Yang Terhormat Menghibur

May 30, 2015

Kemarin malam ada hiburan gratis di kampus saya. Teater Selasar yang sudah lama vakum akhirnya menggelar pentas pertamanya, #akhirnyapentasjuga! Sejak awal poster disebar, saya sudah janji kepada diri sendiri bahwa saya harus nonton pentas mereka. Ditambah lagi, para pemainnya adalah teman-teman saya sendiri yang sudah terkenal ahli di bidangnya, ada Mahar, Panda, Jeki, dll. Oleh karena itu, saya yakin jika tontonan yang mereka sajikan tidak akan mengecewakan.

Pukul tujuh malam saya dan teman-teman sudah berkumpul di Selasar Barat Kampus Fisipol UGM. Di sana sudah tersaji satu rombong jagung rebus, kacang rebus, bakso tusuk, teh dan wedhang jahe yang disediakan gratis bagi penonton. Luar biasa sekali memang. Pentas akhirnya dimulai tepat pukul setengah delapan. Pementasan pertama Teater Selasar menyuguhkan cerita berjudul “Sambat ing Dharma”. Dua kali bekerja sama dalam pentas teater dengan Mahar, saya sudah bisa menebak jika pentas Teater Selasar ini akan “Mahar banget”.

Setting utama dalam cerita ini berpusat pada sebuah angkringan. Di belakang rombong angkringan tersebut, terdapat poster-poster yang asal ditempel pada dinding-dinding seng berkarat. Terbentang juga sebuah spanduk bertuliskan “Terima kasih Jogja, apartemen kami sudah sold out 100%”. Spanduk tersebut cukup memberikan saya gambaran mengenai cerita yang akan diangkat. Pentas ini dibuka dengan adegan dua orang bomber yang mencoret dinding seng dengan tulisan “Jogja Asat!”. Jogja Asat sendiri merupakan permasalahan kota Jogja yang ramai dibincarakan dalam dua tahun terakhir. Pembangunan hotel, apartemen, dan pusat perbelanjaan yang kian menjamur di Jogja membuat sumber-sumber air yang dimanfaatkan warga menjadi asat atau kering.

(Untuk mengetahui isu ini, kalian bisa melihat “Belakang Hotel”, film dokumenter karya Warga Berdaya dan Watchdoc. Cerita mengenai konflik antara warga dan pihak apartemen juga pernah sedikit saya singgung di sini.)

Tokoh utama dalam pentas ini adalah kakek tua bernama Bopi Suranto alias Karto Degleng (Mahar), Gopar sang mahasiswa, emak pemilik angkringan (Panda), dan anaknya Handoko (Jeki). Dialog yang diangkat menuturkan kisah tentang kehidupan dan permasalahan yang membelit masyarakat kecil. Kereta yang ditumpangi Handoko menuju Jakarta terguling di tengah perjalanan. Ia kembali dengan tangan hampa, ijazahnya hilang entah ke mana, harapan untuk bekerja di Ibukota pupus sudah. Sementara angkringan milik emak Handoko terancam tergusur oleh kehadiran apartemen yang berdiri megah didekatnya. Melalui dialog keempat tokoh ini, saya dapat melihat suatu sajian yang menghibur sekaligus berkualitas. Kritik-kritik seputar isu yang berkembang di Indonesia dan Jogjakarta kerap disisipkan mulai dari Sabda Raja, dampak pembangunan apartemen, kuburan mewah, hingga mahasiswa yang tak lagi acuh dengan dengan keadaan rakyat. Sungguh sebuah cerita yang lucu, satir, dan juga kritis.


Terlepas dari cerita yang diangkat, dalam pentas pertamanya Teater Selasar berhasil menyuguhkan akting, teknis, dan musik latar yang cukup mengagumkan. Vokal, mimik, dan gerak-gerik pemainnya luwes sekali, natural dan nyaman untuk dinikmati. Ohya, kehadiran dua waria –yang juga mahasiswa Fisipol- dipertengahan cerita juga berhasil membuat pentas semakin pecah! Penonton malam itu membludak, Selasar Barat tumpah, parkiran pun penuh. Salut untuk teman-teman Yang Terhormat Teater Selasar. Ditunggu pentas-pentas meriah selanjutnya!

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe