertahun-tahun tidak banyak perubahan.
Dan Tamansari sama sekali tidak
mencerminkan sebentuk taman air; bunga tidak tumbuh secara signifikan, kolam
setengah mengering dan berlumut, dan sudah pasti tidak menyediakan kolam ikan.
Taman Budaya? adalah tempat
pameran, pertunjukan dan diskusi kesenian.
Semua itu jauh dari tanda-tanda
keheningan, ketenangan, dan detak suara alam.
Kalau kau putus asa, mungkin kau
bawa anakmu ke mal dan toko buku.
Kalau kau masih berkeras
mendapatkan taman, mungkin kau akan menempuh menempuh beberapa kilometer demi
menemukan sungai dan hutan-- yang tidak dapat disebut taman.
Dulu, orang pernah menaruh
harapan pada Lembah UGM.
Sayang, lembah itu terlanjur
menyandang kesan sebagai lembah mesum.
Lalu pihak kampus mengepungnya
dengan pagar besi, sementara telaganya berubah menjadi tempat latihan berkayak,
dan kursi-kursi dibuat tanpa pernah ingin diduduki.
Kawasan hutan mini di utara
gedung pusat juga tertutup dari publik.
Dengan alasan konservasi, ia
tidak pernah dikembangkan menjadi taman.
Yang paling memungkinkan hanya
memberi kesempatan anak-anak untuk meneropong burung-burung bangau yang terbang
dan hinggap.
Pemerintah kota pernah mencoba
membangun taman.
Tetapi bunga-bunga dan tugu air
mancurnya "hidup segan mati tak mau."
Bahkan taman di tepi jalan
digilas warung-warung penjaja makanan. atau menjadi area parkir.
Tanpa gangguan itu pun
sesungguhnya mereka tidak layak disebut taman.
Tempat-tempat bersejarah juga
luput dari taman.
Sejak awal, pemugaran
candi-candi sengaja dijauhkan dari pohon-pohon.
Mereka lebih senang jika candi
dapat difoto di area yang terang (panas) dan lapang.
Bukan mengembalikannya kepada
sifat alaminya; memberi keteduhan.
Ironis bukan?
Di daerah tropis seperti ini
kita justru miskin pohon dan taman.
Padahal sebentuk lagu
mengisyaratkan: di tanah kita, kayu dilempar pun tumbuh menjadi tanaman.
Apakah taman benar-benar telah
hilang?
Tidak. taman itu masih ada di
hotel berbintang, di lapangan golf, di kedai kopi berlahan luas, dan mungkin--
di hatimu.
Kini, Jogja dengan genggaman
tangan penguasa lebih senang menanam beton, besi dan kaca.
Jika dulu gedung dikepung sawah.
kini sebaliknya.
Dan beberapa anak yang tinggal
di rumah-rumah di sisi barat apartemen tidak akan menyaksikan keanggunan
mataharai pagi lagi.
Kota yang berbaring di lembah
gunung ini sejatinya menjerit-jerit kepanasan di sepanjang hari.
Taman... taman...
Apakah kau hanya sebentuk kata
sifat: rajin; betah?
Atau kata benda tanpa pohon,
bunga dan air: wahana, ruang, tempat, kawasan dan makam.
Bahkan sejak dini, mereka telah
menipu anak-anakku.
"Taman kanak-kanak"
--- adakah taman di situ?
"Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin,
Bukan ketakutan akan sepi."
-Peluk, Dewi Lestari.
Semester tiga mewajibkan saya mempelajari mata
kuliah media penyiaran sebagai konsekuensi untuk mengambil konsentrasi media
dan jurnalistik. Hari itu, kuliah perdana saya diakhiri dengan sebuah
pertanyaan, apa program televisi / radio yang masih menjadi favorit anda hingga
sekarang? Nah sejujurnya, saya sempat bingung sendiri ditanya macam begitu. Pertama,
saya dan keluarga bukanlah penggemar televisi. Program-program yang kadangkala
kami tonton rutin hanyalah berita, talkshow,
dan beberapa program feature.
