Quick Review: Aleph

January 11, 2016

Aleph adalah karya Paulo Coelho pertama yang saya baca. Walaupun buku ini menawarkan sudut pandang yang menarik, ternyata saya tidak bisa cukup menikmatinya. It just not me.

Kisah buku ini didasarkan pada perjalanan tur buku Coelho dari China melintasi Rusia yang juga menjadi perjalanan spiritual baginya.  Paulo Coelho sepertinya banyak menggemari ajaran Buddha dan Hindhu. Perjalanannya mungkin mirip dengan kisah perjalanan Sidharta Gautama. Walaupun terlahir dan dibesarkan oleh klan Sakhya yang berkuasa, Sidharta tidak merasa puas dengan hidupnya dan memulai perjalanan ketika berumur 29 tahun. Begitu pula dengan Coelho, meskipun telah memiliki istri yang ia cintai, ketenaran dan kekayaan, Coelho merasa ada bagian dari jiwanya yang harus dilengkapi.

Dalam perjalanan tersebut, Coelho ditemani oleh seorang perempuan muda bernama Hilal. Mereka yakin pernah bertemu dalam kehidupan sebelumnya. Dan Aleph menyatukan mereka untuk melihat kembali apa yang telah mereka lalui bersama. Di sini, Coelho banyak bercerita tentang konsep inkarnasi-reinkarnasi. Agama Hindhu meyakini bahwa perjalanan manusia tak mengenal awal dan akhir, jiwa akan terus bereinkarnasi. Hanya wujud fisik manusialah yang berubah sesuai dengan perbuatan atau karmaphala dalam kehidupan sebelumnya.

Walaupun tidak menggemari alur cerita yang lambat, saya menggemari cara Coelho merangkai kata-kata dengan indah dan begitu bijaksana. Salah satu kutipan favorit saya: "I learned long ago that in order to heal my wounds, I must have the courage to face up with them."

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe