Independensi pers Indonesia yang semakin menurun menggelitik
tokoh-tokoh seperti Bung Margiono (Ketua Umum PWI), Tifatul Sembiring (Menteri
Komunikasi dan Informasi), hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyelipkan
persoalan tersebut dalam pidatonya.
Elitis, isi yang seragam, dan kepemilikan yang
terkonsentrasi merupakan masalah utama yang sedang dihadapi oleh media
Indonesia. Mayoritas media yang telah ada belum mampu menjangkau seluruh
kalangan penduduk di negeri ini. Sirkulasi media cetak contohnya, masih belum
memenuhi standar minimal UNESCO akan perbandingan 1:10 antara surat kabar dan
penduduk. Jika dibandingkan dengan sirkulasi di negara-negara maju, Indonesia
jelas masih jauh tertinggal. Begitu pula yang terjadi dengan dunia pertelevisian
Indonesia. TVRI sebagai televisi nasional tak menjangkau luas dan kalah
bersaing, sementara televisi swasta lebih mengorientasikan kontennya kepada
penduduk urban.
Gugatan-gugatan sering dilontarkan terhadap
profesionalisme dan independensi pers yang berkaitan dengan kepemilikan,
padahal gugatan tersebut juga pantas ditujukan kepada negara yaitu regulator
media serta lembaga-lembaga yang membisu terhadap pelanggaran-pelanggaran yang
selama ini terjadi. Regulator memegang peranan penting dalam membangun iklim
media Indonesia agar tidak semakin buruk. Secara garis besar ada dua regulasi
media di Indonesia: yang menggunakan wilayah publik atau frekuensi (media
elektronik) dan yang tidak (media cetak). Media yang memakai wilayah publik
atau frekuensi sebenarnya mempunyai pengaturan yang ketat: izin harus
dikantongi, kepemilikan dibatasi, isi tidak boleh partisan, plus netral. Berbeda
dengan media cetak yang hanya mendapatkan sanksi etik dan sosial jika tidak
independen, media elektronik dapat diberikan sanksi hukum karenanya. Sudahkah
regulator memberikan sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran?
Untungnya hidupku tidak terlahir sebagai kambing atau sapi Yang dirawat dengan harapan agar cepat gemuk Atau agar cepat beranak Yang terlahir hanya untuk disembelih Bahkan disembelih beramai-ramai dalam satu hari Digilir mati Berapa banyak sapi dan kambing yang hidupnya sia-sia? Eh, bukannya segala hal di dunia ini tak ada yang sia-sia ya? Ah, namanya juga sapi, namanya juga kambing. Melenguh tanpa bisa mengeluh. Mengembik sebelum dicabik-cabik. Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H.
Fast food atau makanan cepat saji,
siapa sekarang yang tidak mengenalnya? Ia sangat pandai menggaet hati semua
kalangan masyarakat untuk berlomba-lomba mencicipinya bahkan menjadikannya
bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak, makan di restoran fast food seperti Mc Donald dan KFC
adalah sebuah kegembiraan yang pasti akan ia ceritakan kepada teman-temannya.
Bagi para remaja, menyantap fast food
sambil berlama-lama nongkrong adalah
sebuah kegiatan yang, pasti, hampir pernah dilakukan. Bagi golongan pekerja, kehidupan
era modern yang menuntut kerja serba cepat, membuat fast food menjadi alternatif mujarab
untuk bersanding dengan kesibukan dan kegiatan-kegiatan kantor lainnya.
Mahasiswa, tak luput pula telah
menjadi salah satu golongan yang menggandrungi fast food. Tugas yang tidak sedikit, kesibukan di luar akademik,
dan himpitan ekonomi untuk ngirit menuntun
mahasiswa mengkonsumsi fast food. Produk
fast food yang dekat dengan mahasiswa
contohnya adalah mie instan, dengan harga yang sangat terjangkau, mie instan
seakan sudah menjadi menu wajib penyelamat finansial di akhir bulan. Selain mie
instan, kota Jogjakarta sendiri telah banyak menawarkan restoran maupun outlet makanan-makanan
cepat saji dengan harga murah meriah, khas kantong mahasiswa. Olive
contohnya, dengan menu andalan fried
chicken yang dipatok dalam harga tujuh hingga sepuluh ribu rupiah, sukses
menjadi santapan favorit mahasiswa Kota Gudeg.
