Cok!
Kata-kata kota kita yang satu ini pasti udah nggak asing
wira-wiri di telinga kita, ya kan? Kalau boleh dibilang sih, kata ‘Jancok’ (atau dikenal juga dengan jancuk) ini
udah jadi kayak bahasa sehari-hari yang pasti dapat kita temui di seluruh
pelosok Surabaya.
Ketika kita masih kecil, mungkin kata Jancok sering kita
identifikasikan sebagai kata-kata yang kasar, jelek, dan tidak pantas jika
diiucapkan. Tak jarang, ketika itu kalau ada teman yang mengucapkan kata
tersebut, kita sering bergidik ngeri
sendiri. Tapi seiring dengan bertambahnya usia kita, apalagi ketika beranjak
pada fase ‘nakal-nakalnya’ di SMA, kita seakan-akan sudah bisa menerima
kata-kata ini dengan santai. Apalagi untuk teman-teman yang cowok nih, uh,
seakan-akan Jancok udah jadi kata yang sadar – nggak disadari, menjadi
celetukan wajib di setiap percakapan, dan justru... membuat suasana percakapan
menjadi semakin akrab.
![]() |
| source |
Ada beberapa versi bagaimana kata Jancok ini terlahir
ditengah-tengah masyarakat Surabaya:
Yang pertama dari versi kedatangan pedagang Arab, katanya
sih Jancok berasal dari kata Da’Suk. Da’ artinya meninggalkanlah kamu, dan Assyu’a
artinya kejelekan, jadi kurang lebih artinya Da’Suk = tinggalkanlah keburukan.
Kata ini kemudia melebur dalam logat arek-arek Suroboyo dengan lafal Jancok.







