Sudah beberapa kali saya memikirkan orang yang sama. Oke, berkali-kali maksud saya.
Tapi saya kadang juga menyadari akan kenyataan yang sedang terjadi.
Telah saya yakinkan, entah untuk kesekian kalinya, pada diri saya sendiri. Bahwa jika toh saya tidak bisa menjangkaunya, itu berarti ada rencana dari Tuhan yang lebih baik untuk saya, lebih dari yang saya inginkan. Untuk kesekian kalinya pula, saya berusaha memikirkan kekurangan-kekurangan orang tersebut sehingga saya bisa melapangkan dada untuk tidak menerima orang tersebut di hati saya.
Sudah sering saya terapkan hal-hal di atas untuk mengatur perasaan hati saya. Efektif? Ya, terkadang. Apalagi jika ditambah dengan berbagai macam kesibukan, niscaya saya akan lupa padanya dalam sekejap. Tetapi jika suntuk dan kegalauan datang menyindir-nyindir kesendirian, semua benteng itu, pastilah runtuh adanya.
Rindu kadang, menyesakkan.
Melihatmu berlari mengejar asa harapan.
Meninggalkan serpihan warna yang kau goreskan.
Seharusnya dapat ku sibakkan belenggu yang kau tanam.
Tapi jala-jalamu telah melekat dengan tajam.
Dalam.
Maka jalan terbaik adalah menunggu waktu menggelontorkan noda yang sedikit banyak telah mencemari hati.
#prayforme
CHIKIANWAR.
2. Sayang sama kakak.
3. Nggak tahu kenapa dipanggil Chiki. Dari kecil udah dipanggil Chiki.
4. Waktu kecil nggak suka sama nama lengkapnya soalnya kayak cowok.
5. Selama SD dipanggil Dzikri.
6. Anak rumahan.
7. Kadang suka jalan-jalan di mall sendiri ndil.
8. Suka baca novel dan buku, kecuali buku pelajaran (husss).
9. Nggak suka beli barang (baju, jam, aksesoris) yang lagi ngetrend.
10. Suka stres sendiri kalo lagi laper.
11. Nggak pilih-pilih makanan, omnivora, makan apa aja.
12. Tapi paling nggak bisa makan kerang sama nanas.
13. Walaupun nggak suka nanas doyan banget nastar beserta selai nanasnya.
14. Nggak pernah bosen sama jus apokat dan cumi-cumi.
15. PALING BENCI asap rokok.
16. Paling jijik, geli, takut sama kodok.
17. Suka bayi tapi benci anak kecil.
18. Pengen banget bisa ke Lombok dan Raja Ampat.
19. Tiga kali pacaran, tiga kali diputusin.
20. Single.
21. Kampung.
22. Pulang pergi biasa naik bemo.
23. Belum berani naik sepeda motor sendiri.
24. Pengen banget punya motor matic.
25. Cat kamar warna-warni kaya TV yang lagi gangguan.
26. Agak psikopat.
27. Kapok pake pembersih wajah macam ponds.
28. jhgtrewqSensitif.
29. Punya masalah dengan PMS.
30. Suka galau dan gelisah serta resah.
31. Pelupa.
32-100. Lupa. Hahahahaha >____<
Kali ini saya akan mempromosikan event dari SMA Negeri 5 Surabaya yang dimana juga kebetulan saya menjadi salah satu panitianya. Hitung-hitung ini bantuin anak-anak humas hehe.
Pasti adik-adik semua udah nggak asing lagi dengan ajang S2EC (Smala Science and English Competition), acara ini adalah sebuah perlombaan bergengsi dibidang sains, bhs. Inggris dan ilmu pengetahuan umum yang rutin diadakan setiap tahunnya oleh siswa-siswi SMA Negeri 5 Surabaya. Tahun ini S2EC berubah nama menjadi S2LC, Smala Science and Linguistic Competition. Perubahan nama ini dikarenakan pada kesempatan ini ada satu bidang pelajaran baru yang dimunculkan yaitu BHS. INDONESIA. Tentunya kita pasti masih sangat jarang sekali kan mendengar ada Olimpiade Bhs. Indonesia di negara Indonesia? S2LC 2011 mengambil langkah untuk membuat terobosan baru dengan mengolimpiadekan bahasa ibu kita sendiri. Harus bangga dong sama bahasa sendiri? ;)
Dengan mengangkat tema “Synergy of Culture and Science”, S2LC yang akan berlangsung pada tanggal 7-8 dan 14-15 Mei 2011 ini mengajak adik-adik yang duduk di bangku sekolah menengah pertama untuk saling berlomba dalam ilmu pengetahuan serta mengajak adik-adik untuk mengenal soal-soal dan lingkungan SMA Negeri 5 Surabaya. Hitung-hitung buat pemanasan tes RSBI, hehehe.
Kami sebagai panitia yang berjumlah kurang lebih seratus orang, sudah mempersiapkan acara ini sejak bulan Januari. Oleh sebab itulah, ayo ikut S2LC! Tunggu apa lagi, buruan daftar sekarang! Awas kalo nggak! Pulang gak selamat! (Oke, ini mulai mengarah ke anarkisme dan pedopilia --) Pokoknya, dijamin seru deh :) Hehehehehe.
Xera memandangi sebuah potret dirinya bersama seorang lelaki. Dipandanginya foto itu lekat-lekat, di lain dimensi, otaknya berpacu mengingat seluruh memori yang telah ia ciptakan bersama seulas wajah lelaki yang tersenyum menjulurkan lidahnya dalam foto itu. Menitiklah bulir air mata Xera. Ia lalu menghapus titik air mata di pipi, dan menempatkan foto itu kembali di bawah tumpukan baju lemarinya.
Sudah tiga bulan berlalu. Namun Xera masih berharap menerima telepon atau setidaknya sebuah pesan pendek dari Rama. Lelaki yang dulu pernah dekat dengannya. Xera membenci kehadiran Rama dalam setiap mimpinya, karena berbalik fakta pada keadaan dunia nyata. Rama yang ditunggu-tunggu tak pernah lagi menyapa Xera dengan wajah sumringah serta mata yang berbinar-binar. Betapa Xera membenci keputusannya untuk memberikan kesempatan kepada Rama dulu, untuk bisa dekat dengannya. Selebihnya, Xera merasa terlalu bodoh karena telah membiarkan dirinya jatuh hati kepada lelaki misterius itu.
“I don’t understand how I can smile all day long, but cry myself at night. How pictures never change but people in them do. How you would do almost anything to get some moment back. Or how people can erase you easily from their lives or their minds.”
Tulis Xera di sebuah kertas yang kemudian ia remas-remas dan ia lemparkan ke dalam tempat sampah di pojok kamarnya. Gadis itu lalu beranjak tidur, serta berharap tak memimpikan Rama kembali.
***
Dua bulan yang lalu, Xera masih menikmati kenyamanan yang ia rasakan ketika ia berada di sekeliling Dio. Betapa ia gemas dengan sikapnya yang sedikit menyebalkan tapi mampu membuatnya terpana. Di lain sisi, Xera juga mampu membuat Rama merasakan kehangatan ketika gadis mungil yang cerewet itu mengoceh dengan riangnya saat mereka berada di sebuah kedai minum kopi. Ada rasa yang nampaknya harus terucapkan di antara mereka, dan Rama, sedang menunggu saat yang tepat.
Rama masuk begitu saja ke dalam kehidupan Xera, serta merta, dan Xera tak bisa mengingat dengan cukup jelas bagaimana hal itu terjadi. Awalnya Rama suka mengomentari status-status yang dituliskan Xera di sebuah jejaring pertemanan. Komentar yang ditulis Rama untuk menimpali pemikiran Xera mengenai berbagai macam permasalah sosial, lama kelamaan membuat Xera cukup penasaran dengan sosok Rama.
Di waktu itu, sebenarnya Xera telah menjalani hubungan dengan seorang lelaki yang amat mencintainya. Namun Xera merasa, mengenal lelaki lain adalah haknya dan bukan merupakan sesuatu yang pantas dipermasalahkan dengan kekasihnya itu.
