MONAZITE (mozaik tiga)

August 26, 2011

Aku ternganga, tak mengira di bisa memainkan Canon in D milik Pachelbel pada gitar akustiknya. Sembari aku memandangi setiap gerak jari tangannya yang memetik dawai gitar, ingatanku kembali ke beberapa minggu silam. Saat aku bertemu dengan bocah berandal ini. Ya, berandal batinku dalam hati, aku tersenyum kecut.

Ia tampak begitu menikmati permainannya, matanya terpejam menikmati semilir angin di atas bukit ini. Konspirasi yang bagus, suara petikan gitarnya kontras dengan suasana bukit ini yang asri disertai dengan semilir lembut angin bulan Desember.

Aku memandangi raut mukanya, berharap ia segera membuka kedua matanya dan menampakkan binar mata cokelatnya. Kau tahu sinar mata itu? Penuh racun dan daya pikat. Yang membuatku terpana, tiap kali aku melihatnya.

Ah, tapi berandal tetaplah berandal. Bantahku dalam hati.

Kini ia selesai memainkan gitarnya. Lelaki bermata cokelat itu memandangku dengan senyum seringai yang penuh kesombongan, aku mencoba untuk terlihat biasa saja, menyembunyikan perasaan kagumku. Alisnya ia gerak-gerakkan, usil, pertanda meminta pengakuan atau semacam pujian.

Dan sayangnya aku tak bisa menahan tawaku. Sungguh, ada-ada saja kejutan darinya. Kudorong tubuhnya dengan sekuat tenagaku, ia terguling-guling melindasi rerumputan hijau. Tak disangka-sangka, ia mencengkeram lenganku, menyeretku dalam  kebodohan itu. Kami melorot cukup jauh tempat kami duduk tadi. Meninggalkan gitar di atas bukit yang menjadi saksi akan aksi bodoh kami.

“Berandaaaaaal!” teriakku padanya yang terbaring tepat di sebelah kananku.

Ia hanya tersenyum dengan sinar matanya yang teduh.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe