Pieter Lennon: Berdendang Bersama Semesta Kehidupan

March 19, 2016



Saya masih ingat betul perjumpaan pertama saya dengan Pieter Lennon tiga tahun lalu. Malam itu, saya sedang duduk menunggu pesanan di Zuppa Soup, Jalan Kaliurang (Jakal), Yogyakarta. Pieter datang dan mengucapkan selamat malam dengan sopan kepada para pengunjung. Seketika, perhatian saya tercuri oleh penampilannya yang necis. Ditambah rambut berpotongan bob dan kacamata bundar yang ia kenakan, saya langsung teringat pada sosok John Lennon, personel The Beatles. Tanpa ragu ia kemudian memainkan gitar dan harmonikanya.

“Bapak ibu sekalian, Hey Jude dari The Beatles,” ujar Pieter ketika rampung. Barulah saya tersadar jika pria yang tak lagi muda tersebut adalah seorang pengamen jalanan. “Gila, passionate banget ngamennya” batin saya. Sejak saat itulah, saya selalu mengingat Pieter Lennon sebagai sosok pengamen nyentrik yang konsisten berpenampilan dan membawakan lagu-lagu The Beatles. Saya sering melihatnya bermain musik dari satu rumah makan ke rumah makan yang lain di daerah Jakal.

Pada kesempatan berbeda, saya bertemu dengan Pieter ketika berbuka puasa di restoran Duta Minang Jakal. Berbekal satu lagu, semua pengunjung tak absen memberikan uang kepada Pieter. Berkeliling sambil mengucapkan terima kasih, tangan Pieter dengan cepat dipenuhi gunungan uang. Saking banyaknya, ia harus menerima dengan dua tangan untuk menampung lembaran-lembaran uang. Saya hanya bisa melongo melihat betapa banyak uang yang bisa Pieter kumpulkan dalam hitungan menit.

Berkesempatan bertemu dengan Pieter Lennon pada Rabu (9/3), saya menceritakan kesan tersebut. Ia tertawa, “Wah, Mbak, saya ini memang jeli. Masa ngamen yang paling butuh konsentrasi dan persiapan itu, ya memang waktu bulan puasa,” terang Pieter sembari menyambut saya di rumahnya. Pria berumur 60 tahun itu mengaku menyiapkan strategi khusus. Sebelum jam buka puasa dimulai, ia sudah harus bersiap. Begitu adzan magrib --yang ia sebut sebagai sirine-- berkumandang, ia mulai menyanyi di 5 sampai 10 tempat makan sasarannya. “Saya harus efisiensi waktu dan kerja keras agar semua tempat itu bisa saya nyanyikan pas berbuka,” katanya.

Hasil Tuntunan Tuhan 

Pertemuan kami pagi itu berlangsung cair. Ia bahkan repot-repot menyuguhkan sepiring gorengan, yangko dan teh manis hangat untuk menemani obrolan kami. “Dimakan lho, Chik. Aku ki seneng lek tamuku gelem mangan,” ia mempersilakan. Tanpa canggung, Pieter kemudian bercerita banyak hal, utamanya profesi ngamen yang ia geluti.

“Kalau ditanya apa pernah saya bercita-cita menjadi pengamen? Tentu tidak. Semuanya mengalir begitu saja,” kata pria lulusan SMP Negeri 5 dan SMA Bopkri Yogyakarta ini. Pieter mulai mengamen sejak duduk di bangku kuliah Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Yogyakarta. Didorong keterbatasan keuangan, ia mulai menyanyi house to house di Yogyakarta dan kota sekitarnya. Barulah pada lima tahun terakhir ini, Pieter menetapkan Jakal sebagai ‘kantor’nya. “Ngamen di Jakal itu hasil tuntunan Tuhan. Saya merasakan bahwa itu sudah perjalanan final dari karir ngamen house to house,” katanya. Rasa syukur Pieter beralasan. Selain mendapatkan pemasukan yang cukup, ia mulai dikenal luas oleh masyarakat, khususnya mahasiswa.

Sehari-hari, Pieter bekerja selama empat jam, dua jam di siang hari dan dua jam di malam hari. Jika pengunjung rumah-rumah makan sedang sepi, ia bisa mengantongi Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Sedangkan jika ramai, ia bisa membawa pulang lebih dari Rp 400.000. Jika dihitung, pemasukan Pieter Lennon setiap bulan bisa mencapai Rp 6.000.000 hingga Rp 10.000.000. “Itu masih di luar job manggung,” tambah Pieter.

Populer di kalangan mahasiswa membuatnya cukup sering diundang dalam acara-acara kampus. Beberapa di antaranya adalah Konser Lagu Lama MIPA UGM (2013), Natural Street Jamming Teknik Mesin UGM (2014), Biophoria Biologi UGM (2015), Artspiration JPP UGM (2015) dll. Selain itu, ia juga sering tampil di berbagai festival seni Yogyakarta. Termasuk di antaranya kolaborasi bersama grup White Shoes and the Couples Company dan duo Stars and Rabbit. Untuk penampilan lima lagu di atas panggung, Pieter bisa mengantongi Rp 300.000 hingga Rp 1.000.000. Namun, ia mengaku tidak pernah menuntut jumlah tertentu. “Kalau manggung, pasti ada persiapan khusus. Saya selalu mengeluarkan Rp 250.000 untuk beli senar baru, alat wireless, atau harmonika. Saya nggak mau penampilan gagal total karena senar putus,” terangnya. 

Selain mengamen, Pieter juga menambah pemasukan melalui usaha kos-kosan. Di belakang rumahnya di daerah Terban, ia mempunyai sepuluh kamar kos yang disewakan. Namun, ia tidak lagi mengelola kos-kosan tersebut dengan serius, “Kadang saya sewakan begitu saja untuk orang yang membutuhkan,” ujar bapak tiga anak ini. 

Profesionalitas, Kelapangan Hati dan Kekecewaan 

Dari sekian banyak penyanyi jalanan di Yogyakarta, Pieter Lennon begitu mudah dikenali dan diingat. Ia sadar bahwa menjadi berbeda itu penting. Selain itu, Pieter juga ingin mengubah stigma bahwa pengamen adalah peminta-minta. “Saya tekuni ngamen ini sebagai pekerjaan dan nafas utama saya,” ujar Pieter sembari menikmati rokoknya. 

Oleh sebab itulah, ia selalu mengedepankan prinsip profesionalitas dalam berkarya. Profesionalitas tersebut ia wujudkan dalam beberapa cara. Pertama, ia konsisten dengan penampilan necis a la John Lennon. Kedua, ia tidak akan berhenti bermain musik hingga lagu benar-benar rampung. Ketika selesai memainkan sebuah lagu, ia akan mengumumkan dengan lantang judul lagu tersebut. “Saya ingin mem-Beatles-kan anak-anak muda Yogyakarta,” ujarnya. Ketiga, Pieter selalu berusaha menempatkan diri sebagai pendengar. Dengan pembawaan yang sopan, ia berusaha agar pendengar yang sedang makan merasa terhibur, bukan terganggu. Diberi ataupun tak diberi uang bukan masalah, “Yang terpenting, bagaimana caranya agar kita ini menjadi kebutuhan. Saya kalau nggak kelihatan semalam saja, banyak orang Jakal yang menanyakan. Tidak lengkaplah kalau Anda makan di Jakal tanpa kemunculan Pak Pieter,” ia terkekeh.

Walaupun telah berusaha berkarya dengan cara yang baik, tak berarti ia terhindar dari pengalaman tak menyenangkan. Seorang pemilik rumah makan pernah menegurnya karena ada pembeli yang merasa terganggu. Berhadapan dengan situasi seperti itu, Pieter mencoba tetap berlapang dada dan menghormati orang lain.

Pengalaman tidak menyenangkan dari kerasnya jalanan menjadi pelajaran yang ia refleksikan dalam kehidupan. Akibatnya, ia menjadi peka dengan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Tak jarang Pieter bersenang hati membantu orang-orang di sekitarnya, atau bahkan orang yang baru ia temui. Percakapan Pieter mengenai topik ini begitu menyentuh perasaan saya. “Orang mau peduli dan mengulurkan tangan terjadi bukan karena kemampuan, Chik. Apapun pekerjaannya, membantu itu bisa terlaksana karena kemauan. Orang kaya yang berlebih belum tentu mau membantu karena tidak ada kemauan. Ini yang mahal harganya.” ujarnya. Saya seperti merasa diingatkan akan seringnya saya absen untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung.

