Selama di Jogja, sudah tiga kali saya memperhatikan tikus
dengan seksama. Dua kali saya lihat dari tempat jemuran pakaian di kos, dua
kesempatan itu tikus sedang menuruni pipa saluran air dengan hati-hati menuju
lantai satu. Nah kemarin, ketika terbengong menunggui tukang kunci yang
berpraktek di pinggir Selokan Mataram, mata saya menangkap seekor tikus sedang
menyusuri pinggiran kolong jembatan dengan hati-hati. Anehnya, sejauh ini
tikus-tikus yang saya jumpai di sini lucu-lucu. Bahkan ketika kali pertama melihatnya,
saya memekik dalam hati “Ih imutnyaaaaa”. Kali kedua, saya gemas, karena gerak
langkahnya yang terlalu hati-hati (untuk ukuran seekor tikus), membuat saya berniat
menyentil tikus tersebut dengan karet gelang. Dan yang ketiga kalinya, saya
justru bersimpati dengan tikus di pinggir Selokan Mataram, waktu itu saya sempat
mendoakannya agar tidak terjatuh karena aliran sungai sedang cukup deras.
Jangan salah sangka dulu, tikus di sini imut lho. Bahkan
mungkin kamu yang mengaku imut-imut kalah imut. Jangan bayangkan pula
tikus-tikus di sini seperti tikus-tikus yang ada di Surabaya: item,
menjijikkan, gede-gede setongtong.
Tikus Jogja imut karena badan mereka kecil, menggemaskan dengan ekor mereka
yang panjang. Bulu mereka tidak hitam, tidak dekil seperti ketumpahan oli
begitu, bulu mereka coklat-mengilap jika ditimpa cahaya matahari. Bule sekali. When you look in into their eyes, they will
look so innocent. Mata mereka seolah-olah memancarkan kata-kata "aku ini
makhluk kecil yang hanya ingin bertahan hidup”. Digabungkan dengan bentukan
moncongnya dan telinga mininya yang pendek,
they look gorgeous as well, pet-able. Any
way, lebih cute dari Sccabbers-nya
Ron bahkan.
Oke, memuja-muja tikus sebanyak dua paragraf terdengar cukup
aneh juga. Mungkin tikus yang saya lihat selama ini adalah satu sosok tikus
peliharaan seseorang yang sedang
berpetualang, atau memang tikus-tikus di Jogja memang jenisnya begitu, saya
juga belum yakin benar. Nanti kalau saya sudah ketemu tikus yang dekil, hitam,
perutnya buncit, yang geraknya terbirit-birit setengah-mati seperti maling
motor, pokoknya seperti tikus-tikus yang selama ini saya lihat di Surabaya, I’ll tell you later. Atau nanti saya
tanyakan orang Jogja asli, seperti apa wujud tikus mereka yang sebenarnya.
Ini bukan masalah tikus saja sih, it’s more likely that I realized something: how we easily judge
something, until I realized we always end up almost everything comparing this
to that, especially comparing something new to something we have experienced
years before. Mungkin karena bukan
di tempat tinggal asal dan hampir semua teman-teman yang merantau sering
membanding-bandingkan suatu hal di Jogja dengan hal yang sama yang ada di kota
domisili masing-masing. Mulai dari menyangkut hal-hal kecil seperti tikus tadi,
hal-hal yang berhubungan dengan kepuasan pribadi seperti rasa makanan lokal dan
fasilitas kota, hingga hal-hal yang berhubungan dengan bahasa-kultur masyarakat
setempat atau kultur kampus yang bacampoa-campoa.
“Susah nemuin mie ayam enak di Jogja”
“Emang!
Yang paling enak dan paling banyak franchisenya pun rasanya gitu-gitu aja.
Padahal di Surabaya tuh rombong aja udah enak”
“Di
sini polisinya tuh nggak se-dedicated di Surabaya”
“Aku
belum nemuin ACE Hardware di sini, padahal di Malang ACE empat lantai”
“Iki
lo siomayne perasaan biasa ae cok, tapi mesti rame. Adoh pek ambek sing nang
Manukan”
“Pokoknya
nggak ada enak-enaknya lah di Jogja ni, bongak lama-lama awak di sini matilah!
Pengen pulang Pekanbaru eee”
…. And things like that.
Namun
di sisi lain justru memang itu keunikan manusia kali ya. Di mana pun kita
berada, kita selalu akan membandingkan. Pasti membandingkan. Sebelum mengakui apakah
sesuatu itu lebih baik atau lebih buruk daripada yang telah terbiasa. Kalaupun
tidak berniat berpraktik primordial pun, toh cuma iseng-iseng nyeplos saja. Gawe abang-abang lambe.

.jpg)






























