MONAZITE (mozaik lima)
October 01, 2011Aku sedang
menunggunya, disini terduduk di sebuah rumah makan tua yang terletak di belokan Jl. Praban. Entah untuk kesekian kalinya,
dia bersedia menemaniku memenuhi keinginan konyolku. Pekan lalu aku berkhayal
panjang lebar kepadanya ketika kami melintasi daerah Jl. Tunjungan,
“Kau tahu? Aku
pengen jalan-jalan di sekitar trotoar ini. Dari mulai ujung tadi, masuk ke
perkampungan di belakang gedung-gedung itu, menerobos Pasar Genteng Lama dan beli
manisan salak, lalu kemudian keluar lagi lewat depannya Hotel Majapahit ini,
berfoto di depan grafiti-grafiti yang dibuat Monica Never Comes, terus dan terus jalan sampai di depan seniman
pelukis karikatur di depan Tunjungan Plaza situ, dan berakhir di Ranch Market”
“Jalan kaki? Jadi turis di kota
sendiri?” ujarnya sambil menyunggingkan senyum jenaka.
“Ya ayo aja” tambahnya dengan cepat.
***
Akhirnya ia tiba juga.
“Terlambat dua puluh menit” gerutuku.
Ia cuma nyengir, tak banyak omong ia menarikku untuk bangun dari duduk. Ia menyerahkan
topi yang sengaja ia bawa dari rumah untukku, tahu saja aku tak kuat panas.
Sebenarnya aku tak mau bercerita
panjang lebar. Yang jelas perjalanan kami siang itu terasa sangat singkat.
Diakhiri dengan dua cangkir ice lemon tea
dan obrolan panjang lebar di bawah bangku berpayung Ranch Market. Kata dia,
aku bau matahari. Kataku, dia bau busuk.
Tampaknya hari itu, berandal beli topeng
baru. Tetap saja terpukau karenanya.
2 komentar