The Uncountable Sessions
December 05, 2016Hal sakral yang menandai kita datang ke suatu festival adalah saat memegang katalog dan melingkari sesi-sesi yang ingin kita ikuti.
Pada UWRF 2016, ada lebih dari 200 sesi yang diadakan dalam empat hari. Lebih lanjut, aku berpendapat bahwa UWRF tidak lagi melulu soal sastra. Acara-acara yang diadakan sangat beragam, mulai dari diskusi politik, pemutaran film, kelas memasak, meditasi, obrolan jurnalisme, tur sepeda dan jalan kaki, live music, workshop kerajinan, stand up comedy, program untuk anak-anak, dan masih banyak lagi!
Acara tersebut terbagi dalam 12 kategori program. Yaitu Main Program berbentuk diskusi panel, Special Event, Workshop dan Cultural Workshop yang membutuhkan biaya tambahan, The Kitchen berbentuk demo-demo memasak bersama chef, Live Music and Art, Festival Club, Children and Youth Program, Film Program, Book Launches, Fringe and Art Exhibitions serta Satellite Events yang diadakan di beberapa kota di Indonesia.
UWRF 2016 dihadiri lebih dari 170 pembicara. Tak hanya dari Indonesia, tapi juga Kanada, Australia, India, Amerika Serikat, Turki, Inggris, Thailand, Perancis, Nigeria, Malaysia, Skotlandia, Meksiko, Belanda, Pakistan, Korea, Tibet, China, Polandia, Sudan, Singapura – you name it, all around the world! Untuk dapat dimengerti oleh semua orang, semua sesi UWRF diadakan dalam bahasa Inggris. Penulis-penulis Indonesia juga berbicara dalam berbahasa Inggris. Untuk beberapa pembicara yang tidak mampu berbahasa Inggris, terdapat translator yang mendampingi.
Kurang lebih aku menghadiri lebih dari 10 sesi ketika tidak bertugas di media center. Sesi favoritku adalah “Surviving Slavery” dengan pembicara Sandra Woworuntu, aktivis asal Indonesia yang merupakan seorang penyintas kasus human trafficking di Amerika Serikat. Aku dan seluruh peserta yang memadati Neka Museum tak henti dibuat merinding dengan cerita Sandra. Bagaimana ia tertipu dengan tawaran bekerja di luar negeri, bagaimana takutnya mengetahui bahwa ia terjebak sebagai budak seks, bagaimana ia berkali-kali mencoba kabur, bagaimana ia menemui keajaiban-keajaiban hingga bagaimana akhirnya kasus yang menimpanya diproses oleh FBI adalah rentetan cerita yang membuat sesi tersebut sangat emosional. Beberapa kali, Sandra sempat terisak sambil terus bercerita. Saat ini, Sandra menjalankan NGO bernama Mentari di Amerika Serikat untuk membantu korban-korban perbudakan manusia. All of her stories of struggle made me wondering how strong she is, what a beautiful woman!
Each sessions are wonderful. I learned a lot of new things. I felt how tensed the “Making America Great Again?” session. I took a look into Balisne Hinduism on “Mystical Bali” session, I got very envy to speakers who share how it feels to grow up in various countries on “The View From Here” session, enjoyed crunchy talks from Indonesian prominent movie makers on “Cinematic Indonesia” session, watched all of Wregas Banuteja films on “Indonesian Short Film Showcase” session, listened to amazing Indonesian soprano as the sun goes down on “Sunset Sounds” session, and so on.
So much awe in a pack of experiences. Aku benar-benar merekomendasikan semua orang untuk mengikuti Ubud Writers and Readers Festival 2017! See you next year.
(to be continue)
all photos shown are property of Ubud Writers and Readers Festival official photographers
visit UWRF Flickr account for more great photos

















0 komentar