Perjalanan ke Lombok telah lama saya rencanakan bersama Ve.
Akhirnya, kami berangkat pada minggu terakhir liburan semester ganjil. Liburan
tersebut baru benar-benar terasa seperti liburan mengingat tiga minggu
sebelumnya hari-hari saya diisi dengan magang di Jawa Pos. Dua belas jam di
lapangan dan kantor perharinya cukup menyita banyak energi, untungnya Ve
berbaik hati menyiapkan hampir segala sesuatu untuk perjalanan kami. Dia
mencari-cari banyak informasi, memesan penginapan, hingga menyusun itinerary.
Salah satu hal yang menarik di Gili Trawangan adalah keberadaan dua masjid yang cukup besar. Walau bar ada di mana-mana, suara adzan dan shalawat tetap terdengar nyaring setiap kali memasuki waktu sholat. Kalau tidak salah memang basis Islam cukup kuat di Lombok. Bahkan Lombok dijuluki sebagai Negeri 1001 Masjid.
Pulau Gili Trawangan menjadi tujuan pertama kami. Banyak
orang-orang mengidentikan Pulau Gili untuk menggambarkan keseluruhan Lombok.
“Mau ke mana ke Lombok? Ya ke Gili!”. Saya pun begitu pada awalnya. Bahkan, saya
membayangkan perjalanan kami akan sepenuhnya dihabiskan dengan bermalas-malasan
dan ber-contemplating di Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Ve, yang nggak
mau rugi dengan perjalanan pertamanya, langsung tidak setuju. In the
end it was a good choice.
Separuh dari perjalanan ke Gili cukup terakses dengan baik
dengan keberadaan Bus Damri dari Lombok International Airport. Sialnya,
setengah perjalanan kemudian cukup menyesatkan. Itenerary yang dibuat Ve
mencatat bahwa kami seharusnya turun di Terminal Rembiga, daerah bekas Bandara
Selaparang. Tapi setelah memastikan kepada supir bis, ia mengatakan jika kami
bisa turun di Pantai Senggigi. Kami iyakan saja karena memang informasi di
internet banyak juga yang merekomendasikan seperti itu.
Eh tahunya, kami justru merasa dijebak. Bis berhenti di
daerah Senggigi. Supir itu langsung memperkenalkan kami dan dua penumpang yang
tersisa kepada seorang temannya. Mereka menawarkan untuk mengantarkan kami
berempat ke Pelabuhan Bangsal dengan ongkos lima puluh ribu per orang. Dua orang
yang bersekongkol itu menyakinkan kami jika tidak ada angkutan umum dari
Sengigi ke pelabuhan. Kami melipir dan masih bersikukuh ingin naik angkutan
umum seperti review perjalanan yang sudah kami baca. Berpanas-panasan, kami
berjalan menjauhi mereka dan mencegat kendaraan yang terlihat seperti angkutan
umum. Eh ternyata, memang tidak ada angkutan umum yang menuju Pelabuhan
Bangsal. Maksimal, angkutan umum tersebut hanya sampai daerah
Malimbu. Akhirnya, kami mencarter sebuah angkutan umum dengan biaya tujuh puluh
ribu untuk dua orang.
Jadi sepertinya, jika ingin ke Gili dengan lebih mudah,
kalian bisa turun di Rembiga karena ada angkutan umum menuju pelabuhan seharga
lima belas ribu saja. Saya belum tahu pemandangan seperti apa yang bisa dilihat
sepanjang perjalanan dari Rembiga ke pelabuhan. Sementara itu, kami kemarin
disuguhi pemandangan bibir Pantai Senggigi dan Malimbu karena jalurnya memang
berada di tepian pantai yang diselingi dengan hijaunya pepohonan. Jalan yang kami lalui sangat sepi. Diam-diam kami khawatir dan berharap supir mengantarkan kami dengan selamat sampai tujuan. Perjalanan
tersebut membutuhkan waktu satu setengah jam.
Singkat kata, setelah sampai di penginapan yang telah dipesan, kami kemudian mulai menjelajahi pulau dengan berjalan
kaki. Ambiens Pulau Gili Trawangan memang benar-benar terasa seperti surganya
pesta. Di sebelah kanan dan kiri jalan, ada banyak bar yang bisa dikunjungi.
Waktu kami berjalan-jalan, saya dan Ve justru merasa menjadi orang asing karena
mayoritas pengunjung di Gili Trawangan adalah turis mancanegara.
Setelah berjalan kaki cukup jauh, kami menemukan satu spot
pantai di balik pepohonan. Waktu itu cuaca mendung namun matahari terasa cukup terik. Laut memancarkan warna biru tosca yang indah. Sementara turis-turis
lain berenang leluasa dengan bikininya, kami tidur-tiduran di pinggir pantai
sambil mendengarkan Coldplay.
Walaupun sudah tidak sabar ingin nyebur, kami memutuskan untuk kembali jalan kaki menyusuri pulau dan mencari bar yang cukup nyaman untuk menyaksikan sunset.
Walaupun sudah tidak sabar ingin nyebur, kami memutuskan untuk kembali jalan kaki menyusuri pulau dan mencari bar yang cukup nyaman untuk menyaksikan sunset.
Salah satu hal yang menarik di Gili Trawangan adalah keberadaan dua masjid yang cukup besar. Walau bar ada di mana-mana, suara adzan dan shalawat tetap terdengar nyaring setiap kali memasuki waktu sholat. Kalau tidak salah memang basis Islam cukup kuat di Lombok. Bahkan Lombok dijuluki sebagai Negeri 1001 Masjid.
Makan malam di Gili Trawangan sungguh menguji keimanan
dompet. Saya dan Ve makan di Pasar Malam yang tak jauh dari penginapan. Di sana
berjajar lobster dan ikan-ikan segar yang sungguh menggoda. Penjual nasi campur tak kalah ramai diserbu oleh para bule. Di salah satu sisi juga ada stan
yang menjual berbagai macam cake. Pada akhirnya, kami harus puas makan lalapan
ayam seharga dua puluh lima ribu rupiah. Beruntunglah ayamnya cukup besar,
porsi nasinya banyak, dan kami dapat bonus satu iris tahu. Setelah kenyang,
kami berjalan-jalan lagi. Eh, ternyata kami menemukan sebuah restoran yang cukup
bagus dengan menu pasta dan pizza serba dua puluh lima ribu! Sayang sekali,
perut kami telah terisi :’)
Sembari mencari paket snorkeling untuk keesokan harinya,
saya menemukan satu toko yang memajang buku-buku! Buku-buku bekas tersebut
tentu merupakan hasil tukar, jual dan beli dari para turis. Mayoritas turis
mancanegara memang suka membaca, terbukti seluruh buku yang dipajang di rak
berbahasa Inggris. Ada pula beberapa bahasa lain yang saya tidak tahu. Anyway,
koleksi Sophie Kinsella mereka cukup banyak. Menyenangkan sekali (melihatnya).
Setelah lelah berjalan kami duduk-duduk di pantai, menikmati debur ombak malam. Begitu kami mengadahkan kepala ke atas, bintang-bintang bertaburan seperti bedak. Indah dan damai sekali rasanya :’)
Setelah lelah berjalan kami duduk-duduk di pantai, menikmati debur ombak malam. Begitu kami mengadahkan kepala ke atas, bintang-bintang bertaburan seperti bedak. Indah dan damai sekali rasanya :’)
(to be continue)




















