Baru aja baca beberapa artikel tentang eksibionis, bukan
eksibisi pameran, tapi semacam penyakit gangguan mental yang kayanya sekarang
lagi lumayan menjamur. Untuk yang belum tahu, eksibionis ini adalah gangguan
mental yang kebanyakan dialami oleh kaum laki-laki. Nggak jauh-jauh dari kata
dasarnya exhibit atau pameran, pelaku
eksibisionis ini punya kegemaran buat mempertontonkan alat genitalnya di
tempat-tempat umum pada orang-orang yang nggak dia kenal. Katanya sih, bagi
mereka, hal ini memberikan kepuasan batin.
Ngomong-ngomong, aku juga pernah ngalamin kejadian ini.
Walaupun setiap kali cerita ke temen-temen aku selalu diketawain, tapi
sepertinya kita sebagai bagi kaum perempuan harus sudah mulai aware dengan isu
semacam ini karena para eksibis benar-benar ada di sekitar kita, apalagi di
kota-kota besar macam Jakarta dan Surabaya. Di sekitar SMA komplek juga
sepertinya ada oknum-oknum eksibis yang berkeliaran, beberapa temanku Smala dan
Smada + Smanix juga pernah ngalamin kejadian serupa waktu lagi jalan di daerah Jl.
Slamet (sekitar SSC) dan waktu lagi nunggu angkutan di Halte Kusuma Bangsa.
Balik ke pengalamanku tadi, waktu itu pulang sore-sore naik
MLK. Aku pulang tepat waktu, jadi bemo juga masih ramai anak-anak dari SMA lain
yang berbondong-bondong pulang, bemo penuh. Aku duduk paling pojok, di depanku
duduk seorang mas-mas, kurus pakai topi. Waktu nunggu bemo di pinggir jalan
tadi, aku lihat orang ini nyebrang sambil bawa papan triplek. Di bemo, papannya
yang nggak terlalu luas itu dipangku hingga nutupin perut dan pahanya. Seperti
biasa, nggak ada temen ngobrol di bemo, aku jadinya bengong aja. Nggak sengaja
lihat, masnya ini tadi mindahin papannya ke sampingnya (diapit gitu, yang
akhirnya aku tahu tujuannya supaya cuma aku aja yang bisa lihat ‘aksinya’). Lama-kelamaan
mas ini mulai bertingkah aneh, tapi nggak terlalu kentara sama penumpang lain,
tangan sebelah kirinya mulai ribut gitu di daerah riseleting celananya, aku
mulai curiga. Hingga akhirnya waktu sudah nyampai Jl. Praban aku yang dengan
tepat duduk di depannya lihat cacingnya yang menjijikan itu. Badanku rasanya
langsung panas dan takut. Syok, jijik, tapi aku coba buat tenang dan lihat ke arah
lain sambil istighfar dalam hati. Sampai di depan BG Junction aku pura-pura
buka hape, dan memutuskan untuk turun dan oper ke bemo lain.