Singkat kata, Xera bertemu Rama dalam sebuah acara bakti sosial. Ia dan Rama sama-sama menjadi panitia khitanan massal yang diadakan sekolah mereka. Xera melihat betapa cekatannya Rama dalam membantu bocah-bocah yang akan dikhitan, ia menyunggingkan senyumnya kepada Rama waktu pandangan mereka bertemu.
***
Sebuah tiket keberangkatan kereta api telah berada di tangan Xera. Ia telah menempuh studi tiga tahun SMAnya dan bersiap-siap untuk menjalani kehidupan mandiri barunya di luar kota, jauh dari siapa pun.
Sepanjang waktu setelah Rama pergi menjaga jarak dengan Xera tanpa alasan, Xera perlahan-lahan berusaha menerima kenyataan. Mengemas kembali isi hatinya, berusaha menyibukkan diri dengan berbagai macam bimbingan belajar dan kegiatan lain, serta dengan sekuat tenaga berusaha acuh tak acuh pada apa yang dulu pernah terjadi di antara mereka.
Enam menit lagi, kereta api yang akan mengangkut Xera ke Jogjakarta akan berangkat. Xera yang telah menata barangnya kini duduk memandang orangtuanya dari dalam jendela kereta. Tak lama kemudian, kendaraan itu mulai melaju meninggalkan kota kelahirannya. Xera tersenyum dengan berat hati, melambaikan tangan kepada orangtuanya.
01:34 am
Berkedip lampu led merah di BB milik Xera, menandakan ada pesan masuk.
“You were everything, everything I wanted. We were meant to be, supposed to be, but we lose it. I was too blind to see. All of our memories so close to me just fade away. All this time I was pretending so much for your happy ending. Take care, Xera.”
Xera terkejut, memorinya melesat kembali ke dalam kotak yang telah berusaha ia kemas rapat-rapat.
untuk andromeda yang tak pernah terjangkau.
Huahahaha, judul diatas kedengeran kaya judul-judul novel zaman 70an: “Aku dan Vespaku”. Biarin =)) Lagi nganggur aja sih, nggak tahu kenapa tiba-tiba mau nulis anekdot tentang bemo gini, hehe, pengen aja.
Naik bemo udah jadi keseharianku. Nggak tahu kenapa sejak kelas satu SD aku udah biasa naik bemo kalau pergi ke tempat les yang jaraknya kurang lebih dua kilometer dari rumah. Kalau buat pergi ke sekolah dulu sih biasa naik sepeda “pancal”.
Nah ketika SMP, balada bemo MLK ini mulai bergoyang *bergoyang jareee*
Awalnya, dulu waktu masih zaman-zaman kelas tujuh, aku diikutin antar jemput sama orang tuaku. Mungkin karena kasian gitu kali ya kalo harus naik bemo mengingat rumah ke Spensa jaraknya kurang lebih dua puluh dua kilometeran. Orang tuaku gak mungkin dan gak mau repot-repot nganter jemput. Alhasil ya begitulah, kehidupan kelas satu terasa datar sekali. Dijemput pagi-pagi buta jam setengah enam, kalau bel sekolah berdering langsung pulang. Kadang juga masih sempet naik bemo sih, kalau pas hari Jumat gitu ada ekstra basket yang bubarnya jam setengah enaman. Kan gak mungkin banget si Pak Dodik (supir anjem) nungguin.
Dan nggak tahu kenapa ada satu perkataan anak yang masih tak inget sampe sekarang.
X : Kamu dijemput ta?
Aku : Nggak lah, aku naik bemo.
X : Ya Allah chik, orang tuamu itu lho kemana aja masa nggak njemput kamu magrib-magrib gini?!
Aku : *mbatin* Siap-siap belajar hidup susah.
Yah, sudah abaikan. Ketika kelas delapan, aku sama dua orang teman seanjemku yang lain hengkang dari mobil kijang putih tersebut. Waktu itu, gara-gara BBM lagi naik, tarif antar jemputku juga naik menjadi 400.000an sebulan. Gila banget kan, padahal kalo naik bemo sebulan bisa cuma 5000 x 26 = 130.000 Berhubung masku bawa motor sendiri waktu SMA, alhasil aku naik bemo cuma pulangnya doang. Jadi sebulan cuma merogoh kocek 65.000 aja buat transport. Sungguh ide yang sangat brilian sekali untuk menghemat 335.000 =))
Nah, semenjak rutin naik bemo. Aku jadi akrab sama anak-anak Spensa yang rumahnya juga di daerah Tandes. Ada Aicha, Silmi, Dewi, Tya, Lily, Bonita, sama Fia. Pada akhirnya kita menamakan diri dengan TC alias Tandes Community, huahahaha, gak elit banget namanya. Tapi biarin lah =)) Mereka, satu kata, HEBOH BANGET. Hahaha ;) Kita selalu bikin bemo gaduh dan.... bergoyang. Kehebohan ini terjadi karena kita pasti naik satu bemo yang sama. Nyegat bemo bareng-bareng dan nggak mau naik kalau ada beberapa orang yang nggak keangkut.
Pasti adaaaaa aja hal-hal yang dilakuin, dari mulai nggosip dengan Tya dan Silmi sebagai biangnya, ketawa ngakak sampe mbuat penumpang lain sinis, neriakin nama bapak-bapak penjaga gerbang tol margomulyo sambil dadah-dadah, foto-foto sama “es jeruk mahal” ditangan, sampe mainan gak jelas dimana yang kalah harus senyum tiga jari sambil dadah-dadah heboh ke arah kaca luar belakang bemo yang nantinya diliatin sama pengguna jalan lain, lak yo nggilani seh =))
Sensasi supir ngebut pun selalu jadi “permainan” yang tak kalah seru. Tiap kali supir ngepot-ngepot kita ngedempis anak-anak yang ada di pojokan. Belum lagi kalo ngebutnya waktu lagi ngelintasin gundukan rel kereta api, wiiiiing, berasa terbang, sak bemo bersorak semua. Saking serunya sama apa yang kami lakuin di dalem bemo biru bergoyang itu, jarak Spensa-Tandes jadi gak kerasa. Tahu-tahu udah mau nyampe gitu aja.
Kalau suasana lagi garing, satu persatu anak-anak mulai tumbang, ketiduran. Dan ini kadang jadi momen yang lucu. Misal semua lagi mbicarain tentang sesuatu, dan kemudian ada satu anak yang ketiduran, kita abadikan rame-rame ke dalam kamera sambil nahan cekikikan. Dari semua anggota TC, yang paling mudah tidur adalah Tya dan Silmi dan Fia, dan Aicha dan Lily (kabeh ae, huahaha) Rekor tak pernah tidur masih saya pegang bersama Bonita. Sehingga ketika foto tidur anak-anak TC sudah tersebar santer di Facebook, saya dan Bonita masih bisa tertawa lebar.









Cerita-cerita perjalanan Spensa-Tandes diatas berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Sangat menyenangkan memang, melewatkan dua puluh dua kilometer bersama mereka. Panas-panasan bareng, banjir dan kehujanan bareng, dimarahin supir sama penumpang bareng, nggosip bareng, dan lain-lain.
Sekarang semua udah pada pisah sekolah, udah sangat amat jarang sebemo sama-sama lagi, dan kayanya mustahil.
Silmi sama Aicha di SMA Negeri 2 Surabaya
Tya sama Dewi di SMA Negeri 11 Surabaya
Lily di SMA 4 Surabaya
Tinggal aku, Bonita, sama Fia yang satu sekolahan. Itupun kita juga udah jarang pulang bareng karena kesibukan masing-masing. Nggak ada acara tunggu-tungguan buat pulang bareng kaya yang di SMP dulu.
Sekarang setelah nggak ada mereka, perjalanan pulang di atas bemo lebih sering saya lewatkan sendiri. Sebagian besar waktu perjalanan saya lewatkan dengan melamun, mencuri dengar pembicaraan penumpang lain, atau kadang mencoba membaca buku.
Aku kangen sama kalian, sama bemo biru neon yang bergoyang banget, banget, hehe.
You’re all, unforgetable and unbeatable gals ;)
XOXO
Chikianwar
Ehm, good morning fellas.
Nampaknya kebahagiaan dan momen yang saya tunggu-tunggu yaitu seperti yang sudah saya tuliskan di posting sebelumnya, terhapuskan. Dengan datangnya surat pemberitahuan resmi dari staf SMA Negeri 5 Surabaya, minggu pekan usek ini dinyatakan sekolah tidak akan meliburkan total kegiatan pembelajaran siswa kelas sepuluh dan sebelas.
Maka, saya dan angkatan kakak kelas saya “hanya” akan menikmati libur selama tiga hari secara bergantian. Hari senin-selasa (21-22 Maret 2011) dan senin esoknya (28 Maret 2011) dijadwalkan kelas sepuluh “belajar di rumah” dengan tugas satu bendel yang sudah disediakan oleh para guru, sementara kelas sebelas menikmati KBM dengan jam efektif normal (delapan jam) di sekolah ketika kami -kelas sepuluh- libur, begitu pula sebaliknya.
Koor kekecewaan sempat terdengar di kelas saya dan mungkin juga di beberapa kelas yang lain ketika Pak Damari (staf kesiswaan Smala yang baru) mengumumkan tentang kebijakan yang diberlakukan untuk kelas sepuluh dan sebelas pada pekan ujian sekolah lewat speaker. Tapi tak lama setelah itu, keadaan normal kembali. Nampaknya Smalane bisa cukup lapang dada menerimanya.
Tak lama kemudian, karena tak ada kerjaan, saya membuka timeline twitter. Sekolah-sekolah lain juga nampaknya juga baru saja mengumumkan tentang “pekan liburan yang sirna”. Hal itu, sepertinya membuat siswa-siswa mereka geram. Berbagai macam tanggapan berderet-deret memenuhi timeline saya. Ada yang sekedar mengeluh, kecewa, dan kebanyakan lagi memaki, beberapa diantaranya ada juga yang menggagas inisiatif untuk demo dan bolos bersama. Ya, semua orang berhak mengemukakan pendapat dan perasaan masing-masing. Sayangnya, protes dengan menggunakan bahasa yang cukup sangat sarkatis seperti kebanyakan yang saya lihat pada waktu itu cukup membuat saya dan teman-teman saya ngeri dan mengelus dada.
Terlepas dari keinginan untuk libur full satu minggu serta kebijakan yang berbalik arah tersebut, entah kenapa tiba-tiba saya jadi merasa nriman. Kecewa, ya ada. Tapi mau diapain lagi, masuk dan belajar toh, mungkin tak ada salahnya. Para pembuat kebijakan pun pasti punya alasan yang logis dan jika kita mencernanya dengan kepala dingin pastilah kita semua bisa mengerti dan mengiyakan kebenarannya. Disamping itu, itung-itung ngewangi soro mbak mas yang lagi ujian sekolah. Kasian mereka lagi susah-susah ujian masa iya kita mau tertawa dan bersenang-senang di atas penderitaan mereka? *ngeles*
Maka mungkin pilihan yang paling tepat adalah menerima kebijakan dengan ikhlas. Saya pribadi merasa lebih baik begitu, karena secara sadar saya belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk sekolah saya. Masa iya belum bisa ngasih apa-apa sudah mau menuntut “apa-apa” untuk mematahkan kebijakan yang esensi dan faedahnya sudah jelas-jelas ditujukan untuk kepentingan kita sendiri?
“Jangan bangga jika kamu bersekolah di Smala. Tapi banggalah jika kamu sudah bisa memberikan sesuatu untuk Smala”
-Vicky Aditya R. (Waketos I OSIS SMA Negeri 5 Surabaya)
No Offsense, #galau, #rindulibur, #prayforme
CHIKIANWAR.


