Commiserations to My Book
December 04, 2016
You’ll never realize what sentimental value is, until losing something that contain sentimental value make you endlessly sentimental.
Buku telah menjadi bagian dari keseharianku sejak kecil. Seiring aku besar, aku belajar untuk menghargai buku-buku yang kupunya.
Ketika pertama kali mempunyai komik, aku bingung kenapa komik tidak dihiasi dengan warna-warna. Melihat itu sebagai suatu hal yang sangat aneh, aku akhirnya mulai mewarnai komik Kobochan pertama yang aku miliki. Aku berniat untuk mewarnai seluruh halamannya, agar lebih enak dibaca. Namun sebelum aku berhasil menuntaskan misi tersebut, aku dipergoki dan dimarahi oleh kakakku yang telah terlebih dahulu mengoleksi banyak komik. “Emang komik itu nggak ada warnanya!,” bentak kakakku kala itu. Kami memang tidak tumbuh bersama komik-komik barat yang lebih berwarna seperti Tin-Tin, Smurf, Marvel, Asterix, dll.
Beranjak SMP, aku memiliki banyak novel teenlit. Karena waktu itu semua teman-teman perempuanku sangat suka membaca teenlit, aku menggunakan novel-novel tersebut sebagai aset. Aku membuka jasa persewaan novel seharga seribu perhari dengan maksimal sewa satu minggu dan disertai denda jika pengembalian terlambat. Sayangnya, jasa persewaan tersebut tidak berlangsung lama karena banyak novel-novelku kembali dalam keadaan tidak baik.
Sekarang, aku hanya meminjamkan buku kepada orang-orang yang aku kenal dan aku percaya akan memperlakukan buku dengan baik. Definisi baik tersebut adalah sanggup membaca tidak terlalu lama, tidak membalik halaman dengan brutal, tidak meregangkan buku terlalu lebar ketika membacanya, dan tidak menekuk ujung buku sebagai penanda batas membaca. Ya, seprotektif itu. Aku tidak mau bukuku rusak atau hilang.
But yesterday, I lost my book.
Dalam perjalanan menuju tempat makan siang, pacarku mengaku baru saja pergi ke Periplus sebelum kami bertemu. Aku heran, kenapa dia tidak mengajakku. Ia lalu melanjutkan kata-katanya, “Maaf ya, Mbul. Bukumu ketinggalan di pesawat kemarin.” Rupanya, ia pergi ke Periplus untuk memesan “Without You, There Is No Us”, buku yang sama dengan yang kupinjamkan padanya beberapa hari yang lalu. Awalnya, aku tidak marah mendengarnya. Ini bukan pertama kalinya ia tidak sengaja meninggalkan buku di pesawat. Aku jadi merasa ikut menyesal karena ia harus mengeluarkan uang untuk membeli buku yang seharusnya tidak hilang seandainya ia lebih berhati-hati.
But then I realize something. Buku itu bertandatangan.
I was shock and panic in a heartbeat. I was so incredibly upset. And I couldn’t help not to cry.
That was my very honest reaction.
Buku tersebut aku beli di Ubud ketika berpartisipasi menjadi volunteer acara Ubud Writers and Readers Festival. Salah satu speaker utama festival tersebut adalah Suki Kim, seorang jurnalis Korea Selatan berkebangsaan Amerika Serikat. Ia menulis buku “Without You, There Is No Us” yang menceritakan kesaksiannya terhadap Korea Utara selama enam bulan menyamar menjadi guru di sana. Sebelumnya, aku sudah menyaksikan cerita Suki Kim di channel YouTube Ted.
Aku telah melingkari jadwal sesi Suki Kim pada katalog festivalku. Bodohnya, aku tidak sadar melewatkan sesi Suki Kim karena jadwalnya bersamaan dengan sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar. Tentu aku merasa menyesal. Akan ada banyak kesempatan lain untuk bertemu Eka Kurniawan jika dibandingkan dengan Suki Kim. Ia belum tentu akan datang ke Indonesia lagi.
Hari itu, teman-temanku di media center membicarakan betapa kerennya sesi Suki Kim. Tak lama setelah itu, Suki Kim tiba-tiba muncul di media center. Kami saling berbisik “It’s her!”, “Oh my God”, “Wow, it’s Suki Kim”. Ia mencari seseorang dan kemudian pergi lagi. Hari-hari selanjutnya, Suki Kim menjadi penulis yang paling sering nongkrong di Media Center. Biasanya ia duduk di sofa pojok ruangan sembari mengerjakan sesuatu di MacBooknya. Suki Kim memang terlihat sangat easy going. Sewaktu closing night party, ia semangat ikut bergabung dan menari bersama volunteer-volunteer lain.
Akhirnya, untuk membalas rasa menyesal aku membeli buku Suki Kim di stan Periplus. Aku kemudian datang ke sesi Suki Kim yang lain berjudul “Make Amerika Great Again?”. Setelah sesi yang sangat tegang tersebut berakhir, aku menghampirinya. Ia menanyakan namaku lalu menuliskan “To Chiki” sebelum menandatangani bukunya. Suki Kim lalu menambahkan tulisan “Ubud” dan mengembalikan buku sambil tersenyum kepadaku.
Aku ingat bahwa aku sengaja sering berjalan, melewatkan makan malam, dan tidak membeli hal-hal yang tidak diperlukan demi buku itu. Kutuntaskan buku tersebut di Ubud, kubaca ketika aku terjebak hujan lebat, ketika hendak tidur di kamar hostel, ketika terpaksa makan malam di warung karena sudah kepalang lapar dan ketika menyepi di sebuah kafe yang murah.
Ingatan-ingatan itulah yang langsung terlintas di pikiranku ketika sadar buku bertandatangan tersebut hilang. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan kekecewaanku. Sepanjang makan aku terus diam sementara Noi berusaha menghubungi call center Batik Air. Karena terus-terusan tak terhubung, sesudah makan kami pergi ke Bandara Adi Sucipto untuk mendapatkan informasi terkait barang hilang. Sepanjang perjalanan, aku masih tidak bisa memikirkan hal lain selain bukuku yang hilang. Sampai di bagian lost and found, petugas hanya berjanji untuk mengabarkan jika bukuku berhasil ditemukan. Dalam perjalanan pulang Noi terus meminta maaf dan bertanya apa yang bisa membuat aku merasa lebih baik. Dalam hati, aku merasa kasihan dengan Noi yang terlihat sangat hopeless. Aku pun sedikit merasa konyol dan bingung apakah reaksiku berlebihan (aku bahkan benar-benar bertanya kepada teman-temanku apakah reaksiku terlalu berlebihan atau tidak). Tetapi di sisi lain aku juga tidak bisa berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja. Walaupun aku tahu aku akan mendapatkan buku pengganti yang sama, but it’s not the same book somehow. It’s not about the material value.
Setuju dengan Agung Hapsah dalam video “Little Black Book”-nya, setiap orang pasti menyimpan barang-barang yang mengandung sentimental value bagi mereka. Bisa jadi buket-buket bunga wisuda yang telah mengering, baju belel yang dipakai ketika memangkan lomba, tiket-tiket nonton bersama kekasih, id card acara-acara kepanitiaan, atau barang yang dibeli dengan uang hasil kerja keras sendiri.
There’s always story and memory behind it. And there’s nothing sadder than losing something that contain great sentimental value.

0 komentar