Please welcome my new baby, dzikrisabillah.web.ugm.ac.id! Blog tersebut saya buat dalam rangka megikuti Lomba Blog UGM tahun 2015 yang diadakan oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM. Sebenarnya, isi tulisan dalam blog tersebut tak jauh berbeda dengan yang ada di sini. Saya menambahkan tugas-tugas kuliah dan tulisan-tulisan lain yang saya buat selama kerja atau magang. Jadi kalau dilihat-lihat sebenarnya blog tersebut lebih mirip portofolio, hehehe. Syukurnya, blog A Journey to Embrace saya berhasil juara satu di tingkat fakultas dan universitas. Do drop by, everyone!
You once tame me
Like The Little Prince tame the fox and the rose
We need one another
To you, I was unique
And you were unique to me for sure
You were the one I loved
And it was with you I enjoyed all the joy, tears and happiness for the past four years
But it's all in past tense
Now, as you left me,
You are just a man like billion thousand men in the world
What makes you slightly different is
You are the man I shared memories with
But now
You just are
And I just am
Televisi
Tak Lagi Menjadi Satu-Satunya Sumber Kebutuhan Akan Hiburan
Hiburan
merupakan kebutuhan yang tak dapat disangkal. Manusia membutuhkan hiburan untuk
melupakan sejenak permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi. Terdapat
beragam cara dan fasilitas yang dapat digunakan untuk memperoleh hiburan. Salah
satu sumber yang dapat dimanfaatkan adalah media. Terkait dengan pemenuhan
kebutuhan akan hiburan, media memiliki fungsi diversion. Media menawarkan tiga hal: stimulation atau pencarian untuk mengurangi rasa bosan, relaxation atau pelarian dari tekanan
dan kegiatan rutin, serta emotional
release atau pelepasan emosi dari perasaan dan energi yang terpendam.
Hiburan
yang ditawarkan oleh media dapat dijangkau melalui kehadiran televisi, radio,
internet, surat kabar, tabloid dan majalah. Dari sejumlah pilihan tersebut, televisi
masih menjadi media yang memiliki tingkat popularitas tinggi dalam masyarakat. Hasil
riset yang dilakukan oleh AGB Nielsen pada Mei 2014 menyatakan bahwa televisi
masih menjadi medium utama yang dikonsumsi oleh 95% masyarakat Indonesia.
Tingkat penetrasi yang besar membuat televisi memiliki perhatian yang tinggi dalam menyajikan
konten-konten hiburan seperti musik, film, olahraga, sinetron, infotainment, kuis, dll.
This is my favorite lullaby
But last night this song brought all my fears and insecurities right into my face
As a result, I bursted into tears and sobbed like cray
Damn you dear self, now this song used to be my favorite lullaby
Tonight I'm watching your debate video on YouTube
And scrolling over old photos of us
While listening to Adhitia Sofyan's songs
What a weird way to celebrate our 4th anniversary
| source |
Singapore has been a really nice place to visit. I could say, it’s
totally worth visiting. All you have to do is save your money and look around
for tickets promo! Since Singapore has impressed me with wonderful and joyful experiences,
I would like to share some 28 travel tips --or whatever you may call it. Enjoy!
Beberapa tahun lalu, saya berjanji bahwa
saya harus mengunjungi Sea Aquarium ketika pergi ke Singapura suatu hari nanti.
And yeah, Sea Aquarium was amazing!
Hari
kedua di Singapura saya dedikasikan penuh untuk berjalan-jalan. Pada hari itu
juga saya berhasil mengunjungi Sea Aquarium, yeah! Sedari dulu, saya sudah
berjanji kepada diri sendiri bahwa saya harus mengunjungi Sea Aquarium ketika
ada kesempatan berlibur ke Singapura. I don’t know why, all I know is I have
to!
Ketika
tiket pesawat sudah ada di tangan, hal yang saya cari selanjutnya adalah tiket masuk
Sea Aquarium di Pulau Sentosa. Setelah browsing sana-sini, akhirnya saya berhasil
mendapatkan e-tiket Sea Aquarium dengan harga $22. Jauh lebih murah $12 dari
harga loket yang dipatok $38 untuk wisatawan. Oleh sebab itu, jika kalian berencana
mengunjungi Sea Aquarium atau attraction lain di Pulau Sentosa sebaiknya beli
tiket secara online saja. Selain lebih murah, kita pun bisa langsung masuk
dengan menunjukan e-tiket tanpa perlu mengantri di loket.
Transport
menuju Pulau Sentosa, seperti halnya transportasi di seluruh Singapura, sangat
mudah diakses. Kalian bisa menggunakan kereta MRT north east line atau circle
line menuju Harbourfront Station. Nah, Harbourfront Station ini semacam tempat
transit untuk menuju ke Pulau Sentosa. Ada empat macam cara untuk menuju Pulau
Sentosa, yaitu dengan menggunakan cable car ($24), Sentosa Express ($4), bus
($2 pulang-pergi), atau Sentosa Broadwalk ($1). Karena ingin yang (lumayan) cepat
dan murah, saya memilih untuk naik bus. Bus RWS8 menuju Pulau Sentosa bisa
diakses dari bus stop di depan Vivo City Mall.
Nah,
setelah benar-benar masuk ke dalam Sea Aquarium, atraksi pertama yang saya
kunjungi adalah typhoon theatre. Saya menyaksikan film tentang perjalanan kapal
yang menghadapi badai di tengah lautan. Di akhir film, kapal tersebut akhirnya
tenggelam. Penonton di dalam studio pun bisa merasakan sensasi “ikut tenggelam”
karena area tempat duduk digerakkan turun ke dasar ruangan. Dinding-dinding
ruangan dihias sedemikian rupa sehingga kami seolah-olah sedang tenggelam ke
dasar lautan. Begitu keluar dari ruangan teater, saya terkejut karena akuarium
pertama yang saya lihat dihiasi dengan bangkai kapal karam! Emezyeng.
Salah
satu landmark Singapura yang paling terkenal selain Patung Singa adalah Orchard
Road. Orchard menjadi destinasi yang selalu saya kunjungi setiap hari selama
saya berada di Singapura.
Dari penampakannya saja Orchard Road memang
sudah terlihat sebagai surga belanja di Singapura. Bisa dikatakan bahwa Orchard
Road adalah pusatnya pusat perbelanjaan. Belasan mall berderet di sana.
Gerai-gerai busana, tas, perhiasan, sepatu, kosmetik dari brand-brand
internasional tumbuh subur di Orchard Road. Jika kebanyakan orang Indonesia bersemangat mendatangi Orchard Road dengan tujuan shopping, saya tidak demikian. Tentu saja jangan bayangkan saya,
pelancong dengan budget terbatas, memborong beragam produk di pusat-pusat perbelanjaan
Orchard Road. Walaupun tidak berniat membeli satu barang pun, mengunjungi
Orchard Road tetap masuk ke dalam daftar itinerary saya. Ke Singapura tanpa ke
Orchard Road kurang afdol, bukan?
Daya
tarik utama yang membuat saya semangat mengunjungi Orchard Road adalah ION Sky!
ION Sky menawarkan bagaimana rasanya memandang panorama Singapura dari lantai
55. Tempat ini terletak di dalam ION mall, salah satu pusat perbelanjaan mewah
yang ada di Orchard Road. Segera saja ION Sky langsung masuk daftar destinasi
dalam itinerary hari pertama saya.
Selama
di Singapura, saya mengunjungi tiga museum: Asian Civilisations Museum,
Peranakan Museum, dan Singapore National Museum. Ketiganya berhasil membuat
saya terkagum-kagum.
Bertemu Asian Civilisations Museum Dengan Tidak
Sengaja
Selepas
berhasil menginjakkan kaki di pusat kota Singapura, tempat pertama yang saya
kunjungi adalah Asian Civilisations Museum. Sebenarnya, dua tujuan pertama saya
berdasar itinerary adalah Merlion Park dan Esplanade. Namun, saya cukup
kesulitan untuk mencapainya dari Raffles Place Station. FYI, Raffles Place
merupakan kawasan Central Business District (CBD) di Singapura. Saya sampai di
Raffles Place Station jam satu siang, ramai-ramainya pegawai kantor istirahat. Otomatis
saya yang mudah disorientasi di tengah-tengah keramaian ini jadi disorientasi
beneran. Walaupun arah menuju Merlion Park yang tertulis di itinerary terlihat
sangat simpel, saya tetep muter-muter nggak jelas. Setelah berjalan cukup lama,
akhirnya saya menemukan sebuah bangunan bertuliskan Asian Civilisations Museum!
Asian
Civilisations Museum terdiri dari dua lantai. Di galeri lantai satu, mereka
sedang mangadakan pameran sejarah perkembangan Singapura untuk merayakan Hari
Jadi Singapura Yang Ke-50 (SG50). Mereka menyajikan bagaimana Singapura
mengalami perkembangan di bidang militer, pendidikan, politik, ekonomi,
infrastruktur dll. Di lantai dua baru kita bisa mengeksplorasi lebih dalam
mengenai sejarah dan kebudayaan negara-negara di Asia, khususnya Asia Tenggara.
