Up to you

April 02, 2010














Lady Gaga – The Fame Monster
Has an album title ever been so self-prophetic? In its first year, this electropop opus rocketed Lady Gaga from unknown New York lounge singer to the world’s biggest pop star this side of Britney Spears. The Fame’s brand of pop is shamelessly decadent: 11 of its 13 songs are about money, celebrity, sex, clubbing, or a sticky combination of all four. It’s insipid subject matter, unless you consider Gaga as less of a silly, manufactured blonde than an ingenious artist playing the part of a glitzy pop star. Witness The Fame’s impeccably sleek opening songs, from the carelessly rambling chorus of “Just Dance” to the snappy, futuristic beat of “LoveGame”: Gaga’s got the outrageous outfits and dance moves down to a science, but underneath it all, the music is aggressive and authoritarian in ways that most other Top 40 tunes are not. Often compared to Gwen Stefani’s, Gaga’s vocals are in fact richer and rounder, allowing her a certain stylistic versatility, and her personae alternate from wild party kid to vulnerable lover. Some of the risks don’t always pay off, but the Lady Gaga of the dark and ardent megahit “Poker Face” prevails. She is commandeering enough, bizarre and beguiling enough, to ensure that she’ll be basking in our attention for a very long time.
--Erin Thompson

Hehe, susah banget yang Bhs. Inggrisnya ? Aku aja bingung..
Trus maksudnya apa masuk-masukin komentar orang, hihi.
Gini, selera orang berbeda-beda. Yaah, mungkin ada yang suka Muse, Wali, T2, Slank, Lady Gaga dan yang lain-lain, setiap orang pasti punya idola yang beda-beda dan itu hak mereka, mereka pasti juga punya alasan kenapa mereka suka sama idolanya tsb. Contohnya gue, yang lagi ngefans sama Sherina. Finda bilang, Sherina biasa aja, tapi itu kata Finda, aku jelas punya alasan kenapa mengagumi orang seperti dia –seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya- Gak munafik, kadang-kadang aku dan temen-temenku juga suka menghina-hina band-band seperti Kangen, ST12 dll. Padahal gak bisa dipungkiri, melalui hasil RBTnya, yaah mereka tergolong sangat laris, untuk orang-orang seperti aku, aku bilangnya “hah? yakin? kayak gaada lagu yang lebih bagus buat dijadiin nada sambung aja, ‘mbrebeki’ kuping ae” Tapi faktanya seperti itu, itu berarti di luar sana mereka punya banyak penggemar doong, salut juga harusnya.
Trus maksudnya nulis-nulis kaya gini apaan juga ?? hehe.
Aku akhir-akhir ini heran.,
Kenapa orang-orang (included me) semakin lama semakin sulit untuk menghargai perbedaan. Kalau ada si A yang suka sama Selena Gomez, ada si B yang suka sama Julia Perez , atau si D yang suka ST12 dan si C yang suka PEWEE GASKINS, yah suka-suka mereka kan ? Itu hak mereka, dan sebenarnya kita nggak patut nge-judge idola-idola mereka seenak udel kita –walau dengan alasan ‘kebebasan mengungkapkan pendapat’-. Emang kita bisa apa? bikin lagu, laris dipasaran, yang sampe- sampe ngalahin band papan atas, dan membuat semua orang terheran-heran dengan kehebatan karya kita? Mungkin belum kan ?
Jadi yaa, hargailah karya orang lain, gitu…
Mungkin diam-diam kita juga ikut nyanyiin lagu-lagu seperti “Yank”, “Doi” “, “Buka Hatimu” dan sejenisnya itu di kamar mandi, dari benci kadang bisa jadi cinta, hehe, siapa tahu ?

I don’t know, why I suddenly writing my uinmportant opinion which, maybe make you as the reader tercengang-cengang dan berkata “gejeeeeeeeee”. I’m sorry bro, maybe we must to try to be more unselfish, wise, and yeah menghargai perbedaan. Mengingat kita hidup di negara yang kaya dengan berbagai macam ras dan budaya, kita tentunya tak ingin mendengar kata-kata yang seperti :
“Alaaah, mahasiswa Makassar kerjanya anarkis muluuu, amit-amit”
“Dasar orang Sunda, makan aja rakus sampe-sampe pete dimakan gitu”
“Gak bisa sabar dikit ta, dasar orang Madura!”
“Kasar banget deh, emang deh Batak abis”
“Tai, ngomong aja ribet banget, dasar Jowo”
mengutip kata Sherina, idola saya :
“Contoh yang saya buat bukan untuk sembarang menaruh kata-kata kasar ya mbak/mas.
Ini adalah refleksi yang sering terjadi di kalangan Indonesia sendiri. Mengatai daerah lain. Menjelekkan adat dan kebiasaan ras lain. Padahal kita sama. Sama-sama manusia. Toleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil telah dilupakan dan perbedaan tersebut dilebih-lebihkan. Bukan fokus terhadap pembangungan diri sendiri, (golongan sendiri), kita malah musingin dan menjelekkan sana sini. Itulah yang saya maksud: melupakan tanggung jawab hidup sebagai manusia.”

Geje ya aku nulis-nulis kaya gini, hehe. Cuma pendapat azaa, namanya manusia tentu banyak kurangnya dan kita harus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.. Btw, kalau anda heran kenapa postingan saya bisa banyak sekaligus dalam sehari ini, haha, dari selesai Unas kemarin, I can not stop to write, all thing in my mind I suddenly rewrite it on my computer and I save in my “rent a car” document (my Ms. Word diary document). Happy writing, awawawaw :D Any comments please ??

*hehe, lebay banget deh kaya-kaya udah banyak aja pembaca blog*
Udah ah, maaf ya kalau ada kata-kata yang kurang berkenan..
Hargai perbedaan pendapat, mungkin dari sini kita bisa menjadi lebih baik.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe