belumadajudul.
November 12, 2010cerpen baru, tapi kok, gak bisa lanjut -__-
Aku terduduk di pojok kamarku yang gelap dan berantakan. Aku terlalu hancur dan tak berdaya, bahkan untuk menyalakan lampu dan memunguti sampah dan onggokan-onggokan kotoran serta baju-baju yang berserakan di lantai, di atas kasur, di depan pintu kamar mandi dan di seluruh penjuru kamarku. Kepalaku ngilu, aku mengais-ngais tas sekolahku, mencoba mencari sebatang rokok yang tadi mereka tawarkan kepadaku. Dapat! Bentuknya sudah tak sempurna lagi memang, kertas pembungkus tembakau di ujung rokok itu telah mengelupas, menggugurkan serpihan-serpihan tembakau coklat yang berbau wangi. Mereka bilang tadi, setidaknya rokok bisa menenangkan pikiran. Kupandangi batang rokok itu, tak pikir panjang, kuambil zippo dan mulai menghisapnya. Aku terbatuk-batuk.
Sore itu, aku duduk di pojok kedai kopi di Tunjungan Plaza. Aku sedang menunggu Vita, kekasihku. Salah satu orang yang sangat aku sayangi, bahkan melebihi dari rasa sayangku kepada diriku sendiri. Aku bersandar dengan santai, menyeruput cappucino sambil mengamati orang-orang yang berlalu lalang, tiba-tiba handphoneku bergetar.
“Sayang, kau disebelah mana” ujar Vita dari ujung telpon.
“Arah dua belas. Baju biru.” Jawabku seraya berdiri dan melambai-lambaikan tangan kearahnya.
Ia lalu berjalan kearahku. Aku tertegun, selalu tertegun ketika melihatnya. Semampai dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia mengenakan sack-dress putih dan jaket jeans. Cantik. Aku mengasihinya lebih dari apapun, dan aku tak akan rela jikalau dia pergi.
“Sudah lama?”
“Barusan kok”
Tak seperti biasanya, ada yang berbeda dari wajah Vita. Matanya sayu, tak bercahaya. Sinarnya seperti menggambarkan sebuah keraguan. Jauh dari seorang Vita yang biasanya selalu sumringah. Aku mencoba mengingat-ingat barangkali ada perbuatanku yang membuatnya marah atau kecewa. Tapi aku rasa tak ada satu hal pun yang janggal.
“Kau kenapa?” tanyaku sambil memegang tangannya. Ia tak enjawab. Pasti ada yang tidak beres pikirku. Sepuluh menit kemudian kami masih terdiam. Moccacino yang kupesankan untuknya utuh tak tersentuh menjadi dingin. Sedingin sikapnya kepadaku. Aku mencoba mengusir kebosanan dengan memainkan telpon genggamku sembari sesekali melirik kearah Vita. Ia nampak bingung, seperti mengawang-awang. Aku pun ta berusaha memecahkan keheningan ini, hanya menunggu beberapa kata yang akan meluncur dari bibir mungilnya yang dilapisi tipis lipstik merah muda.
“Rasanya kita udah nggak cocok deh. Putus nampaknya lebih baik” ujar Vita mengagetkanku, ia memalingkan mukanya.
“Ada yang salah?” bentakku, otot leherku menegang. Aku sangat tidak suka dia berbicara seperti ini. Sangat tidak lucu.
“Tidak. Tapi perasaanku sudah memudar. Toh kita juga gini-gini aja.” Vita tak berani menatap mataku.
“Terus apa? Aku salah apa? Ada yang kurang atau apa? Ini nggak jelas” bantahku
“Kau tak salah, Ricky. Tapi kau tahu kan, ada saat dimana hubugan itu nggak bisa dilanjutkan.”
Aku muak sekarang. Pasti ada orang lain. Dan jelas dia berkhianat. Aku tak habis pikir. Percuma aku berdebat dengannya kalau nyatanya di memang mau benar-benar pergi. Damn shit! Akhirnya, serta merta kutinggalkan Vita yang sedang berusaha merangkai kata-kata. Tak ada gunanya juga kan?
Sesampainya dirumah, Ricky membanting pintu kamarnya. Ia meninju-ninju tembok, mencoba melampiaskan amarahnya. Malam itu, ia telah merasa kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi.
0 komentar