Half Conscious - 01.30

December 18, 2013

Selama di Jogja, sudah tiga kali saya memperhatikan tikus dengan seksama. Dua kali saya lihat dari tempat jemuran pakaian di kos, dua kesempatan itu tikus sedang menuruni pipa saluran air dengan hati-hati menuju lantai satu. Nah kemarin, ketika terbengong menunggui tukang kunci yang berpraktek di pinggir Selokan Mataram, mata saya menangkap seekor tikus sedang menyusuri pinggiran kolong jembatan dengan hati-hati. Anehnya, sejauh ini tikus-tikus yang saya jumpai di sini lucu-lucu. Bahkan ketika kali pertama melihatnya, saya memekik dalam hati “Ih imutnyaaaaa”. Kali kedua, saya gemas, karena gerak langkahnya yang terlalu hati-hati (untuk ukuran seekor tikus), membuat saya berniat menyentil tikus tersebut dengan karet gelang. Dan yang ketiga kalinya, saya justru bersimpati dengan tikus di pinggir Selokan Mataram, waktu itu saya sempat mendoakannya agar tidak terjatuh karena aliran sungai sedang cukup deras.

Jangan salah sangka dulu, tikus di sini imut lho. Bahkan mungkin kamu yang mengaku imut-imut kalah imut. Jangan bayangkan pula tikus-tikus di sini seperti tikus-tikus yang ada di Surabaya: item, menjijikkan, gede-gede setongtong. Tikus Jogja imut karena badan mereka kecil, menggemaskan dengan ekor mereka yang panjang. Bulu mereka tidak hitam, tidak dekil seperti ketumpahan oli begitu, bulu mereka coklat-mengilap jika ditimpa cahaya matahari. Bule sekali. When you look in into their eyes, they will look so innocent. Mata mereka seolah-olah memancarkan kata-kata "aku ini makhluk kecil yang hanya ingin bertahan hidup”. Digabungkan dengan bentukan moncongnya dan telinga mininya yang pendek, they look gorgeous as well, pet-able. Any way, lebih cute dari Sccabbers-nya Ron bahkan.

Oke, memuja-muja tikus sebanyak dua paragraf terdengar cukup aneh juga. Mungkin tikus yang saya lihat selama ini adalah satu sosok tikus peliharaan seseorang  yang sedang berpetualang, atau memang tikus-tikus di Jogja memang jenisnya begitu, saya juga belum yakin benar. Nanti kalau saya sudah ketemu tikus yang dekil, hitam, perutnya buncit, yang geraknya terbirit-birit setengah-mati seperti maling motor, pokoknya seperti tikus-tikus yang selama ini saya lihat di Surabaya, I’ll tell you later. Atau nanti saya tanyakan orang Jogja asli, seperti apa wujud tikus mereka yang sebenarnya.

Ini bukan masalah tikus saja sih, it’s more likely that I realized something: how we easily judge something, until I realized we always end up almost everything comparing this to that, especially comparing something new to something we have experienced years before.  Mungkin karena bukan di tempat tinggal asal dan hampir semua teman-teman yang merantau sering membanding-bandingkan suatu hal di Jogja dengan hal yang sama yang ada di kota domisili masing-masing. Mulai dari menyangkut hal-hal kecil seperti tikus tadi, hal-hal yang berhubungan dengan kepuasan pribadi seperti rasa makanan lokal dan fasilitas kota, hingga hal-hal yang berhubungan dengan bahasa-kultur masyarakat setempat atau kultur kampus yang bacampoa-campoa.

“Susah nemuin mie ayam enak di Jogja”
“Emang! Yang paling enak dan paling banyak franchisenya pun rasanya gitu-gitu aja. Padahal di Surabaya tuh rombong aja udah enak”

“Di sini polisinya tuh nggak se-dedicated di Surabaya”

“Aku belum nemuin ACE Hardware di sini, padahal di Malang ACE empat lantai”

“Iki lo siomayne perasaan biasa ae cok, tapi mesti rame. Adoh pek ambek sing nang Manukan”

“Pokoknya nggak ada enak-enaknya lah di Jogja ni, bongak lama-lama awak di sini matilah! Pengen pulang Pekanbaru eee”

…. And things like that.

Namun di sisi lain justru memang itu keunikan manusia kali ya. Di mana pun kita berada, kita selalu akan membandingkan. Pasti membandingkan. Sebelum mengakui apakah sesuatu itu lebih baik atau lebih buruk daripada yang telah terbiasa. Kalaupun tidak berniat berpraktik primordial pun, toh cuma iseng-iseng nyeplos saja. Gawe abang-abang lambe

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe