Singapore has been a really nice place to visit. I could say, it’s
totally worth visiting. All you have to do is save your money and look around
for tickets promo! Since Singapore has impressed me with wonderful and joyful experiences,
I would like to share some 28 travel tips --or whatever you may call it. Enjoy!
Beberapa tahun lalu, saya berjanji bahwa
saya harus mengunjungi Sea Aquarium ketika pergi ke Singapura suatu hari nanti.
And yeah, Sea Aquarium was amazing!
Hari
kedua di Singapura saya dedikasikan penuh untuk berjalan-jalan. Pada hari itu
juga saya berhasil mengunjungi Sea Aquarium, yeah! Sedari dulu, saya sudah
berjanji kepada diri sendiri bahwa saya harus mengunjungi Sea Aquarium ketika
ada kesempatan berlibur ke Singapura. I don’t know why, all I know is I have
to!
Ketika
tiket pesawat sudah ada di tangan, hal yang saya cari selanjutnya adalah tiket masuk
Sea Aquarium di Pulau Sentosa. Setelah browsing sana-sini, akhirnya saya berhasil
mendapatkan e-tiket Sea Aquarium dengan harga $22. Jauh lebih murah $12 dari
harga loket yang dipatok $38 untuk wisatawan. Oleh sebab itu, jika kalian berencana
mengunjungi Sea Aquarium atau attraction lain di Pulau Sentosa sebaiknya beli
tiket secara online saja. Selain lebih murah, kita pun bisa langsung masuk
dengan menunjukan e-tiket tanpa perlu mengantri di loket.
Transport
menuju Pulau Sentosa, seperti halnya transportasi di seluruh Singapura, sangat
mudah diakses. Kalian bisa menggunakan kereta MRT north east line atau circle
line menuju Harbourfront Station. Nah, Harbourfront Station ini semacam tempat
transit untuk menuju ke Pulau Sentosa. Ada empat macam cara untuk menuju Pulau
Sentosa, yaitu dengan menggunakan cable car ($24), Sentosa Express ($4), bus
($2 pulang-pergi), atau Sentosa Broadwalk ($1). Karena ingin yang (lumayan) cepat
dan murah, saya memilih untuk naik bus. Bus RWS8 menuju Pulau Sentosa bisa
diakses dari bus stop di depan Vivo City Mall.
Nah,
setelah benar-benar masuk ke dalam Sea Aquarium, atraksi pertama yang saya
kunjungi adalah typhoon theatre. Saya menyaksikan film tentang perjalanan kapal
yang menghadapi badai di tengah lautan. Di akhir film, kapal tersebut akhirnya
tenggelam. Penonton di dalam studio pun bisa merasakan sensasi “ikut tenggelam”
karena area tempat duduk digerakkan turun ke dasar ruangan. Dinding-dinding
ruangan dihias sedemikian rupa sehingga kami seolah-olah sedang tenggelam ke
dasar lautan. Begitu keluar dari ruangan teater, saya terkejut karena akuarium
pertama yang saya lihat dihiasi dengan bangkai kapal karam! Emezyeng.