“Orang-orang tidak beruntung itu bukan berarti dia jelek, sesungguhnya mereka menghadapi keterbatasan,” timpal Pieter. Nada bicaranya berangsur meninggi ketika mempertanyakan kewajiban pemerintah. Ia menilai pemerintah belum sepenuh hati memperhatikan kehidupan warga negara yang terjebak di jalanan. “Aturan dilarang memberi uang orang miskin di jalan itu tidak realistis dan tidak obyektif. Pemerintah harusnya mencarikan jalan keluar, ditampung, diberi lapangan pekerjaan. Jangan seenaknya, mentang-mentang punya aturan. Mbhel thut!!,” selorohnya gemas.

Peraturan yang dimaksud Pieter adalah Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis. Berdasarkan Perda tersebut, pengemis atau pengamen dapat diganjar hukuman pidana kurungan paling lama enam minggu dan/atau denda paling banyak Rp 10.000.000. Sedangkan sang pemberi dapat dijatuhi hukuman pidana kurungan paling lama sepuluh hari dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000. Perda tersebut merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis.

Memahami Kehidupan 

Pieter telah dua kali menjalani hubungan pernikahan, namun dua kali pula ia gagal. Dari pernikahan tersebut, ia memiliki tiga orang anak: sepasang kembar yang telah meninggal dan seorang anak laki-laki yang memberinya satu cucu bernama Bunga. “Orang tua yang cerai harus kelihatan rukun. Status boleh berbeda, tapi perhatian orang tua ke anak tidak boleh berkurang. Efek psikologis perceraian bagi anak besar sekali, Chik. Betul kalau anak nanti bisa jadi tidak percaya pada suatu hubungan,” kata Pieter. Ia lalu memberikan saya wejangan terkait pernikahan serta mendoakan saya agar memiliki hubungan pernikahan yang baik di masa depan. Saya hanya bisa tersenyum dan mengamini.

Walaupun telah berusia lanjut, Pieter masih mengimpikan bertemu pasangan hati yang mampu menjadi teman berbagi kisah dan kasih. “Boleh jadi saya semangat menyanyi terus, tapi di sini sepi,” Pieter menyentuh dadanya. Pembicaraan kami semakin melankolis. Ia mengaku sering terjaga hingga pukul empat pagi karena rasa sepi dan pergumulan dalam dirinya. “Ya itu sedihnya, Chiki. Jadi orang baik berarti kita harus mau ‘puasa’. Tanggung jawab yang paling berat itu kepada Tuhan,” kata Pieter bijak.

Sudah selayaknya jika perjalanan hidup penuh dengan dinamika. Menurut Pieter, tidak selamanya perjalanan sampai pada hal yang diinginkan. Terkadang, Tuhan justru memberikan sesuatu di luar rencana manusia. Baginya, hidup harus mencapai keseimbangan yang mampu diraih dengan cara bersyukur. Pasti ada hikmah di setiap jalan, hal itulah yang diyakini Pieter. “Yang paling penting berdoa agar diberkahi. Jalani dan syukuri semua,” Pieter berfilosofi sembari ngudud.

Hampir dua jam saya mengobrol dengan pria yang memiliki nama asli Pieter Budi Yatmo tersebut. Ia merupakan sosok yang hangat dan bersahabat. Semangatnya tak dikalahkan oleh usia dan keadaan. Saya merasa senang bisa bercakap dan mendengarkan banyak cerita pengalaman dan pemikiran beliau. Akhirnya, setelah berterimakasih, saya undur diri. Pieter melontarkan satu pertanyaan, “Eh, Chik. Kowe percoyo kalau Pak Pieter terkenal?” tanyanya.

Pertanyaan retoris. Of course, you’re a legend. Long life, Pieter Lennon! (chk)

You Might Also Like

1 komentar

Subscribe