Katamu mencinta haruslah sesuai dengan standar
Layaknya takaran air dalam sereal outmeal yang kusantap tiap pagi
Atau seperti banyaknya gula dalam seduhan teh chamomile favoritku
Tapi masalahnya, siapa pula yang tentukan standar itu?
Jangan sok tahu, sergahku
Kalau ada orang yang paling sok tahu, jelas itu kamu
Jikalau standar cinta layaknya takaran air dalam sereal, jelas ia sudah kuobok-obok tiap pagi
Apa pula standar cinta layaknya gula dalam teh chamomile, jelas-jelas teh infusion lebih enak dinikmati tanpa gula
Layaknya takaran air dalam sereal outmeal yang kusantap tiap pagi
Atau seperti banyaknya gula dalam seduhan teh chamomile favoritku
Tapi masalahnya, siapa pula yang tentukan standar itu?
Jangan sok tahu, sergahku
Kalau ada orang yang paling sok tahu, jelas itu kamu
Jikalau standar cinta layaknya takaran air dalam sereal, jelas ia sudah kuobok-obok tiap pagi
Apa pula standar cinta layaknya gula dalam teh chamomile, jelas-jelas teh infusion lebih enak dinikmati tanpa gula
In my humble opinion, the word "beauty" can be very
much intimidating. Which is why some people feel scared to enter a "beauty
shop", or a "beauty salon". Some even feel shy to pick up a
product from the "beauty care" rack. That's because
"beautiful" has been so much manipulated into a general view of
having: long hair, fair skin, either skinny or body like a coke bottle, pointy
nose, unchubby cheeks, no double chin, unhairy legs, stretchmarks-free, big
round eyes, long eyelashes, thick eyebrows, long legs, and so on and so on. So
if we don't own these features, we feel like we don't belong in the beauty
industry, or even a beauty shop.
These features are nice to see and nice to have, but if we
are lacking one or two or many, it doesn't make a woman less beautiful. For me,
"beautiful" is when you have good thoughts inside your mind, a good
heart, good intentions, speak elegantly, passionate about life, dream big,
smile a lot, take care of yourself by eating good food and exercising, take
care of your family and friends, remain humble, help others, full of love and
compassion. Because our physical features change over time, but our inner self
will remain forever. Invest our time and energy in building your inside, and
you will become the real definition of "beautiful". If people still
call you ugly, then they just don't get it.
Reblogged from Diana Rikasari
Setelah
dua kali melewatkan kesempatan untuk menyaksikan The Look Of Silence, akhirnya
pagi ini keinginan saya keturutan. Di hari terakhir Festival Film Dokumenter
(FFD) 2014, The Look Of Silence kembali diputar di IFI LIP Yogyakarta.
Sebelumnya, film dokumenter karya Joshua Oppenheimer ini telah diputar pada
pembukaan FFD 2014 (10/12) di Taman Budaya Yogyakarta dan di Fakultas Ilmu
Budaya UGM (12/12). Kedua pemutaran tersebut mendapatkan sambutan yang sangat
meriah. Salah seorang teman yang menyaksikan The Look Of Silence di FIB mengaku
bahwa malam itu ruang auditorium bahkan tidak mampu menampung penonton. Sementara
itu, pemutaran yang dilangsungkan di TBY turut dihadiri langsung oleh Adi
Rukun, tokoh sentral dalam film itu. Oleh sebab itu, pagi ini saya sengaja
datang lebih awal agar mendapatkan posisi tempat duduk yang strategis. Pukul
09.15 saya telah sampai di IFI, barulah pukul 10.00 tepat, penonton
dipersilahkan memenuhi ruang pemutaran film.
Semalam aku bermimpi melihat kepalaku tersulut api
Tanganku panik mengipas rambut yang berasap
Bau helai-helai rambut yang terbakar membuat mataku pedih
Rambutku! Rambutku! aku melonjak kesana kemari, kebingungan
Kepalaku dilalap api pekikku
Sementara orang-orang lain hanya mampu menertawakan ketidakberuntunganku
Betapa gemarnya orang-orang menganggap kesialan orang lain sebagai bahan tertawaan
Kau pikir lucu, dasar bodoh!
Lalu dalam mimpi itu aku berlari menuju danau
Kubenamkan kepalaku dalam airnya yang bening
Tiga empat detik
Kuangkat kembali kepalaku, sambil terengah aku melihat pantulan wajah dan kepalaku yang berasap
"It's okay, ini cuma mimpi" kata aku yang ada dalam permukaan air danau.