Selebihnya, program-program yang disuguhkan televisi seringkali tidak menarik
perhatian kami. Dominasi sinetron, acara musik, gosip, dan hiburan-hiburan
konyol membuat televisi tidak lagi mendapat tempat khusus dalam keluarga saya.
Berbeda dengan zaman ketika saya
kecil dahulu, keluarga kami terbilang cukup sering menyaksikan televisi
bersama. Salah satu program yang sering kami tonton adalah serial televisi
berjudul Keluarga Cemara. Tentu saya yakin teman-teman pun pasti mengenalnya. Tayangan
yang menghiasi masa kecil generasi 90-an ini mulai disiarkan pada tahun 1996
hingga tahun 2002. Keluarga Cemara tayang siang hari di stasiun televisi RCTI,
ditulis serta disutradarai oleh penulis kondang Arswendo Atmowiloto. Tak heran,
kualitas cerita yang dihadirkan pun terkemas apik.
Dan aku diam-diam
bersyukur tak lepas kontrol pada perdebatan kita kemarin malam
Kamu masih di
sini, kita masih di sini, duduk berdampingan di Kolondjono yang baru buka
beberapa menit yang lalu
Gelisah
karena menu sarapanmu dan makan siangku belum juga tersaji di hadapan
Lalu kita
bersama memandangi bola mata masing-masing
Bias cahaya
dari jendala di samping secara tidak sopan menyorot mataku
Memperjelas
warna irisku yang coklat muda
Dan entah
untuk kesekian kalinya, kamu tetap terheran-heran mengaguminya, walaupun iris matamu juga berwarna serupa
Nampaknya
rasa lapar ini telah memaksa kita menikmati satu sama lain ya?
Lalu kita
bercerita macam-macam, aku tertawa dan sesekali menimpali ceritamu dengan
cerita lain
Tak ada yang
spesial, namun siang itu sungguh aku merasa nyaman
Pada matamu
yang tetap selalu teduh memandangku
Pada
celotehmu tentang dunia, tentang fakta, dan tentang hal-hal yang belum pernah
kuketahui sebelumnya, yang tak pernah gagal membuatku kagum padamu
Pada pujian-pujian
manismu yang jarang-jarang, namun tetap selalu bisa membuatku tersipu
Pada kamu yang
duduk di sampingku, yang tetap berhasil membangkitkan tawa renyahku
photo by @mbayuadip
Hidup di dunia
modern semua terasa serba komersil. Untung dan rugi seringkali menjadi hal
penting yang selalu kita pertimbangkan dalam setiap tindakan. Termasuk dalam
menjalin sebuah hubungan dengan orang lain. Lewat Twitter, saya sering membaca
gerutu teman-teman tentang betapa jengkel mereka terhadap kawannya yang
(menurutnya) hanya datang ketika butuh. Hanya-datang-ketika-butuh,
dikosakatakan seolah-olah orang yang bersangkutan dengan tiba-tiba telah memberikan
sebuah kerugian bagi kita. Mungkin begitu adanya? Absensi mereka ketika tidak
membutuhkan kita, mari kita anggap sebagai sebuah keadaan di mana kita tidak
bisa mendapatkan keuntungan apapun dari mereka. Kemudian ketika mereka
tiba-tiba, puff!, muncul dihadapan kita untuk menodong dan meminta tolong ini-itu
… helloo where the hell have you been all
this time?
Itulah dasar
manusia, makhluk rasional yang penuh dengan pertimbangan, yang selalu
memperhitungkan untung dan rugi. Dalam
kuliah saya, saya juga mengenal satu teori yang menyinggung hal ini. Social exchange theory, teori ini
menyatakan bahwa dalam menjalin sebuah hubungan, manusia selalu mempertimbangkan penghargaan atau keuntungan yang
ia terima dan menghitung pengorbanan yang harus ia lakukan. Layaknya sebuah
transaksi bukan? Keputusan kita untuk melanjutkan sebuah hubungan pun
didasarkan pada setimpal atau tidaknya penghargaan dan pengorbanan yang telah
kita upayakan. That’s why people who have
been through all those shitty -the ups and downs- things with you, matter the
most.