Ketika mencari informasi mengenai destinasi
wisata di Singapura, saya membaca catatan perjalanan seseorang. Ia menyebutkan
nama sebuah tempat: Bras Basah Complex. Diikuti dengan kata “buku” dan “murah”,
tempat ini segera menjadi tujuan saya.
| source |
Kenyataannya
untuk menemukan Bras Basah Complex susahnya setengah mati. Walaupun saya telah
menuliskan jalan-jalan yang harus saya lalui dari Bugis Station menuju Bras
Basah Complex, tapi seperti biasa, saya tetap nyasar.
Mau
tahu berapa lama saya berjalan mencari Bras Basah Complex? Hampir dua jam bersama panas
dan kaki yang pegal. Google Maps kampret.
Traveling in Singapore is so enjoyable
because they provide great public transportations.
Selama
di Singapura saya tidak menemui kesulitan untuk bermobilitas. Sedari awal, saya
merasa perlu mencari tahu transportasi apa yang harus saya gunakan untuk berpindah
dari satu tempat ke tempat lain. Beruntungnya, saya memukan situs gothere.sg.
Situs ini kurang lebih mirip dengan Google Maps. Namun gothere.sg memberikan
informasi secara lebih lengkap dan detail. Saya bisa tahu line MRT mana yang
harus saya gunakan, harus transfer di stasiun apa, berapa lama waktu tempuhnya,
hingga berapa biaya yang saya keluarkan. Sementara Google Maps lebih banyak
saya gunakan untuk mencatat nama jalan yang harus saya lewati ketika berjalan
kaki (walaupun kebanyakan akhirnya nyasar). Semua informasi tersebut saya tulis
secara lengkap di itinerary. Dan hasilnya, memang banyak membantu :)
Karena
belum pernah menikmati moda transportasi publik yang baik, saya sangat terkesan
dengan MRT di Singapura. Kereta MRT selalu datang tepat waktu. Bahkan kita
tidak perlu berlama-lama menunggu kereta selanjutnya, setiap beberapa menit
sekali kereta pasti akan datang. Begitu keluar dari satu kereta dan harus
transfer ke kereta lain, kita tinggal masuk saja. Tidak ada cerita kereta
terlambat. Informasi kedatangan kereta pun terpampang jelas melalui monitor-monitor
di dalam stasiun.
| source |
Selain
memutuskan untuk mengisi libur semester dengan magang, saya juga melakukan dua
perjalanan seorang diri alias solo
traveling !
Sebelumnya
saya bukan tipe orang yang gemar melakukan traveling.
Bahkan, sepanjang semester empat kemarin pun saya tidak banyak mengunjungi tempat-tempat
baru. Yeah, I know, poor me. Maka di akhir masa liburan yang tersisa, saya
merencanakan dua perjalanan singkat dengan destinasi Dieng dan Singapura
(cerita selengkapnya tentu akan saya tuliskan di blog ini nanti :D).
Bagi
saya, perjalanan ke Dieng dan Singapura ini sangat spesial. Kenapa? Karena ini
adalah dua perjalanan pertama saya seorang diri! Memutuskan untuk go solo tentu membutuhkan keberanian berkali-kali
lipat jika dibandingkan pergi bersama teman atau keluarga. Saya sendiri sebenarnya
adalah tipe orang yang cukup bisa menikmati kesendirian (solitude) dengan baik. Sedari kecil saya terbiasa naik kendaraan
umum sendiri dan jalan-jalan seorang diri. Walaupun mungkin hal ini terlihat
aneh karena budaya komunal di Indonesia masih sangat kental, me time is essential for me.
Jika
banyak teman yang mengatakan keputusan solo
taveling sangat nekat, saya sedikit tidak setuju. Nekat tidak berarti tanpa
persiapan kan? Rasa takut dan khawatir pasti ada, oleh sebab itu sebelum pergi
saya menghimpun banyak informasi dari internet. Yang terpenting, pastikan
destinasi kalian memang cukup aman dan memungkinkan untuk dikunjungi seorang
diri. Sempatkan membaca pengalaman orang lain atau ulasan yang tersedia di berbagai
forum backpacker / traveler. Agar perjalanan terencana dengan baik, sangat penting
untuk menyusun itinerary yang memuat
informasi yang telah kita kumpulkan. Itinerary
berisi rencana tempat yang akan dikunjungi, moda transportasi yang akan
digunakan hingga estimasi waktu tempuh dan biaya yang dibutuhkan. Walaupun
sedikit repot di awal, itinerary
sangat membantu perjalanan saya kemarin.
Setelah
itinerary tersusun dengan baik, bukan
berarti perjalanan kita akan berlangsung dengan mulus. Biasanya akan ada saja
hal-hal tak terduga yang terjadi. Bepergian seorang diri menuntut kita untuk
pintar-pintar menjaga diri. Kesalahan besar yang saya lakukan ketika pergi ke
Dieng adalah kejujuran bahwa saya sedang pergi sendirian kepada semua orang
yang bertanya. I know it’s so stupid,
dan saya sangat menyesalinya meskipun tidak ada hal buruk yang terjadi. Oleh
sebab itu, dengan alasan keamanan, berbohong mungkin tak mengapa.
Anyway, saya merasa ada banyak hal yang saya
dapatkan dari dua perjalanan kemarin. Pertama, jika saya terus menunggu teman untuk
bepergian tentu perjalanan kemarin tidak pernah akan terjadi. Mungkin saya akan
terus-terusan menjadi manusia kurang piknik. Kedua, selama melakukan solo traveling saya merasa tengah berlatih
untuk menjadi lebih sabar dalam menghadapi hal-hal yang tak terduga. Saya juga terharu
ketika mendapati diri saya, seseorang yang cukup tempramen dan emosional, bisa
santai dan berpikir cukup jernih dalam menyikapi keadaan yang tidak menyenangkan
(macet, tersesat, dll.). Padahal waktu itu saya sedang dalam masa-masa PMS, lho.
Intinya, menjaga emosi ketika solo
traveling memang sangat penting.
Selain itu, ketika kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri, tentu kita
dituntut untuk percaya kepada diri sendiri dalam mengambil keputusan yang
paling tepat. Because all you have is
yourself.
Tapi
seperti semua hal yang ada di dunia ini, tentu solo traveling punya plus dan minusnya. Selain yang sudah saya
sebutkan di atas, solo traveling juga
bisa menjadi momen untuk melakukan refleksi diri. Karena tidak banyak terdistraksi
dengan percakapan dengan teman, solo
traveling menyediakan banyak waktu
bagi kita untuk mengamati keadaan sekitar ataupun mengenal diri kita sendiri ((cieelah)).
Kita juga bisa memiliki kebebasan untuk menentukan destinasi yang kita mau
tanpa berkompromi dengan keinginan teman perjalanan yang lain. But in the other hand, we may lost some
things. Kalau saya sih, ketika di Dieng kemarin sempat merasa kesepian dan
bosan ketika nggak ngapa-ngapain di malam
hari. Jika kalian adalah tipikal wisatawan Indonesia yang gemar mengambil
gambar diri, solo traveling akan sedikit menghambat kalian untuk bernarsis
ria. Terakhir, solo traveling ternyata
cukup lumayan merogoh kocek x”(
Walaupun
berbalut suka dan duka, saya sama sekali tidak menyesali dua perjalanan solo traveling yang telah saya lakukan.
They said that traveling alone is the single best gift you can give to yourself, and yeah for me, it was a hella achievement.
Di bawah lampu kota, di antah-berantah
Kau berseloroh tentang seni dan banci
Sementara yang aku gusar, mengapa kau melajukan motor ini layaknya bekicot
Kalau aku tak lelah dan mengantuk
Mungkin aku akan turun dan lari mendorong motor dari belakang
Agar motor melesat cepat dan segera sampai ke tujuan
Aku ingin pulang dan membebaskan diri
Dari pertanyaan dan ceritamu yang belum mampu kutelan
Beberapa hari selanjutnya aku terkaget-kaget mendengar cerita seorang teman yang mengaku jantungan akibat kau bonceng
Sial
Memang kau penuh teka-teki
Judging and underestimating people sometimes feels good. It makes us feeling superior than those people, rite? Or it gives us instant self confidence? Maybe that's why judging and underestimating other people has been our everyday life culture. Everyone can't deny it.
Unfortunately, underestimating people prevent us to realize that every kind of people have their own uniqueness, story, experience, and brightful thoughts that we should embrace and learn from. So, maybe it'll be better if we start, at least, positive thinking. Everyone deserve another sight side of your glasses, because we all just a human being who sometimes being nice and sometimes being a jerk too.
#Idk what I'm talking about.
#That's why it's rambling.
#That's why it's rambling.
Kali ini, saya mengisi liburan semester empat dengan magang di Hipwee. Di sana saya diwajibkan untuk membuat minimal tiga tulisan per minggu. Menulis di Hipwee memberikan pengalaman yang unik bagi saya karena tipe-tipe tulisan mereka begitu kreatif, kadang terlihat remeh dan nggak penting, tapi ternyata tidak mudah juga untuk dibuat. Walaupun demikian, saya senang bisa merasakan bagaimana vibe kantor redaksi ala Hipwee. Seru, hwhwhw.
Bagi yang ingin tahu, tulisan-tulisan saya dapat diakses di http://www.hipwee.com/author/dzikrianwar/.
Happy holiday everybody!
Bagi yang ingin tahu, tulisan-tulisan saya dapat diakses di http://www.hipwee.com/author/dzikrianwar/.
Happy holiday everybody!
![]() |
| "Static" by Cake Industries, artwork of Art|Jog|8 |
Di antara cahaya lampu kota yang berpendar di malam hari, kau mengisahkan obsesimu pada lampu atau pada apapun yang dapat mengeluarkan pendar-pendar cahaya.
Kau menghubungkannya dengan filosofi kehidupan yang kau pelajari dari yogi-yogi kenalanmu.
Aku hanya mantuk-mantuk mengiyakan sembari menikmati cahaya matamu yang berpendar gairah dan semangat.
"Aku benar bukan? Kamu memang seperti menara. Orang-orang akan berkumpul padamu tanpa kamu berbuat apa-apa. Orang akan selalu tertarik untuk melihatmu karena kamu akan selalu terlihat di mana pun kau berada."- Ratih Kumala dalam Tabula Rasa
Bagiku, pulang sekarang memiliki dua makna: pulang ke Surabaya atau pulang ke Jogja.
Malam ini Ayah melajukan mobil membelah jalanan Kota Surabaya. Menuju Terminal Purabaya untuk mengantarku pulang ke Jogja. Tanpa perlu bersusah payah mobil kami melenggang dengan cepat, karena memang suasana jalanan tengah malam begitu sepi.
Aku menikmati pendar lampu-lampu kota. Masih mengagumi betapa kota ini begitu dinamis dalam berkembang. Lihat saja, baru satu bulan tak kutengok, setidaknya aku mengamati ada empat bangunan tinggi merayap dengan sigap mencakar langit kota. Satu di kawasan Tunjungan, sementara tiga lainnya aku temui di kawasan Mayjend Sungkono, Bukit Darmo dan Candi Lontar.
Tiga hari di sini aku merasa nyaman saja untuk berdiam diri di rumah. Bahkan aku terlalu terlena hingga waktu yang ada kuhamburkan dengan bergulung-gulung di kamar. Sesekali aku merasa gagal karena tidak berhasil mendapatkan topik yang cemerlang untuk paper UAS mata kuliah Media Budaya dan Kaum Muda. Tapi, yaa... tak mengapalah.
Dulu aku selalu bersemangat untuk mengajak teman-temanku bertemu setiap aku pulang ke Surabaya. Sekedar bertemu dan mengobrol remeh-temeh. Tapi akhir-akhir ini kesempatan itu tidak lagi mudah didapatkan. Dari banyak teman yang ada hanya satu atau dua yang dapat ditemui, sementara yang lain terpisahkan oleh waktu, kesibukan, kepentingan dan agenda masing-masing.
Enam jam ke depan Bus Eka akan membawaku kembali pulang ke Jogja. Kembali bergumul dengan sisa UAS, pekerjaan dan beberapa project yang siap menanti. Menyibukkan diri hingga Lebaran mengajak pulang kembali ke Suarabaya :)
Sometimes when people grow, they go apart from their friends.
This is the last day of #31harimenulis challenge!!! I myself so happy to join this annual challenge. For me, #31harimenulis helps me to rediscover my excitement to write on this space. I used to love blogging. But when I started to go to uni, I... kinda get any reason to write on this space regularly like what I did few years ago. Because, hey, my bunch of assignments has asked me to do so! ((sok sibuk)).
Thankyou #31harimenulis for a month full of I-have-to-write-capital-EVERYDAY-unless-I-want-my-Rp20.000-fly-away. Hahaha. It's really a cool challenge. It makes me realize that I have a lot of things to share! I even made lists of things and topics I want to write. Eventho I'm not sure that someone will read my stories because now blogging isn't as popular as three or four years ago, it's doesn't matter.
For me, the best part of #31harimenulis is... It makes me realize that I always finds joy thru writing on my own blog. Like I used to.
Satu kata untuk menggambarkan semester empat: seru! Dari
awal semester ini dimulai, kami mendapatkan banyak tugas baik kelompok ataupun
individu. Salah satu mata kuliah yang rajin sekali memberikan kami tugas adalah
Jurnalisme Media Cetak alias JMC! Tugasnya pun bermacam-macam, mulai dari
mengidentifikasi unsur 5W+1H, membuat berbagai bentuk berita, hingga membuat
kolom ala-ala Tempo. Sayangnya tugas yang kami kerjakan setiap minggu tidak
pernah sempurna di mata dosen kami. Maka tak heran jika hari Rabu pagi selalu
diwarnai dengan kritik yang tiada habis-habisnya dari dosen kami.
Puncak dari perjuangan JMC adalah saat UAS kemarin! Dua hari
sebelum tanggal ujian, dosen kami memberikan brief berita yang harus kami
liput. Jumlahnya ada empat, masing-masing memiliki spesifikasi yang harus
diperhatikan, mulai dari jumlah paragraf yang diminta, nilai berita yang harus
ditonjolkan hingga penulisan gaya bahasa yang menyerupai Tempo, Sindo, Kedaulatan
Rakyat, dan Kompas. Ditambah lagi peristiwa yang menjadi dasar bahan liputan
kami juga harus fresh. Keempat berita
tersebut harus dikumpulkan dalam 48 jam!
So, instead of work hard,
we choose to work smart, hehehe. Masih teringat kami, satu angkatan
konsentrasi media, berunding mengenai strategi yang harus kami tempuh. Selepas
itu juga, kami langsung mencar-mencar
ke seluruh penjuru DI Yogyakarta untuk mencari informasi yang dibutuhkan.
Dua hari itu benar-benar menjadi hari yang berkesan. Saya
bahkan rela menenggak bergelas-gelas kopi dan tidak tidur selama dua hari
tersebut (Bohong ding, tidur kok…. tiga jam). Hari Senin pukul setengah empat
pagi akhirnya semua pekerjaan saya baru benar-benar selesai. Karena takut
ketiduran, saya langsung mandi. Sungguh dinginnya bukan main karena akhir-akhir
itu udara Jogja bisa mencapai 19°C! Selepas itu saya langsung mencari
tempat print yang sudah buka
dikarenakan printer saya rusak. Jangan
tanya deh bagaimana rasanya menembus udara Jogja pagi itu, freezing! Sampai-sampai saya mengutuk diri sendiri karena lupa
memakai jaket.
Ketika hasil cetak pekerjaan ada di tangan bukan berarti
pula saya bisa tenang. Saya sampai di kampus pukul setengah tujuh padahal batas
pengumpulan masih 7.15. Di kampus sudah banyak teman-teman lain, beberapa di
antaranya bahkan terlalu resah untuk sekadar duduk. Kami berdiri tegak di depan
pintu ruangan dosen yang belum dibuka. Banyak yang belum mandi, belum tidur (of course), dan belum sarapan (ya iyalah).
Pokoknya mah UAS JMC rasanya masih
belum afdol selesai sebelum kartu
ujian tertanda tangani oleh dosen tercinta.
Begitu waktu menunjukkan pukul 7.08 kami semakin bergerombol
di depan pintu ruangan dosen yang tak kunjung datang. Resah sudah tak
tertahankan. Begitu dosen datang, langsung semua teman-teman berubah bak
pasukan pencari bantuan BLT. Berdesakkan dan sikut-sikutan demi beberapa poin
bonus bagi yang mengumpulkan sebelum 7.15. Sungguh ya, di tengah sesak itu ada
perasaan haru dan bahagia. Semuanya benar-benar berakhir, perjuangan JMC satu
semester ini telah berakhir!
![]() |
| ramainya sudah seperti fansigning |
Selepas pekerjaan terkumpul, rasanya UAS sudah berakhir. Padahal
JMC justru menjadi ujian pertama kami di semester ini. Yaaa, semoga saja pada
akhirnya kami benar-benar lulus mata kuliah ini dengan nilai yang memuaskan.
Amin.
| source |
Aku pulang dengan spontan hari ini, sesaat setelah mengumpulkan UAS take home Psikologi Komunikasi. Selepas pikiran iseng untuk pulang tercetus, aku mengintip situs kereta api, dan akhirnya aku membeli satu tiket menuju Surabaya.
Aku pikir setidaknya aku bisa berada di rumah hingga hari Minggu. Walaupun tasku berat dengan buku-buku untuk mengerjakan take home, setidaknya I'm home. Mencoba untuk sedikit menjadi anak yang baik mengingat liburan nanti aku akan menetap di Jogja.
Sekarang aku sudah berada di atas kereta, telah melewati Stasiun Madiun beberapa menit yang lalu. Dua setengah jam lagi menuju Surabaya.
Gerbong hening, hitam pekat di luar jendela, AC yang menderu terlalu dingin. Aku tidak bisa berhenti berpikir apa makan malamku sesampainya di Surabaya.
Aktivis dan
keluarga korban pelanggaran HAM masih belum mendapatkan apa yang mereka
perjuangkan. Pemerintah perlu membuka telinga.
Pada 11 Juni 2015, Aksi Kamisan
memasuki penyelenggaraan ke-400. Digagas pada 9 Januari 2007 oleh Jaringan
Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), sebuah paguyuban korban/keluarga
korban pelanggaran HAM, Aksi Kamisan merupakan sebuah pergerakan model baru.
Tak perlu lantang berteriak dan berpeluh melawan panas, Aksi Kamisan
mendeklarasikan dirinya sebagai Aksi Diam. Tertanggal 19 Januari 2007, Aksi
Kamisan mulai digelar rutin setiap Kamis di depan Istana Merdeka, Jakarta.
Peserta mengenakan pakaian dan payung bewarna hitam, lengkap dengan tuntutan
yang ditulis di atas poster dan surat terbuka. Selanjutnya, mereka hanya diam
tak bergeming di depan jemawa Istana Merdeka, menjaga nyala lilin harapan
meskipun masih terabai dari perhatian sang penguasa.
Door stop wawancara dosen setelah mencari-cari dosen yang masih ada di kampus
*Lihat Cak Budi*
*Heboh lari-lari*
Bla
Bla bla
Bla bla bla bla
Cak Budi ...... Kamu sendiri akal sehatmu bisa nerima nggak?
*Lihat Cak Budi*
*Heboh lari-lari*
Bla
Bla bla
Bla bla bla bla
Cak Budi ...... Kamu sendiri akal sehatmu bisa nerima nggak?
Kami Nggak, Cak.
Cak Budi Ya sudah. Pertahankan akal sehatmu nggak perlu teori-teorian.
Kami *awkward* Oke terima kasih, Cak.
Lha pas ngecek voice recorder di HP,
Chiki Shit belum kerekaaaaam!!! *antiklimaks*
Kiki Haaaaah?! OMG!!!!
Chiki Noooooooo!!
Tiwi Aku ngerekam kok *antiklimaks lagi*
![]() |
| Voice recorder Tiwi yang keren banget a la wartawan-wartawan (jadul). |
Postingan edisi UAS JMC. Empat bentuk berita dalam 48 jam.
Sebentar lagi ini semua akan berakhir, sebentar lagi! Semoga semesta memberkati seluruh anak media. Wish us luck!
Judul: Dialog Sakti | Penulis: Dinda Imani Khamasasyiah|
Penerbit : Elex Media Komputindo | Cetakan : I, 2013 | Tebal: 144 halaman
|Harga: Rp 29.800 |ISBN : 978-602-02-2732-0
Sesuai dengan tagline
“an Emotional September project” yang
diangkat oleh penulis, Dialog Sakti berhasil
menghadirkan suasana yang begitu emosional bagi pembacanya. Keenam tulisan
dalam novel ini tak sulit untuk dinikmati karena diceritakan dengan mengalir.
Tak hanya berisi kumpulan cerita, novel yang ditulis oleh mahasiswa Fakultas
Hukum UI 2013 ini juga memuat beberapa puisi, foto, serta permainan tipografi
yang membuatnya semakin menarik dan utuh.
Suasana melankolis serta pemilihan kata dan diksi yang puitis
mengingatkan pembaca pada buku “Sadgenic” yang ditulis oleh Rahne Putri. Gaya
bahasa dan penuturan Dialog Sakti tak jarang juga memberikan efek serupa ketika
kita membaca beberapa karya Dewi “Dee” Lestari. Bagian menarik dalam buku ini adalah cerita
berjudul “Kisah Untuk Ras” dan “Deaf Heals My Sound”. Pada “Kisah Untuk Ras”,
penulis menghadirkan kisah percintaan dua orang remaja dari sudut pandang yang tidak
mainstream. Tak kalah mengagumkan, “Deaf
Heals My Sound” turut mengaduk-aduk emosi pembaca melalui kisah persahabatan
dua orang anak berkebutuhan khusus. Emosi serupa juga berhasil diwujudkan
penulis dalam “Tembus Pandang Tembus Harapan”, meskipun kisah ini terasa
familiar di kalangan pecinta “Chicken Soup”.
Singkatnya, buku ini
berhasil menampilkan sisi lain kehidupan remaja yang tidak melulu huru-hara dan
foya-foya. Namun, penggunaan sudut pandang orang pertama pada beberapa bagian
seakan membuat kisahnya dialami sendiri oleh sang penulis. Secara keseluruhan buku ini cocok dinikmati untuk
mengisi waktu senggang. Meskipun ringan, Dialog Sakti is worth reading and definitely
worth your money and time. (chk)
Menyesap dunia dan mencari udara segar mungkin memang cara terbaik untuk menghapuskan kesedihan.
Hari ini akhirnya aku memutuskan untuk main sebentar, menengok pameran Jogja ArtWeeks dan berlanjut ngobrol bersama Tara hingga malam.
Rasanya menyenangkan setelah satu minggu lebih banyak bergelung di kamar, mengerjakan take home hingga lewat tengah malam, tidur bersama laptop dan buku, terbangun dan mengawali pagi kembali dengan laptop.
Rasanya sedikit lega untuk menjauhkan diri sejanak dari bantal berbekas air mata itu.
Tadi aku mengunjungi "And Or Bookstore" sebuah kafe berkonsep perpustakaan.
Aku membaca beberapa buku Sesame Street dan ensiklopedia tentang dinosaurus.
Di samping itu aku dan Tara mengobrolkan banyak hal, mulai dari kegiatan dan tugas masing-masing, parenting, hingga hal-hal berbau supranatural.
Di samping itu aku dan Tara mengobrolkan banyak hal, mulai dari kegiatan dan tugas masing-masing, parenting, hingga hal-hal berbau supranatural.
Intinya memang terlalu bergulat dengan tugas tanpa banyak bertemu dengan teman-teman dekat itu tidak baik.
Tolong dicatat, ya.
Suatu hari ada seorang bapak-bapak bule di sebuah toko buku. Ditemani seorang kawan Indonesia, Bapak Bule bertanya pada SPG dimana letak buku dongeng anak-anak.
SPG bertanya pada Bapak Bule itu, mau cari buku dongeng apa?
Bapak bule menjawab: dongeng Indonesia, kawan Indonesianya lalu menjelaskan buku dongeng seperti apa yang dimaksud.
Kurang lebih cerita-cerita yang setipe dengan Keong Mas, Timun Mas, Si Kancil dll.
Si SPG mencari-mencari dan menelusuri rak satu persatu.
Menunjukkan buku dongeng full color tapi bukan dongeng Indonesia.
Ia mencari dan mencari lagi.
Sampai akhirnya Si SPG meminta maaf karena buku dongeng yang tersedia hanya semacam Rapunzel, Barbie, Smurf, Tin-Tin dll.
Irony.
Irony.
| source |
| Disclaimer: Tulisan edisi merindu liburan |
Tak
hanya materi dan waktu yang perlu dipersiapkan dalam berwisata. Banyak hal lain
yang dapat dilakukan agar wisata jadi lebih menyenangkan. Hayo penasaran nggak?
Jadi mungkin begini caranya:
Go Solo!
Jika selama ini wisata biasa
dilakukan ramai-ramai bersama keluarga atau teman, tak ada salahnya jika
sesekali kalian berkelana sendiri. Selain melatih kemandirian dan keberanian, me time dapat membantumu mengenal diri
sendiri. Sisipkanlah sedikit waktu untuk melakukan refleksi serta evaluasi
terhadap apa yang telah dilakukan. Jangan lupa amankan foto mantan dari dompet,
agar galau tidak melanda di tengah perjalanan!
Jangan Lupakan Tuhan YME
Di saat asyik berwisata,
jangan lupakan kewajiban sebagai makhluk beragama. Siapkanlah selalu sarung
atau mukena di dalam tas. Jika adzan
berkumandang, segera cari masjid terdekat. Bersyukurlah selalu atas kebahagiaan
yang telah Ia berikan dan jangan lupa berdoa agar perjalananmu diridhoiNya.
Ingat, doanya jangan tanggung-tanggung! Syukur-syukur jika mau i’tikaf, kan lumayan sekaligus memangkas ongkos
bermalam di hotel hehe.
Jagalah Kebersihan
Sebagai wisatawan yang baik,
pastikan kalian tidak membuang sampah maupun pipis sembarangan. Buanglah sampah
pada tempatnya dan pipislah di tempat yang tepat, toilet SPBU misalnya. Selain
menjaga kebersihan lingkungan, ingatlah untuk menjaga kebersihan diri. Oleh
sebab itu, siapkanlah toiletries yang
praktis untuk dijejalkan ke dalam tas. Jadi jika sewaktu-waktu merasa gerah,
langsung saja mampir mandi ke SPBU terdekat.
Berbaurlah Bersama Masyarakat Sekitar
Berwisata tak melulu soal mengunjungi
destinasi-destinasi pilihan saja. Banyak sekali pengetahuan baru yang bisa
digali dari kehidupan masyarakat lokal.
Untuk lebih mengetahui budaya dan kearifan lokal, berinteraksilah dengan mampir
ke rumah-rumah warga. Selain wawasan kalian dapat jadi lebih terbuka, suguhan
atau makan siang gratis bisa diembat sekaligus. Lumayan kan, hehe.

































