S-T-R-E-S.

August 20, 2010

Kemarin saya bertemu kembali dengan one of my bestiest: Ferisna Rachma Mauliddya di SMP Negeri 1 Surabaya ditemani dengan Imas. When I entered at Spensa, I feel that I miss my old friends, my teachers, and my JHS life so much. Then, Ve shared about her new school life at Smanam, much fun, and I think she’s lucky because of she has a lot of senior that friendly with her (envy envy envy), in other condition Ve also envy with me and Imas ‘cause we could be a Smalane. Then, We taked a lot of photos at our class, 9E :)
Oh God, please help me, I just feel sooooooo LABIL. What’s wrong with me? I can’t control my self up. I lost my way, my spirit. Like a little chicken losts her mother. Being a Smalane is harder and harder than they think. I haven’t enjoyed my new life. A lot of homeworks, A lot of extra activities, and more things that made me feel so confused, lets check :

1. PR dan tugas banyak.
2. Belum bisa ngatur waktu dengan baik.
3. Mood naik turun (<-- remaja labil)
4. Banyak acara-acara kelompok yang harus diurusi dan didiskusikan serta membutuhkan banyak tenaga.
5. Nyampai rumah capek, PR dan tugas terbengkalai.
6. Desakan banyak pihak untuk menjadi “sempurna” tapi saya sendiri nggak tahu untuk mau mulai darimana.
7. Amanat bendahara belum beres.
8. DEPRESSED WITH MATH.
9. Belum comfort banget sama suasana ekskul (yang juga banyak tugasnya)
10. Beban moral pengen bener-bener ibadah di bulan Ramadhan.
11. Sekolah mahal juga ye ?!, kasihan orangtua kalo mau minta ini dan itu.
12. I think I found someone who can make me “semangat”, but it just make me worse then.

Saya tahu menjadi Smalane tidaklah mudah, tapi saya selalu mau dan ingin untuk memulainya, memulai untuk menjadi pribadi baru seperti yang mereka katakan. Tapi saya harus bagaimana? Apa yang harus saya lakukan? Tak jarang saya meneteskan airmata, hanya karena perasaan saya sendiri yang kalut. Saya tahu Smala berbeda dengan sekolah lain, dan memang begitu pula seharusnya. Tapi ketika saya bercermin pada diri saya sendiri, saya merasa belum pantas, ilmu saya masih cetek, saya jarang belajar di rumah akhir-akhir ini. Di lain sisi, ketika saya kembali menatap SMP Negeri 1 Surabaya kemarin, saya ingat setahun lalu dimana keadaan saya sangat sangat kacau balau. Bagaimana saya berusaha mati-matian untuk belajar ditengah kegelisahan hati. Dan akhirnya, Allah SWT memberikan saya sebuah rencana rahasia : agar saya melanjutkan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya. Allah masih sayang dengan saya, pasti. Pasti ada sesuatu yang Ia akan tunjukkan, pasti ada maksudnya mengapa saya dikirim kesini. Mengutip kata idola saya:

”Saya ingin terus belajar menjadi orang yang lebih berbesar hati. Kali ini, saya percaya kekecewaan, kebahagiaan, dan kesedihan dari berbagai macam kejadian yang telah atau akan saya lewati, merupakan semacam latihan yang menempa kebutuhan mental saya di dunia yang penuh tantangan.
Semua ada maksudnya. Saya menyadari betapa Tuhan mencintai ciptaanNya. Betapa Tuhan mengerti sifat manusia, hingga dirangkaiNya serentetan kejadian-kejadian indah maupun sedih yang ditujukan untuk menjadi bahan pelajaran kita seumur hidup.”


Namun yang saya pertanyakan sekarang adalah, mengapa? dan bagaimana?



Speechless.
Chiki Anwar.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe