Great Thing Takes Courage

August 30, 2015


Selain memutuskan untuk mengisi libur semester dengan magang, saya juga melakukan dua perjalanan seorang diri alias solo traveling !

Sebelumnya saya bukan tipe orang yang gemar melakukan traveling. Bahkan, sepanjang semester empat kemarin pun saya tidak banyak mengunjungi tempat-tempat baru. Yeah, I know, poor me.  Maka di akhir masa liburan yang tersisa, saya merencanakan dua perjalanan singkat dengan destinasi Dieng dan Singapura (cerita selengkapnya tentu akan saya tuliskan di blog ini nanti :D).

Bagi saya, perjalanan ke Dieng dan Singapura ini sangat spesial. Kenapa? Karena ini adalah dua perjalanan pertama saya seorang diri! Memutuskan untuk go solo tentu membutuhkan keberanian berkali-kali lipat jika dibandingkan pergi bersama teman atau keluarga. Saya sendiri sebenarnya adalah tipe orang yang cukup bisa menikmati kesendirian (solitude) dengan baik. Sedari kecil saya terbiasa naik kendaraan umum sendiri dan jalan-jalan seorang diri. Walaupun mungkin hal ini terlihat aneh karena budaya komunal di Indonesia masih sangat kental, me time is essential for me.

Jika banyak teman yang mengatakan keputusan solo taveling sangat nekat, saya sedikit tidak setuju. Nekat tidak berarti tanpa persiapan kan? Rasa takut dan khawatir pasti ada, oleh sebab itu sebelum pergi saya menghimpun banyak informasi dari internet. Yang terpenting, pastikan destinasi kalian memang cukup aman dan memungkinkan untuk dikunjungi seorang diri. Sempatkan membaca pengalaman orang lain atau ulasan yang tersedia di berbagai forum backpacker traveler. Agar perjalanan terencana dengan baik, sangat penting untuk menyusun itinerary yang memuat informasi yang telah kita kumpulkan. Itinerary berisi rencana tempat yang akan dikunjungi, moda transportasi yang akan digunakan hingga estimasi waktu tempuh dan biaya yang dibutuhkan. Walaupun sedikit repot di awal, itinerary sangat membantu perjalanan saya kemarin.

Setelah itinerary tersusun dengan baik, bukan berarti perjalanan kita akan berlangsung dengan mulus. Biasanya akan ada saja hal-hal tak terduga yang terjadi. Bepergian seorang diri menuntut kita untuk pintar-pintar menjaga diri. Kesalahan besar yang saya lakukan ketika pergi ke Dieng adalah kejujuran bahwa saya sedang pergi sendirian kepada semua orang yang bertanya. I know it’s so stupid, dan saya sangat menyesalinya meskipun tidak ada hal buruk yang terjadi. Oleh sebab itu, dengan alasan keamanan, berbohong mungkin tak mengapa.

Anyway, saya merasa ada banyak hal yang saya dapatkan dari dua perjalanan kemarin. Pertama, jika saya terus menunggu teman untuk bepergian tentu perjalanan kemarin tidak pernah akan terjadi. Mungkin saya akan terus-terusan menjadi manusia kurang piknik. Kedua, selama melakukan solo traveling saya merasa tengah berlatih untuk menjadi lebih sabar dalam menghadapi hal-hal yang tak terduga. Saya juga terharu ketika mendapati diri saya, seseorang yang cukup tempramen dan emosional, bisa santai dan berpikir cukup jernih dalam menyikapi keadaan yang tidak menyenangkan (macet, tersesat, dll.). Padahal waktu itu saya sedang dalam masa-masa PMS, lho. Intinya, menjaga emosi ketika solo traveling  memang sangat penting. Selain itu, ketika kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri, tentu kita dituntut untuk percaya kepada diri sendiri dalam mengambil keputusan yang paling tepat. Because all you have is yourself.

Tapi seperti semua hal yang ada di dunia ini, tentu solo traveling punya plus dan minusnya. Selain yang sudah saya sebutkan di atas, solo traveling juga bisa menjadi momen untuk melakukan refleksi diri. Karena tidak banyak terdistraksi dengan percakapan dengan teman, solo traveling  menyediakan banyak waktu bagi kita untuk mengamati keadaan sekitar ataupun mengenal diri kita sendiri ((cieelah)). Kita juga bisa memiliki kebebasan untuk menentukan destinasi yang kita mau tanpa berkompromi dengan keinginan teman perjalanan yang lain. But in the other hand, we may lost some things. Kalau saya sih, ketika di Dieng kemarin sempat merasa kesepian dan bosan ketika nggak ngapa-ngapain di malam hari. Jika kalian adalah tipikal wisatawan Indonesia yang gemar mengambil gambar diri, solo traveling  akan sedikit menghambat kalian untuk bernarsis ria. Terakhir, solo traveling ternyata cukup lumayan merogoh kocek x”(

Walaupun berbalut suka dan duka, saya sama sekali tidak menyesali dua perjalanan solo traveling yang telah saya lakukan.

They said that traveling alone is the single best gift you can give to yourself, and yeah for me, it was a hella achievement.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe