Such A Maze
September 08, 2015
Ketika mencari informasi mengenai destinasi
wisata di Singapura, saya membaca catatan perjalanan seseorang. Ia menyebutkan
nama sebuah tempat: Bras Basah Complex. Diikuti dengan kata “buku” dan “murah”,
tempat ini segera menjadi tujuan saya.
| source |
Kenyataannya
untuk menemukan Bras Basah Complex susahnya setengah mati. Walaupun saya telah
menuliskan jalan-jalan yang harus saya lalui dari Bugis Station menuju Bras
Basah Complex, tapi seperti biasa, saya tetap nyasar.
Mau
tahu berapa lama saya berjalan mencari Bras Basah Complex? Hampir dua jam bersama panas
dan kaki yang pegal. Google Maps kampret.
Sebelumnya
saya membaca bahwa Bras Basah Complex adalah pusat toko buku bekas dan peralatan lukis. Beragam buku dijual murah, di bawah $10 bahkan $3! Singkat cerita, setelah bertanya kepada bapak-bapak becak (seriusan ada becak), saya menemukan
Bras Basah Complex. Begitu sampai Bras Basah Complex, saya langsung menemukan
toko buku yang paling sering mendapat review: Evernew Book Store.
| source |
| source |
Saya
menyusuri rak demi rak, memerhatikan judul-judul buku yang tersedia. Koleksi toko
buku ini cukup beragam, mulai dari buku rohani, fiksi, hingga buku-buku kuliah.
Saya menemukan beberapa judul buku yang ditulis oleh Cecillia Ahern, John
Grisham, Malcolm Gladwell, hingga Donna Tartt! Buku-buku best seller diletakkan
di rak tersendiri dan dihargai sedikit lebih mahal dari buku lain. Saya sempat
ingin sekali membeli The Goldfinch-nya Donna Tartt, tapi, tapi… karena bukunya
besar sekali sehingga saya nggak tahu mau taruh di mana nanti, saya batalkan
niat itu. Kita orang juga harus tetap berhemat walaupun it’s only $7 :’)
| source |
Beranjak dari Evernew, saya mendatangi ke Book Point Book Store. Selain dua toko buku tersebut, ternyata tidak banyak toko-toko buku lain yang sesuai dengan ekspektasi saya. Selebihnya, Bras Basah Complex banyak diisi oleh toko-toko yang menjual kebutuhan anak-anak sekolah. Mereka juga menawarkan buku-buku kumpulan ujian nasional! Haha.
Tidak jauh dari Bras Basah Complex, ada Singapore National
Library. Saya tidak sempat masuk sih, tapi dari luar saja bangunannya sudah
terlihat sangat megah bertingkat-tingkat. Nah, karena
sudah haus, capek, lapar, dan kesal nyasar melulu, saya ngawur saja berjalan meninggalkan daerah Bras Basah. Eh, setelah berjalan beberapa blok saya
tiba-tiba sampai ke Bugis Street yang memang merupakan tujuan saya selanjutnya!
What a surprise! Saya langsung beli es krim agar saya tidak bete lagi,
hehe.
PS:
Sebenarnya tersesat tidak melulu menyebalkan kok. Ada banyak hal-hal menarik
yang bisa kita temukan. Selama tersesat hari itu, saya melihat banyak gedung
dan hotel tua yang ada di sekitar Victoria Street. Furthermore, tidak ada yang
perlu dikhawatirkan selama tersesat di Singapura. You will feel save anyway.

0 komentar