Monday Morning Throwback
May 25, 2015![]() |
| source |
Ketika kecil ayah suka mengajak aku dan kakakku untuk mengunjungi toko buku. Tidak pernah sebentar kami mengunjungi toko buku. Aku akan dibiarkan berputar-putar dan membaca buku-buku yang ada sampai akhirnya aku yakin untuk membawa pulang satu buku atau komik pilihanku.
Suatu hari ayah mencetuskan ide yang, kalau dipikir-pikir, cukup gila. Hari itu ayah mengajak aku dan kakakku untuk pergi ke toko buku. Tapi tidak seperti biasanya, kami akan dibiarkan berada di toko buku sementara ayah akan mengajar di daerah Dharmahusada. Ayah berjanji akan menjemput kami kembali seusai beliau tuntas mengajar. Jika dihitung-hitung kurang lebih kami dibiarkan berada lima jam di Toko Buku Gramedia Basuki Rachmat tanpa ditemani oleh orang yang kami kenal. Sepanjang waktu itu aku membaca semua komik yang aku mau, Doraemon, Kobochan, Bobo, Pokemon, dll. Aku dan kakakku anteng, bahkan kami membaca sambil duduk bersila di depan rak buku.
Dua tiga jam terlewati dan rasa bosan mulai melanda, aku mengelilingi Gramedia untuk melihat-lihat buku-buku yang lain, mencermati alat-alat musik yang dipajang, atau sesekali mengagumi dompet Milk Teddy yang diobral di bagian tengah toko. Saking bosannya, akhirnya aku mencuri buka komik-komik yang tersegel sementara kakakku dengan cueknya masih anteng terduduk di depan rak Detective Conan.
Tentu waktu itu kami belum mempunyai HP. Jadi satu-satunya
hal yang dapat aku lakukan hanyalah berharap agar ayah segera datang menjemput
kami. Aku memutari toko buku dan mulai merasa resah, takut, dan sesekali ingin
menangis. Bapak-bapak security tiba-tiba
menjadi momok yang menakutkan. Aku khawatir dia mendapatiku yang gelisah mondar-mandir, menganggap aku anak hilang, lalu aku ditangkap, aaaa! Maka kemudian aku berpindah ke bagian depan toko buku di mana aku
bisa melihat jalanan dan kendaraan yang lalu lalang, berharap ayah cepat
datang. Untungnya, sebelum bapak security
menyadari aku anak yang hilang (sementara), ayah sudah datang untuk menjemput
kami pulang.
Bayangkan ketika itu aku masih TK dan kakakku baru duduk di kelas dua atau tiga SD! Pun mungkin cuma ayahku yang berani meninggalkan anaknya setengah hari berada di toko buku tanpa ada pengawasan dari orang yang kami kenal. Hahaha, what an experience.

0 komentar