VAMPIRENIZER #2
August 23, 2010
VAMPIRENIZER (#2)
Surabaya, August 23rd 2010
Hai, aku Chitz, vampir merdeka. Tak perlu kau tahu bagaimana akhirnya aku dan Troyc bisa bersama lagi. Kini, aku hidup liar dengan Troyc, kami telah meninggalkan Andromeid, kami berkelana. Kami menjelajahi dunia manusia, kami akan beburu darah manusia dan menciptakan vampir baru.
Tepat pukul 16.00, mendung, aku dan Troyc berada di sebuah kawasan sekolah di Surabaya. Menurut beberapa sumber, ini adalah tempat mencari buruan yang tepat, darah manusia disini amat lezat. Bau manusia menusuk hidung kami, mata Troyc berubah menjadi merah darah, begitu pula denganku. Kami berjalan di depan SMA Negeri 2 Surabaya, mencoba bertingkah laku semanusia mungkin dan mencari buruan yang tepat.
Lima belas menit sudah kami mengamati setiap langkah manusia yang ada di sekitar kami. Aku mulai resah, mataku berubah warna menjadi orens, seperti warna lidah api yang menjilat-jilat. Troyc menggenggam tanganku halus, mencoba menenangkanku. Kemudian dengan tiba-tiba gadis berambut ikal pendek, berkacamata frame merah dengan menjinjing tas berwarna hijau berlari melewati kami. Troyc menghisap aroma yang ditimbulkan gadis itu, ia mengambil nafas dalam lalu tersadar dan serta-merta menutup hidungnya, ya baunya sangat lezat sekali. Kutatap Troyc, ia mengangguk pertanda setuju. Perburuan telah dimulai.
***
Bukit berangin, Andromeid.
Oh, Tuhan lindungilah aku. Aku tak tahu mengapa aku bisa berada di tempat seperti ini.
Yang dapat kuingat terakhir kali adalah sesosok dingin yang mencengkeram pergelangan
tanganku dengan hebat dan menyambarku berlari. Cengkeramannya sangat kuat, mungkin
pergelangan tanganku remuk, aku pingsan, tak kuat menahan sakitnya. Dimana aku Ya
Tuhan, lindungilah aku. Sepasang mata merah membara itu, dan giginya yang berkilauan, apa
yang akan terjadi pada diriku Ya Tuhan, lindungilah aku.
Aku meringkuk di bawah pohon Oak, mataku nanar, aku sungguh ketakutan. Benar saja, dua sosok makhluk berkilauan muncul dari balik bukit, dapat kulihat dari kejauhan mata mereka merah. Ya, merekalah yang membawaku kesini! Mata merah itu! Aku menangis ketakutan, bibirku meracau tak karuan. Aku mencoba berlari, tapi sia-sia, lututku lemah tak mampu menopang tubuhku untuk berlari, bahkan berdiri. Dalam sekejap mereka sudah berada di depanku. Aku tak dapat melihat mereka menggunakan kakinya atau tidak, terlalu cepat. Mereka mengelilingiku, wajahnya ramah namun mengerikan, kemudian si perempuan mencondongkan tubuhnya padaku, senyumnya yang menawan melebar dan melebar hingga tak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi, terpapar jelas berkilauan.
“Hai, sayang” kata si perempuan sambil menyeringai menohok mataku. Aku menelan ludah, gemetar.
“Segera mulai saja, Chitz” si lelaki menepuk pundak si perempuan, matanya merah seperti api yang membara. Si perempuan membungkuk, ia meraih leherku dengan kasar, tangannya dingin, lebih dingin dari es maupun mayat. Aku bergidik. Perempuan itu mengoyak kulit leherku, aku menjerit sekuat tenaga, taringnya menusukku, menyobek pembuluh darahku. Si lelaki ikut menghujamkan taringnya ke leher sebelah kiriku, dapat kudengar suara kulitku yang robek saat mereka menggigitku berkali-kali. Mereka vampir. Aku tak kuasa menjerit ketika mereka memasukkan racunnya yang panas ke dalam pembuluh nadiku. Aku merasa seperti di dalam neraka, tersayat pedang samurai yang sangat tajam, dilindas bus, ditembak dengan peluru mesiu, semua rasa sakit berdenyut-denyut dalam leherku berlari deras menuju jantungku. Mereka menyiksaku. Aku mual. Sisa darah yang ada dalam tubuhku rasanya panas terbakar. Jantungku lebih panas membara, terlalu panas, sangat sangat panas. Panas membara itu semakin menjadi-jadi, ingin rasanya kukoyak kulit dadaku dan kurengkuh keluar jantungku sendiri. Api berkobar semakin panas dan aku menjerit, keringatku bercucuran, mataku nanar, tanganku mengepal mencoba mengalihkan rasa sakit dengan memukul-mukul tanah. Aku berharap mereka membunuhku saja secara efisien. Dapat kulihat ditengah siksaanku, si vampir lelaki terus menghujamkan taringnya yang penuh racun ke dalam pembuluh darahku, si vampir perempuan terkekeh sambil mengusap bibirnya yang berlumuran darahku.
“Pembunuh!!!” jeritku, tapi tak satu patah katapun yang keluar.
Jantungku membara, berpacu bagaikan baling-baling helikopter, menggesek-gesek rusukku. Api berkobar di tengah dadaku, jantungku berdegup sangat kencang, api paling panas menjilat-jilat sisa jiwaku kemudian perlahan semua memoriku terbakar....
Si vampir perempuan mengoyak kulit leherku lagi, dingin kali ini. Racunnya berdesir diseluruh pembuluh nadiku, melalapkan api yang menjilat-jilat. Api itu mengerut lalu padam, jantungku tergagap-gagap kemudian berdetak pelan dan teratur untuk yang pertama kalinya.
“Selamat datang vampir baru” ucap mereka berdua.
To be continued on #3 (maybe)..
(this chapter was adapted from Breaking Dawn by Stephanie Mayer)
Surabaya, 22 Agustus 2010.
Chiki Anwar.
0 komentar