Menjamurnya restoran-restoran
fast food, utamanya di kota-kota besar, telah menjadi pemandangan
yang sangat lumrah. Mereka hadir di tengah hiruk-pikuk modernitas dan berangsur-angsur
menggeser peredaran makanan tradisional. Untuk menarik minat pembeli, strategi
pemasaran disusun secara apik. Iklan-iklan
restoran fast food ternama betebaran
di televisi, media cetak hingga baliho-baliho di jalanan. Penyajian produk diperlihatkan
begitu atraktif dan menggoda selera. Bahkan beberapa merk tak segan menggaet artis dan penyanyi ternama seperti Agnez
Monica untuk memasarkan produknya. Tak ayal, sepak terjang fast food semakin membahana dan semakin digemari oleh
masyarakat Indonesia.
Celakanya
kepopuleran fast food tidak dibarengi
dengan tingkat kesadaran masyarakat akan buruknya efek samping yang bisa ditimbulkan.
Makanan cepat saji memang praktis, tak membutuhkan waktu yang lama untuk memesannya,
namun pernahkah terpikir kandungan apa saja yang ada di dalamnya? Bergizikah
untuk tubuh kita? Usut punya usut fast food memiliki
banyak dampak yang mengerikan bagi kesehatan. Kurangnya jumlah protein,
karbohidrat dan serat yang dikandung dalam fast food dapat menyebabkan kadar
gula darah turun secara tiba-tiba setelah mengkonsumsinya. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang
panjang, tingginya kadar garam, lemak dan kolesterol yang akan ngendon dalam tubuh dapat menyebabkan
obesitas, hipertensi, diabetes, gangguan kinerja liver, hingga serangan
jantung!
Nah, meskipun sangat
praktis, murah, dan enak ternyata fast food juga tak segan-segan memberikan
sumbangan penyakit-penyakit dalam tubuh. Mengkonsumsi fast food secara terus
menerus jelaslah bukan pilihan yang baik bagi kesehatan, namun semua kembali ke
tangan kita: fast food do give us a simple and easy way,but are you sure?
Ketika
kecil, aku sempat benci dan sebal dengan namaku, Dzikri Sabillah Anwar, karena
terdengar seperti nama seorang anak laki-laki. Agar lebih lucu, ayah kemudian
memberi panggilan Chiki kepadaku. Ya, Chiki, persis seperti merk makanan ringan
yang saat itu sedang in. Setali tiga
uang, panggilan Chiki tersebut juga sering membuat aku sebal karena menjadi
bahan olok-olokan teman-temanku. Ketika aku sudah berada di puncak batas kesabaran
seorang bocah, tak jarang aku merengek dan marah-marah kepada ayah ibu agar
namaku diganti menjadi Putri, Erlina, Ayu, atau nama-nama perempuan lainnya.
Bahkan aku sempat berdoa beberapa kali kepada Tuhan agar namaku tiba-tiba berubah
atau berharap dilahirkan dalam keluarga lain dengan nama yang berbeda.
Hingga
pada suatu hari, ayah dengan baik hati menjelaskan arti namaku. Secara
keseluruhan namaku diciduk dari bahasa Arab. Dzikri dari kata dzikir yang berarti ingat kepada Allah. Sabillah
mengandung makna di jalan Allah, sementara Anwar, yang juga nama kakek dan
ayahku, memiliki arti cahaya. Sehingga jika digabungkan Dzikri Sabillah Anwar
berarti “ingat kepada jalan Allah yang penuh dengan cahaya”. Cukup indah bukan?
Yang jelas ketika itu aku cukup terbengong-bengong mendengarkan ayah bercerita.
Semenjak mengetahui makna yang tersirat dibalik namaku sendiri, aku berhenti
mengeluh dan tak pernah terpikir lagi untuk ingin berganti nama.
Namaku
tetap Dzikri, tetap sering membuat guru-guru kecele menoleh ke bangku deretan laki-laki ketika sesi absen, tetap
sering salah kode jenis kelamin, dan tak jarang membuat orang beratanya-tanya
bagaimana dari Dzikri bisa berubah menjadi Chiki. Jika Sheakespare pernah
berkata “apalah arti sebuah nama”, kiranya dia salah, aku percaya bahwa nama
adalah sebuah doa dan harapan yang diberikan orangtua kepada kita untuk
senantiasa menjadi pegingat yang menempel dalam identitas seumur hidup. Mungkin
hal ini tidak akan terdengar penting sampai ketika kita sendiri harus dan
terpaksa memilah-milah nama untuk anak sendiri. Well, a name do means a lot.