Maka tidak usah
berang kalau tiba-tiba ada yang memperlakukan anda demikian, itu memang sudah
sifat dasar manusia. Kalau merasa tak mau rugi dimanfaatkan, ya
pintar-pintarlah memanfaatkan balik. Kalau tak begitu, ya sudah ikhlaskan saja.
Toh masih terasa manis kala ternyata mereka masih mengingat dan membutuhkan anda.
Mbak Hesti bilang sih, itu berarti kualitas diri anda masih lebih tinggi daripada mereka. Dan bukankah menolong orang lain adalah sebuah kebaikan dan kebahagiaan tersendiri?
You choose.
You choose.
"Kalau universitas-universitas bagus hanya nerima yang pinter-pinter, kapan yang bodoh-bodoh pinter?"
-Sentilan Sentilun on Mata Najwa On Campus UGM.
"Although people believe they like to have lots of choice, in fact, having too many choices can be discouraging. Instead of making people feel more satisfied, a wide range of options can paralyze them"
-Gretchen Rubin
Writing in this space somehow is one of the activities that
keep me ‘sane’ and help me feelin ‘alive’.
Sadly, I no longer write as much as I did in the past few
years. Seriously, being a communication student who have to write and write for
bunch of assignments and tests somehow make me forget (or just say, too lazy) to go blogging. But, I
know, that should not be a justification.
Okay? Okay.
So, yeah, I will try to write regularly in this blog again.
CU, selamat lebaran :)
Nggak kerasa sudah hampir satu tahun kuliah di Jogja dan merasakan suka dukanya ngekos. Begitu balik ke Surabaya yang sering ditanya para sudara "eh ngekos jadi sering dong makan mi?" And I was like..... Haah, makan indomie??? Emang sih ya mungkin itu isu utama khas anak kos, apalagi kalau dekat-dekat tanggal tua, katanya makan indomie aje melulu biar hemat di kantong. Tapi nggak gitu juga keles! Pertama, yang bilang makan indomie itu murah, MURAH DARI HONGKONG?!! Satu porsi indomi di burjo rata-rata dihargai empat ribu sampai tujuh ribu. Lha daripada makan indomie yang udah nggak sehat plus mahal, mendingan beli nasi telur dapet sambel plus lalapan plus nasi yang bikin kenyang, sama pula harganya lima ribu.
![]() |
| oh cuma dua menit bahkan! |
Bagi beberapa teman kemahalan harga indomie di burjo biasanya disiasati dengan beli indomie mentah dan dimasak sendiri. Tapi kok ya, nunggu airnya mendidih dan nyuci pancinya bikin nggak sepadan sama makannya yang cuma seuprit. Tapi tenang saja, saya tetap setuju kok kalau indomie itu enak dan bikin kangen. Cuma ya berhubung ngana mahal, bye indomie.
Payung Teduh, namanya sih sudah tak asing lagi. Beberapa
kali diundang di acara-acara musik kampus, dinyanyikan oleh teman-teman, dan
disebut-sebut sebagai band indie yang sedang naik daun. Secara tidak sengaja
saya menemukan dua album Payung Teduh pada file-file musik yang tersedia di
Warnet Amanah. (Katanya sih lagu-lagu Payung Teduh berkualitas baik susah dicari di internet. Beruntungnya saya!) Album Dunia Batas (2013) berisikan delapan track
lagu. Beberapa di antaranya merupakan konten yang sama pada album Payung Teduh
(2010). Lagu-lagu dalam album ini dapat pula dinikmati dan diunduh pada akun SoundCloud Payung Teduh.
Walaupun baru mendengar untuk kali pertama, saya langsung
ngefans dengan gaya mereka bermusik yang dapat membuat pendengarnya larut. Kekuatan Payung Teduh juga tak dapat dipisahkan dari keunikan suara vokalisnya yang unik-ganteng-bikin melting itu.. Ehm, khatam menuntaskan
melodi-melodi mereka, saya pun akhirnya jatuh cinta pada lagu Untuk Perempuan
Yang Sedang Di Pelukan dan Berdua Saja. Lagu-lagu mereka yang lain (yang
kesemuanya berbahasa Indonesia) kurang lebih bertipe sama dengan track favorit
saya, mendayu-dayu. Walaupun ada beberapa track yang bertempo cepat bahkan di-mash
dengan gaya keroncong, namun saya setuju jika kekuatan, keunikan, dan ciri khas
Payung Teduh tetap pada gaya bermusiknya yang membuat hati tentram. Ibarat vegetasi, maka Payung Teduh ini bertindak sebagai kanopi (dafuq?). Yaa, habisnya mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh memang rasanya seperti
sedang diguyur keteduhan.
Oleh sebab itu lah
lagu-lagu pada album ini cocok dijadikan teman baca buku, teman ngelamun, atau lagu
pengantar tidur. Ah kok kasian sekali ya kedengarannya? Tapi memang cocok kalau
didengarkan ketika selo sih.. Ah! Cocok juga didengarkan kala ingin mendapatkan
keteduhan instan :)
Recomended Tracks: Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan, Berdua Saja, Rahasia, Resah.
Tulisan berikut adalah laporan field trip Komunikasi UGM ke Monumen Pers Nasional, Surakarta pada tanggal 12 Mei 2014.
All photos are credited to http://mpn.kominfo.go.id/, due to my stupidity to bring no camera that day.
Memasuki gedung Utama Monumen Pers Nasional kita akan disambut oleh patung sepuluh tokoh perintis pers di Indonesia. Berbagai koleksi seperti surat kabar kuno, diorama, dan pemancar radio menghiasi ruangan ini. Di gedung sebelah kiri, kita akan dihadapkan dengan berbagai mesin-mesin cetak surat kabar tempo dulu serta berbagai barang peninggalan tokoh-tokoh pers Indonesia seperti Hendro Subroto (wartawan perang TVRI yang tertembak meliput pertempuran Timor Timur), Fuad Muhammad Syafruddin / Udin (kritikus pemerinah Orde Baru dan wartawan Harian Bernas yang meninggal dianiya orang tak dikenal), Trisno Yuwono (wartawan TVRI), dan lain-lain.
![]() |
| credit |
Memasuki gedung Utama Monumen Pers Nasional kita akan disambut oleh patung sepuluh tokoh perintis pers di Indonesia. Berbagai koleksi seperti surat kabar kuno, diorama, dan pemancar radio menghiasi ruangan ini. Di gedung sebelah kiri, kita akan dihadapkan dengan berbagai mesin-mesin cetak surat kabar tempo dulu serta berbagai barang peninggalan tokoh-tokoh pers Indonesia seperti Hendro Subroto (wartawan perang TVRI yang tertembak meliput pertempuran Timor Timur), Fuad Muhammad Syafruddin / Udin (kritikus pemerinah Orde Baru dan wartawan Harian Bernas yang meninggal dianiya orang tak dikenal), Trisno Yuwono (wartawan TVRI), dan lain-lain.
Beralih ke lantai dua, kita akan disuguhi berbagai koleksi
buku dari perpustakaan Monumen Pers Nasional. Keberadaannya seakan menegaskan
bahwa Monumen Pers Nasional tak ingin sekedar menjadi sebuah museum biasa. Ia
turut berperan sebagai agen media literasi bagi masyarakat melalui koleksi-koleksi
bukunya yang dikelola dengan baik. Berbagai jenis buku dari dokumen langka
seperti Serat Centhini, buku-buku pengetahuan bertema umum, layanan internet, hingga
literatur mengenai media dan jurnalistik tersedia dalam ruangan perpustakaan
yang nyaman ini. Yang menarik, Monumen
Pers Nasional kini telah mendokumentasi dan mengkonversikan koleksi ribuan surat kabar dan
majalah Indonesia -dari masa awal kemerdekaan hingga sekarang- ke dalam bentuk
digital. Pengunjung pun dapat mengakses dokumen-dokumen ini melalui komputer touch screen berlayar lebar yang
terletak di ruangan sebelah perpustakaan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa Monumen Pers Nasional adalah
jujukan yang tepat bagi siapapun yang ingin mengenal lebih dalam sejarah pers
di Indonesia. Bagi mahasiswa-mahasiswa yang berkutat dengan penulisan bertema jurnalistik,
tentu saja tempat ini merupakan sebuah surga sumber referensi yang tepat. Lebih
dari itu, Monumen Pers Nasional telah berperan besar dan terus memberikan
kontribusi bagi masyarakat umum serta dunia
pers dan jurnalistik di Indonesia.
Tulisan berikut adalah laporan field trip Komunikasi UGM ke Studio Rekaman Lokananta, Surakarta tanggal 12 Mei 2014.
All photos are credited to Herka Yanis P. due to my stupidity to bring no camera that day.
Mengunjungi Lokananta, seakan memberikan kita secercah
pengetahuan baru di balik perkembangan dunia musik tanah air. Berlokasi di kota
Surakarta, Lokananta didirikan atas prakarsa seorang tokoh bernama Utoyo, pimpinan
teknik RRI pada tahun 1956. Atas persetujuan Presiden Soekarna, barulah pada
tanggal 29 Oktober 1956 Lokananta diresmikan oleh Menteri Penerangan R.
Soedibyo dengan nama Pabrik Piringan Hitam Lokananta. Sebagai bagian dari
jawatan RRI, Lokananta didirikan untuk membantu pemenuhan negara akan audio
sera membantu kinerja RRI dengan mengelola transkrip berita serta menyuplai siaran
RRI di seluruh Indonesia.
Sebagai studio musik rekaman pertama di Indonesia, Lokananta juga
berperan besar dalam sejarah kita. Berbagai rekaman audio peristiwa bersejarah
seperti Proklamasi dan pidato-pidato Presiden Soekarno juga diabadikan olehnya.
Kesenian dan budaya Indoensia pada masa awal kemerdekaan pun berkembang berkat
Lokananta. Lagu-lagu daerah di semua provinsi Indonesia direkam ulang dan
diperdengarkan secara nasional melalui RRI. Lokananta beserta piringan-piringan
hitam yang diproduksinya juga berhasil melahirkan musisi-musisi besar seperti
Waldjinah, Gesang, Titiek Puspa, Boby Chen, Bing Slamet, Upik Samarinah dll.
Namun kini kebesaran Lokananta telah jauh tertinggal.
Memasuki studio rekaman ini, pengunjung akan disambut dengan suasana yang lengang,
bau lembab dan debu, beberapa sudut yang tak terurus, dan tak terlihat banyak
aktivitas yang berarti. Hal ini disebabkan karena sejak tahun 1972, Lokananta telah
kehilangan kegiatan utamanya sebagai produsen piringan hitam di Indonesia. Menengok
kembali ke belakang, Lokananta pun tak dapat dipisahkan dari berbagai
permasalahan mulai dari dibubarkannya Departemen Penerangan yang merupakan
induk perusahaan Lokananta, pailit, dan pendanaan yang kurang dari pemerintah. Menjamurnya
perusahaan rekaman yang lebih canggih dan terjangkau serta berbagai kemudahan
teknologi membuat Lokananta kini enggan
dilirik.
Walaupun berjalan secara terseok-seok, Lokananta tak ingin mati
berdiam diri. Studio rekaman ini tengah berupaya bertahan dan menyelaraskan
diri dengan zaman modern. Ribuan piringan hitam dan berbagai rekaman di-remastering ke dalam bentuk file digital
agar koleksi-koleksi Lokananta tak hilang digerus waktu. Lokananta juga
melayani musisi maupun masyarakat umum yang berminat mengadakan recording, semi recording dan professional
recording. Di sisi lain, untuk menambah pemasukan Lokananta membuka usaha
futsal,studio band, hingga penyewaan ruangan gedung. Upaya dan uluran tangan
pemerintah dapat dipastikan bukan merupakan andalan utama untuk menyangga
kebesaran Lokananta. Oleh sebab itulah, studio rekaman pertama Indonesia yang
telah using ini membutuhkan lebih banyak perhatian dari berbagai kalangan, baik
musisi, penggiat seni, kaum-kaum terpelajar dan bermodal hingga masyarakat
umum.
Kesunyian yang biasanya perih menusuk gendang telinga
Kini justru aku mensyukuri keberadaannya
Tak ada yang harus diucap
Tak perlu harus mengucap
Lihat, kita bahkan tak mampu lagi bercakap
Aku tertawa dalam hati, terlalu lelah untuk saling mau mengerti maupun memahami
Mereka bilang sunyi itu tak ada kata
Tapi ia mengucap selamat tinggal
Pada aku
Pada kamu
Pada semua yang pernah kita lalui
Lalu sunyi menggeret kita secara terpisah
Tanpa mengucap kata
Poped up when listening to Peluk by Dewi Lestari and reading Peluk short story version on Rectoverso by the same writer.
Kini justru aku mensyukuri keberadaannya
Tak ada yang harus diucap
Tak perlu harus mengucap
Lihat, kita bahkan tak mampu lagi bercakap
Aku tertawa dalam hati, terlalu lelah untuk saling mau mengerti maupun memahami
Mereka bilang sunyi itu tak ada kata
Tapi ia mengucap selamat tinggal
Pada aku
Pada kamu
Pada semua yang pernah kita lalui
Lalu sunyi menggeret kita secara terpisah
Tanpa mengucap kata
Poped up when listening to Peluk by Dewi Lestari and reading Peluk short story version on Rectoverso by the same writer.
I hate people who always complaining about everything, did nothing in their life, and self pitying themself all the time, but in another hand they claimed that they are better than any other and live happily by mocking and push people down. Such a dumb, selfish, and spoiled creature.
But at least I should remember that I shouldn't hate this kind of people because they're pathetic maybe I ain't better than them. (Oh shit really ?)
Bandung berawal dari percakapan bodoh dengan Mas Bill
Aku : He kon gak
ngeke’i aku kado ulangtahun ta?
Mas Bill : Yowes jare
nang Bandung?
Aku : Yo ambek
sing lain ta, sepatu ta, tas kek.
Mas Bill : Yowes nang
Bandung ta tas? Pilihen.
Aku : Lhe mayak pek,
mosok pilihane nang Bandung ta tas, gak adil lah. Nang Bandung ta nang Jakarta
iku baru nyambung, mosok nang Bandung ta tas.
Mas Bill : Yo karepku
lah :)))
Seputar akomodasi:
- Karena ceritanya backpacker-an plus modal tabungan yang pas-pasan, kita naik kereta ekonomi dari Stasiun Lempuyangan Jogja menuju ke Stasiun Kiaracondong Bandung. FYI, kereta ekonomi sekarang udah jauh lebih nyaman, ada AC, nggak ada penumpang yang berdiri, pedagang asongan pun juga jauh lebih tertib. Cuma ya namanya kereta ekonomi, perjalanan cukup lama karena di beberapa stasiun harus berhenti, menunggu dan mendahulukan kereta-kereta dengan kelas yang lebih tinggi. Perjalanan kurang lebih memakan waktu sepuluh jam.
- Anw, kalau naik kereta usahakan pilih jadwal saat hari masih terang karena bisa dapat bonus pemandangan hijauuu yang lumayan nyegerin mata. Stasiun Kiaracondong letaknya cukup jauh dari pusat kota, waktu itu kita mengandalkan GPS yang cukup abal tapi sekaligus cukup membantu. Kesan pertama waktu muter-muterin jalanan Bandung: ramai, panas pol dan macet!
- Selama 3 hari di Bandung, kita sewa motor dengan harga Rp 70.000/hari (dibayar di muka), ninggal 2 KTP sebagai jaminan. Angkutan kota kaya bemo di sini juga banyak, tapi pastikan dulu dengan googling rutenya.
- Hotel dan penginapan bervariasi banget. Waktu itu kita cari hotel murah di sekitar Jl. Pasirkaliki, dan dapatlah dengan harga sekitar Rp 200.000 per malam. Banyak juga hostel bagus, rata-rata sekitar Rp 90.000-100.000an per kepala.
- Makan di Bandung mahal gila, buat ukuran makan di warung tenda pinggir jalan bisa habis 30.000an per orang. Cari makan di sekitar kampus ITB baru murah, kalau nggak gitu makan Sate Padang di Rumah Makan Padang Sederhana aja, cuma 15.000 =))
Siapa
yang nggak suka pulang? Pulang adalah kegiatan yang menyenangkan buat anak
rantauan aka. anak kos yang belajar di kota tetangga. Berhubung jarak Jogja dan
Surabaya nggak begitu jauh, tiap liburan bisa dipastikan kita orang akan
pulang. Kalaupun nggak ada libur panjang, masih bisa tuh mencuri-curi waktu
weekend, walaupun sebenarnya juga nggak ada urusan penting di Surabaya. Cuma
sekedar akal-akalan aja untuk menghemat uang bulanan beberapa puluh ribu
rupiah.
Di Surabaya, di antara kesibukan
glundang-glundung dan membersihkan
rumah, biasanya ada satu kegitan yang tak terlewatkan. Mungkin mumpung anaknya lagi ada di rumah, maka
Ayah merasa perlu untuk memanfaatkan keberadaanku. Oleh karena itu Ayah
biasanya memintaku untuk membantu memotong rambutnya (dengan random) atau
mengecat hitam rambutnya. Lebih sering sih dimintain tolong mengecat rambut,
karena beliau sudah lebih handal memotong rambutnya sendiri secara otodidak
(yang selalu berakhir dengan omelan Ibuk, lol).
Aku bukan tipe orang yang suka
disuruh-suruh, meskipun aku suka tandang
gawe tapi kalau pakai acara disuruh-suruh rasanya ih-males-banget-plis-deh-hm.
Makanya setiap hari Minggu pagi, di kala Ayah sudah melakukan ritual
mematut-atut jambang di depan kaca, aku tahu ritual itu pasti akan diakhiri
dengan acara semir rambut, yang berarti… aku pasti akan disuruh menyemirinya. Kalau
benar, maka namaku akan dipanggil-panggilnya “Ki, ki, lapo?” Sebelum aku sempat
menjawab Ayah pasti sudah nyamber “Semirno Ayah diluk kene!”. Dan jadilah dengan
terpaksa aku menyeret kaki menghampiri Ayah yang sudah duduk manis di kursi
sambil memegang semangkuk semir Bigen.
Acara mengecat rambut itu akan
dimulai bersama omongan ngalor-ngidul, utamanya soal keseharianku di Jogja. Berhubung
nyawa masih tertinggal di kasur, pertayaan-pertanyaan Ayah kadang kujawab
sekenanya. Di tengah-tengah konsentrasiku untuk tidak menghambur-hamburkan
semir, Ayah juga memberikan instruksi rambut bagian mana yang harus dihitamkan.
“Nisor-nisore ojok lali dek”. Kalau sudah begini, maka entah keberapa kalipun
aku menyemiri rambutnya, aku akan selalu tertampar oleh banyaknya uban Ayah. Gosh, he is growing old so fast. Semakin
kusibakkan rambutnya, maka semakin jelas semua pangkal rambut Ayah sudah
berwarna putih. Kontras dengan kulit wajahnya yang lebih berkeriput dan lebih
legam daripada tahun-tahun sebelumnya. They
said, we’re so busy growing up and we often miss the fact that our parents are
growing old too. Oh I guess, yes, we
do.
Maka ritual semir-menyemir itu
pasti akan selalu berakhir dengan batinku yang kecut dan dipenuhi rasa
bersalah. Apa yang sudah anakmu berikan? Belum ada. Bikin bangga? Ya cuma
gitu-gitu aja. Parahnya lagi, kadang cuma kangen rumah dan orangtua saat uang
bulanan sudah menipis.
No
matter how old I’m, I will always be your little daughter. Can we just stay
like this?
|















.jpg)








.jpg)



