Selain
memutuskan untuk mengisi libur semester dengan magang, saya juga melakukan dua
perjalanan seorang diri alias solo
traveling !
Sebelumnya
saya bukan tipe orang yang gemar melakukan traveling.
Bahkan, sepanjang semester empat kemarin pun saya tidak banyak mengunjungi tempat-tempat
baru. Yeah, I know, poor me. Maka di akhir masa liburan yang tersisa, saya
merencanakan dua perjalanan singkat dengan destinasi Dieng dan Singapura
(cerita selengkapnya tentu akan saya tuliskan di blog ini nanti :D).
Bagi
saya, perjalanan ke Dieng dan Singapura ini sangat spesial. Kenapa? Karena ini
adalah dua perjalanan pertama saya seorang diri! Memutuskan untuk go solo tentu membutuhkan keberanian berkali-kali
lipat jika dibandingkan pergi bersama teman atau keluarga. Saya sendiri sebenarnya
adalah tipe orang yang cukup bisa menikmati kesendirian (solitude) dengan baik. Sedari kecil saya terbiasa naik kendaraan
umum sendiri dan jalan-jalan seorang diri. Walaupun mungkin hal ini terlihat
aneh karena budaya komunal di Indonesia masih sangat kental, me time is essential for me.
Jika
banyak teman yang mengatakan keputusan solo
taveling sangat nekat, saya sedikit tidak setuju. Nekat tidak berarti tanpa
persiapan kan? Rasa takut dan khawatir pasti ada, oleh sebab itu sebelum pergi
saya menghimpun banyak informasi dari internet. Yang terpenting, pastikan
destinasi kalian memang cukup aman dan memungkinkan untuk dikunjungi seorang
diri. Sempatkan membaca pengalaman orang lain atau ulasan yang tersedia di berbagai
forum backpacker / traveler. Agar perjalanan terencana dengan baik, sangat penting
untuk menyusun itinerary yang memuat
informasi yang telah kita kumpulkan. Itinerary
berisi rencana tempat yang akan dikunjungi, moda transportasi yang akan
digunakan hingga estimasi waktu tempuh dan biaya yang dibutuhkan. Walaupun
sedikit repot di awal, itinerary
sangat membantu perjalanan saya kemarin.
Setelah
itinerary tersusun dengan baik, bukan
berarti perjalanan kita akan berlangsung dengan mulus. Biasanya akan ada saja
hal-hal tak terduga yang terjadi. Bepergian seorang diri menuntut kita untuk
pintar-pintar menjaga diri. Kesalahan besar yang saya lakukan ketika pergi ke
Dieng adalah kejujuran bahwa saya sedang pergi sendirian kepada semua orang
yang bertanya. I know it’s so stupid,
dan saya sangat menyesalinya meskipun tidak ada hal buruk yang terjadi. Oleh
sebab itu, dengan alasan keamanan, berbohong mungkin tak mengapa.
Anyway, saya merasa ada banyak hal yang saya
dapatkan dari dua perjalanan kemarin. Pertama, jika saya terus menunggu teman untuk
bepergian tentu perjalanan kemarin tidak pernah akan terjadi. Mungkin saya akan
terus-terusan menjadi manusia kurang piknik. Kedua, selama melakukan solo traveling saya merasa tengah berlatih
untuk menjadi lebih sabar dalam menghadapi hal-hal yang tak terduga. Saya juga terharu
ketika mendapati diri saya, seseorang yang cukup tempramen dan emosional, bisa
santai dan berpikir cukup jernih dalam menyikapi keadaan yang tidak menyenangkan
(macet, tersesat, dll.). Padahal waktu itu saya sedang dalam masa-masa PMS, lho.
Intinya, menjaga emosi ketika solo
traveling memang sangat penting.
Selain itu, ketika kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri, tentu kita
dituntut untuk percaya kepada diri sendiri dalam mengambil keputusan yang
paling tepat. Because all you have is
yourself.
Tapi
seperti semua hal yang ada di dunia ini, tentu solo traveling punya plus dan minusnya. Selain yang sudah saya
sebutkan di atas, solo traveling juga
bisa menjadi momen untuk melakukan refleksi diri. Karena tidak banyak terdistraksi
dengan percakapan dengan teman, solo
traveling menyediakan banyak waktu
bagi kita untuk mengamati keadaan sekitar ataupun mengenal diri kita sendiri ((cieelah)).
Kita juga bisa memiliki kebebasan untuk menentukan destinasi yang kita mau
tanpa berkompromi dengan keinginan teman perjalanan yang lain. But in the other hand, we may lost some
things. Kalau saya sih, ketika di Dieng kemarin sempat merasa kesepian dan
bosan ketika nggak ngapa-ngapain di malam
hari. Jika kalian adalah tipikal wisatawan Indonesia yang gemar mengambil
gambar diri, solo traveling akan sedikit menghambat kalian untuk bernarsis
ria. Terakhir, solo traveling ternyata
cukup lumayan merogoh kocek x”(
Walaupun
berbalut suka dan duka, saya sama sekali tidak menyesali dua perjalanan solo traveling yang telah saya lakukan.
They said that traveling alone is the single best gift you can give to yourself, and yeah for me, it was a hella achievement.







