Pernahkah kita duduk di tengah keramaian, memandangi orang-orang yang berlalu lalang dan membayangkan bagaimanakah hidup mereka, apa ambisi mereka, atau apa yang mereka rasakan? Di belahan dunia yang lain, tepatnya nun jauh di New York sana, seseorang (bernama Brandon) berinisiatif untuk melakukan sebuah proyek. Lebih dari sekedar melamun dan mengamati orang-orang di sekitarnya, setiap hari ia menjelajah sudut-sudut kota New York, menyapa dan berbincang dengan penduduk kota tersebut untuk menanyakan beberapa kisah hidup lawan bicaranya.
Menurut saya, Human of New York merupakan sebuah proyek yang menarik, mereka mampu menyampaikan sisi humanis manusia dengan manis. Di balik langkah manula menyisir trotoar, di balik tawa sepasang sahabat yang sedang piknik di taman, ataupun di balik lamunan wanita yang sedang mengantri segelas Starbucks, di balik semua wajah manusia-manusia modern tersebut, mereka mengalami berbagai macam peristiwa, yang membuat mereka tetap menyandang predikat sebagai ‘manusia biasa’.
Tiap kisah manusia tersebut dapat dipotret dengan baik oleh Brandon, tak jarang kita dibuat tersenyum, terenyuh hingga ikut merasakan pengalaman-pemgalaman ironi sosok manusia yang ada dalam foto tersebut. (Lebih dari itu saya berandai-andai pendekatan seperti apa yang dipakai si Brandon ini pada orang-orang yang ditemuianya. Bukankah orang-orang barat terkenal tak mudah mengungkap privacy-nya?)



