satu permintaan saja ya?
biarkan saja hujan turun, bisa?
aku sudah gerah tidur berlumur keringat
aku sudah gerah syarafku ditarik kencang ke ubun-ubun
tapi boleh aku minta pengecualian?
jangan datang bersama memori
jangan jadi hujan kelabu lagi
rasa-rasanya tak pantas
setelah sekian lama, harusnya kau sudah bermuara ke lautan, semoga saja.
Karnaval?
Dalam rangka?
Jadi
karnaval ini adalah acara yang telah dipilih untuk memperingati hari ulang
tahun SMA Negeri 5 Surabaya ke-54 yang jatuh pada 18 Oktober 2011 kemarin.
Memang sih, nggak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika HUT Smala selalu, ya
selalu, diwarnai dengan acara kebanggaan kami, Cheerliar. Tahun ini ada yang
beda, Cheerliar ditiadakan untuk beberapa alasan. Nah, sebagai alternatif
penggantinya, panitia Rendezvouz 2011 mencetuskan acara ini.
| persiapan karnaval |
| lapangan utara sebelum karnaval |
Terus
ngapain aja?
Karnaval
kemarin dimulai pukul setengah delapan. Entah tema karnaval yang sebenarnya
kemarin itu apa, saya juga bingung sendiri karena masing-masing gen dandan
heboh-heboh tak karuan. Ada yang bergaya dengan baju tidur, boneka dan bakiak
tapi di sisi lain ada yang berdandan seperti raja dan ratu, bahkan Napoleon Bonaparte
muncul juga. Selain itu banyak pula yang dandan ala badut, Donal Bebek dan Winnie the Pooh. Salut deh buat Smalane yang bener-bener niat panas-panasan
pakai kostum badut sambil keliling-keliling.
| badut dan upin-ipin dari Gen Limo |
| para pangeran dari Gen Songo |
| B3ST (Gen Tiga) dan maskotnya |
| pasangan kerajaan |
Keliling
kemana?
Ohya,
buat rute karnavalnya berjalan dari gerbang Smala, lewat ke Jalan Ambengan
terus lewat jalan kecil sebelah SMA Trimurti itu, lanjut depan Grahadi, Balai
Kota dan kembali lagi ke Smala. Sepanjang perjalanan berhasil membuat kegaduhan
dengan pukulan senar drum dan
yel-yel, kadang menyanyikan lagu Mars Smalane dan Kami Pemimpin Bangsa. Kadang
juga terdengar teriakan protes “Kami ingin Cheerliar, kembalikan Cheerliar!”
Huahaha, rute yang lumayan jauh ini berhasil membuat peserta menggos-menggos.
| Joker wannabe riding bike |
| menyemut |
| tampak belakang: Spartan Gen Songo |
Tapi
kalau dipikir-pikir, lucu juga kemarin itu, disaat sekolah lain sibuk-sibuknya
UTS atau remidi. Kita malah lunjak-lunjak konvoi gak karuan. Keliatan deh
hedonnya =))
Habis
itu, udah?
Sesampainya
di Smala, masih ada satu acara lain yang
nggak kalah bikin histeris Smalane. Lomba hias tumpeng diadakan di
tengah-tengah lapangan selatan. Walaupun matahari Surabaya siang itu berada
pada suhu tertingginya, Smalane nggak surut buat dukung gennya masing-masing.
Kontan suasana lapangan jadi rame banget. Semua gen sambil nyemangatin juga
unjuk gigi, ngebentuk piramid, menyuarakan yel-yel gen masing-masing, nunjukin
kemampuan dance dan lain-lain. Riuh
ricuh, semua warna kaos-kaos gen tumplek
blek jadi satu di lapangan, dijamin semua pasti merasakan dehidrasi tak
tertahankan di ujung ubuh-ubun, hahaha :D
| Axi Lima hias tumpeng |
| Angels (2) |
| Limo (5) |
| bagaikan cendol |
| lautan cendol |
| terhempas melayang |
| menggapai valmay |
Setelah
itu ngiyup lagi ke koridor bersama gen masing-masing, diawali dengan doa buat
almamater tercinta yang dipimpin oleh Pak Bambang, segenap akademika SMA Negeri
5 Surabaya lalu makan besar dan menyerbu tumpeng yang tadi telah dilombakan.
Over
all, acara ini berhasillah intinya mengobati kekecewaan Smalane. Akhir kata,
selamat ulang tahun SMA Negeri 5 Surabaya semoga tetap jaya dan tetap konsisten
untuk mencetak generasi pemimpin bangsa dan pemimpin peradaban :)
all photos taken from Smala Pers 2011's blog.
"kalau cuma sekedar menjadi 'orang yang berguna bagi bangsa dan negara'
itu bukan mimpi namanya,
maaf saja, asal anda tahu, sampah itu berguna,
tukang sampah pun juga berguna bagi bangsa dan negara"
bapak-bapak tukang promosi salah satu bimbel ternama
![]() |
| aku, ulan, rossi. |
Aku yang mana hayoooo coba tebaaak :D Uwaaa, I miss my childhood. Dulu di belakang rumahku ada kos-kosan, banyak anak kecil seumuran. Jadi waktu itu masa kecilku bahagia banget, wkwkw, sering main. Boy-boyan, ujan-ujanan rebutan cacing, lompatan, masak-masakan, onoook ae wes pokoke :) Hmmmm :')
| putihnyaaa -___- |
| mas billll =)) |
Steven Shimmon. Datang di awal aku kelas sepuluh. Jauh-jauh dari San Fransisco, California, USA buat ngeliat sekolah-sekolah Islam di Surabaya. Nginep sekitar seminggu di rumah dan berhasil diajak muter-muter Surabaya sama Mas Bill (yang waktu itu lagi pengangguran nunggu kuliah dimulai) sebagai guide-nya. Nggak kayak Laura yang masih bisa Bahasa Indonesia, Steve ini sama sekali nggak bisa ngomong sama bahasa sini. Jadinya kalau dia komunikasi sama ibu gitu cuma dijawab yas-yes dengan bahasa-bahasa tubuh geje gitu sambil senyum-senyum. Tapi, Steve ini friendly, communicative, dan gaul banget, di negaranya sana dia jadi guru ekonomi. Huehehe. Inget Steve, inget rujak cingur =))
sebenarnya kita ini sedang krisis,
krisis kepercayaan
satu sama lain, pihak satu dengan pihak lain.
batu ditabrakkan dengan batu, apa jadinya?
Lucu ya, uang Rp 20.000 terlihat begitu besar jika dibawa ke kotak amal, tetapi begitu kecil jika kita bawa ke supermarket.
Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di masjid, tetapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati film di bioskop.
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tetapi betapa bosannya jika imam salat tarawih kita kelamaan bacanya.
Lucu ya, susah banget baca Al Qur’an 1juz, tetapi novel best seller 100 halaman pun habis dilalap.
Lucu ya, orang-orang berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut shaf paling belakang bila jum’atan agar bisa cepat keluar.
Lucu ya, susahnya orang mengajak berpartisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya tanpa diminta orang berpartisipasi menyebar gosip.
Lucu ya, kita begitu percaya pada apa yang dinamakan koran, tapi sering kita mempertanyakan apa yang dikatakan Al Qur’an.
Lucu ya, semua orang inginnya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara, atau melakukan apa-apa.
Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di masjid, tetapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati film di bioskop.
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tetapi betapa bosannya jika imam salat tarawih kita kelamaan bacanya.
Lucu ya, susah banget baca Al Qur’an 1juz, tetapi novel best seller 100 halaman pun habis dilalap.
Lucu ya, orang-orang berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut shaf paling belakang bila jum’atan agar bisa cepat keluar.
Lucu ya, susahnya orang mengajak berpartisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya tanpa diminta orang berpartisipasi menyebar gosip.
Lucu ya, kita begitu percaya pada apa yang dinamakan koran, tapi sering kita mempertanyakan apa yang dikatakan Al Qur’an.
Lucu ya, semua orang inginnya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara, atau melakukan apa-apa.
copy from: Mbak Tsalitsa Fajrina's Blog
hujan bulan oktober turun untuk yang pertama kalinya tahun ini
ia menggelontorkan kehausan akan dirinya yang dinanti-nanti
ia menghujamkan rintiknya, menguapkan tanah
aku bilang "bisa hapus saja baunya? aku mau tidur"
"sudahlah" jawabnya "nikmati saja"
"sudahlah" jawabnya "nikmati saja"
hujan pertama tahun ini
aku tak pernah sebahagia ini.
iya aku tahu ini geje banget -______-"
Aku sedang
menunggunya, disini terduduk di sebuah rumah makan tua yang terletak di belokan Jl. Praban. Entah untuk kesekian kalinya,
dia bersedia menemaniku memenuhi keinginan konyolku. Pekan lalu aku berkhayal
panjang lebar kepadanya ketika kami melintasi daerah Jl. Tunjungan,
“Kau tahu? Aku
pengen jalan-jalan di sekitar trotoar ini. Dari mulai ujung tadi, masuk ke
perkampungan di belakang gedung-gedung itu, menerobos Pasar Genteng Lama dan beli
manisan salak, lalu kemudian keluar lagi lewat depannya Hotel Majapahit ini,
berfoto di depan grafiti-grafiti yang dibuat Monica Never Comes, terus dan terus jalan sampai di depan seniman
pelukis karikatur di depan Tunjungan Plaza situ, dan berakhir di Ranch Market”
“Jalan kaki? Jadi turis di kota
sendiri?” ujarnya sambil menyunggingkan senyum jenaka.
“Ya ayo aja” tambahnya dengan cepat.
***
Akhirnya ia tiba juga.
“Terlambat dua puluh menit” gerutuku.
Ia cuma nyengir, tak banyak omong ia menarikku untuk bangun dari duduk. Ia menyerahkan
topi yang sengaja ia bawa dari rumah untukku, tahu saja aku tak kuat panas.
Sebenarnya aku tak mau bercerita
panjang lebar. Yang jelas perjalanan kami siang itu terasa sangat singkat.
Diakhiri dengan dua cangkir ice lemon tea
dan obrolan panjang lebar di bawah bangku berpayung Ranch Market. Kata dia,
aku bau matahari. Kataku, dia bau busuk.
Tampaknya hari itu, berandal beli topeng
baru. Tetap saja terpukau karenanya.


